Aneka Perlengkapan Sholat

Izzah Store menjual aneka Perlengkapan Sholat, seperti Mukena, Sajadah, Sarung, Peci, dll tersedia untuk anak dan dewasa

Aneka Parfum Alrehab

Izzah Store menjual parfum Alrehab original Jeddah Arab Saudi dengan berbagai varian aroma, seperti Soft, Lovely, Dalal, Fruit, Kholiji, Blanc, Sabaya, Aseel, Tooty Musk, dll

Aneka Pelengkapan Sholat untuk Anak

Izzah Store menjual aneka Perlengkapan Sholat, seperti Mukena, Sajadah, Sarung, Peci, dll tersedia untuk anak dan dewasa

Mari Membaca Alquran

Mari kita membaca Alquran, karena di Hari Kiamat nanti Alquran akan memberi syafaat kepada siapa saja yang gemar membacanya apalagi menghafalnya. Bacalah secara tartil dan perlahan-lahan. Jangan lewatkan hari-hari anda tanpa membaca Alquran..

Kumpulan Dongeng Anak

Anda hobi membaca dongeng-dongeng anak, di sini anda akan menemukannya. Mulai dari dongeng si kancil, si belalang, si kerbau, si kambing dan sebagainya. Cobalah dongengkan kepada buah hati anda menjelang tidur agar anak menjadi cerdas dan pandai bertutur.

Kumpulan Cerita Pendek

Anda penggemar Cerita Pendek atau Cerita panjang, di sini disajikan beberapa cerita islami yang sarat dengan pelajaran kehidupan. Cerita yang kadang memberi inspirasi kita dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.

Kisah Humor para Sufi

Anda kenal tokoh-tokoh sufi zaman dulu, di sini kami sajikan banyak sekali kisah-kisah lucu dan cerdik tokoh sufi dari Zaman dulu itu. Kisah kocak yang kadang menyindir diri kita yang membacanya.

Kisah Abu Nawas

Anda kenal Abunawas atau Nasrudin Hoja, di sini kami sajikan banyak sekali kisah-kisah lucu dan cerdik tokoh dari Zaman dulu itu. Kisah kocak yang kadang menyindir diri kita yang membacanya.

Cintailah Allah Melebihi Segalanya

Seberapa besar cinta kita kepada Allah, silakan tanya pada diri sendiri. Kita kadang lebih menghargai atasan kita daripada mendahulukan Allah. Sholat kadang ditunda ketika kita diundang oleh boss kita. Sholat kadang ditinggalkan karena asyik nonton Final Sepak Bola di televisi.

Aneka Sirwal dan baju gamis

Izzah Store Menjual aneka Sirwal dan gamis serta Jubah seperti Atasan Pakistan, Jubah Arab, Gamis Yaman, dll Juga Menyediakan baju Koko

Aneka Accessories

Izzah Store Menjual aneka Acessories seperti Sabuk Bonceng Anak, Sepatu Boots, Sorban, Siwak, dll

Aneka Gamis Pakistan dan Jubah Arab

Izzah Store Menjual aneka gamis dan Jubah seperti Atasan Pakistan, Jubah Arab, Gamis Yaman, dll Juga Menyediakan baju Koko

Aneka Sirwal, Celana Pangsi dan Cingkrang

Izzah Store Menjual aneka celana sirwal dan baju pangsi khas Sunda. Ada Sirwal biasa, Sirwal Loreng, Sirwal Boxer, Sirwal 3/4, dll

Keranda Kendaraan Masa Depan

Inilah yang namanya KERANDA yaitu kendaraan istimewa tanpa bensin (karena harganya selalu naik) yang. akan membawa kita ke tempat peristirahatan terakhir. Kendaraan sederhana tanpa AC, tanpa Pemutar Musik, dan akan berjalan dengan digotong kerabat kita.

Mari Mengingat Kematian

Berapapun lamanya kita hidup di dunia suatu saat nanti pasti akan berakhir. Dan akhir dari kehidupan dunia adalah datangnya kematian. Suka atau tidak suka kita akan tetap menemuinya. Oleh karena itu ingatlah selalu akan pemutus kenikmatan dunia yaitu MATI.

