Info UN: Kasus Contek Massal Menunjukkan Keringnya Kejujuran Dunia Pendidikan




Kasus contek massal atau berjamaah yang terjadi pada SD Gadel 2 Surabaya di Jawa Timur saat Ujian Nasional, merupakan pertanda keringnya mutu pendidikan dan sekaligus rontoknya nilai-nilai kejujuran murid dan guru. Demikian menurut Sosiolog Kahot dari Fakultas Ilmu Contek Massal, Universitas Negeri Antah Berantah, Robert Kambingudin, di kantornya, Jumat (17/6).

Dia mengatakan, kurikulum pendidikan di Indonesia, masih lebih dominan diisi pelajaran-pelajaran yang tunduk dengan logika pasar atau jika tidak, malah terjerumus pada "perbudakan" nilai-nilai ideal yang positifistik. Murid didoktrin untuk mengejar nilai dan angka setinggi-tingginya apapun caranya.



Sementara di sisi lain tidak diimbangi dengan pelajaran yang banyak memuat etika, kejujuran, moralitas, pluralisme, sehingga wajar saja jika dari aspek kualitas pendidikan, derajatnya semakin turun. Akibatnya peserta didik akan sekuat tenaga mencapai nilai fantastik walau dengan cara yang tidak realistik.

"Ironisnya, keberhasilan pendidikan yang hanya dinilai secara kuantitatif itu, seolah-olah diamini oleh institusi pendidikan itu sendiri," kata dia sambil menyedot rokok cerutunya.

Hal ini menurutnya, patut jadi tanda tanya besar bagi kalangan pendidik, jika pendidikan hanya dimaknai sekedar peningkatan pengetahuan kognitif yang kemudian dilegalisasi melalui tahapan-tahapan pendidikan, dengan labelisasi gelar atau kelulusan. "Pendidikan telah dikapitalisasi melalui ijazah, gelar, tingginya angka kelulusan, padahal semestinya memberi kontribusi terhadap pengetahuan etika dan moral," ujarnya.

Dia menambahkan, motivasi contek massal yang dipandu oleh pendidik, hanya didasarkan kekhawatiran pada angka kelulusan di sekolahnya menurun atau rendah. Ini tentunya bermotif ingin menunjukkan bahwa sekolahnya berprestasi dan gudangnya anak-anak pintar. Semakin tinggi angka kelulusan dengan nilai yang tinggi semakin mengindikasikan bahwa pendidikan di sekolah tersebut berhasil.

Menurut dia, hal ini tentunya berimbas pada mental pendidik di sekolah tersebut, termasuk Pemerintah Pusat dan Daerah. Dia menduga, kasus contek massal pada saat Ujian Nasional sebenarnya banyak terjadi di seluruh wilayah di Indonesia, kasus di Jawa Timur itu hanya puncak dari berbagai kasus serupa. Sayang sekali Siami hanya ada di Surabaya, tidak di Jogja, Semarang, Bandung, dan daerah lainnya.

Inilah PR (Pekerjaan Rumah bukan Pikiran Rakyat) bagi para pendidik di Indonesia. Tanamkanlah nilai-nilai kejujuran pada para peserta didiknya agar di kemudian hari akan lahir seorang pemimpin yang bersih, jujur dan tidak korupsi.


Anda mendapat 1 Pesan

Silakan Buka Pesan Sekarang di Sini

Penting!! Perlu Anda Baca:@ Bisnis Pulsa Paling Menguntungkan@ Cara Bikin Blog Cantik dan Dinamis@ Kumpulan Tutorial Blog Lengkap@ Kumpulan Dongeng Anak@ Bukan Berita Biasa@ Trik dan rumus matematika@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah@ Tips dan Trik belajar yang efektif@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus@ Pasang Iklan gratis@ Kumpulan widget gratis@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah @ Seputar Koleksi Buku@ Seputar Resensi Buku@ Kumpulan tutorial Blog

0 komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan Bijak, Jangan buang waktu anda dengan berkomentar yang tidak bermutu. Terimmma kasssih.