Showing posts with label blog Pacinan. Show all posts
Showing posts with label blog Pacinan. Show all posts

Kisah Pendek: Disiplin dalam Islam Membawa Kebahagiaan Sejati

Ternyata ia salah sangka, agama yang awalnya dikira ajaran teror, ternyata adalah jalan menuju Sang Pencipta yang sejak kecil ia cari dan yakini

Dawood Kinney adalah seorang pria dari keluarga Katolik. Sejak kecil ia meyakini adanya Tuhan, tapi ketika dewasa dan melewati titik rendah dalam hidupnya, gereja Katolik justru menolaknya kembali. Berikut kisah perjalanannya mencari Tuhan.

Mengenang lagi masa kecil dulu, saya selalu terkagum-kagum dengan alam semesta tempat kita hidup ini; bagaimana semuanya berjalan dengan sangat sempurna. Saya sering berbaring di halaman rumput depan rumah. Memandang bintang-bintang, membayangkan betapa besarnya luas alam ini. Saya juga selalu terpesona melihat tubuh manusia yang bisa bekerja sendiri. Detak jantung, paru-paru mengembang dan mengempis tanpa bantuan saya sama sekali. Dan sejak dulu pula, saya telah merasa bahwa ada "pencipta" dari semuanya ini.

Namun ketika beranjak remaja, saya mulai terbawa arus kehidupan. Sangat mudah bagi saya terjerembab ke suatu kebiasaan buruk demi untuk mengatasi tekanan-tekanan hidup. Ketertarikan akan Tuhan mulai hilang, dan saya hanya menghabiskan waktu untuk sekolah, seks, dan permainan kanak-kanak yang biasa dilakukan para pemuda Amerika yang sedang tumbuh.

Memasuki masa dewasa, obsesi saya berubah menjadi seputar uang, jabatan, tempat tinggal yang lebih bagus, mobil yang lebih cepat, dan kekasih yang lebih cantik. Semuanya merupakan tujuan rendahan.

Saya menjalani hidup dengan obsesi itu selama beberapa tahun dan perlahan tapi pasti mulai kehilangan kontrol atas hidup. Saya pikir saya sedang mengejar kebahagiaan. Padahal saya justru semakin tertekan, semakin bingung, dan melakukan lebih banyak lagi kekacauan dalam hidup.

Sampai pada satu titik, hidup saya berputar-putar saja seperti spiral, dan terus turun, hingga akhirnya hancur.

Saya lantas segera kembali kepada Tuhan. Karena dulu dibesarkan dalam keluarga Katolik, maka saya segera kembali mendatangi gereja. Saat itu saya telah bercerai dan menikah kembali. Namun ternyata, gereja tidak lagi mau menerima saya.

Oleh karena saya membutuhkan Tuhan dalam hidup ini, maka saya lantas berpaling kepada agama Budha.

Saya mengikuti agama Budha yang memiliki akar tradisi Tibet, yang lebih menekankan pada pemberdayaan dengan mencari berkah dari banyak Budha. Namun saya merasa justru tidak membuat diri ini lebih baik, karena hanya berputar-putar mencari kekuatan iman dengan melakukan berbagai macam ritual.

Tiba-tiba saya teringat pesan Budha yang terakhir kali ia ucapkan sebelum meninggal, yaitu jangan menyembah dirinya. Akhirnya saya sadar, bahwa dasar ajaran persembahyangan yang dilakukan selama ini bukan hanya menyembah Sang Budha, tapi juga menyembah budha-budha lainnya.

Putus asa, maka saya pun kembali kepada kebiasaan lama, bergaul dengan alkohol dan kesenangan-kesenangan buruk lainnya. Dan sekali lagi, saya begitu tertekan. Namun kali ini, ada efek emosional di mana saya menjadi begitu sangat ketakutan dan merusak diri sendiri.

Ketika muda, saya sangat menyenangi musik-musik Cat Steven (Yusuf Islam). Ketika mendengar ia masuk Islam, saya sedang bertugas di Angkatan Laut dan terjebak dalam suasana genting di Iran. Oleh karena itu, saya lantas menyimpulkan bahwa Cat Steven telah menjadi seorang teroris. Dan saya meyakini hal itu selama beberapa tahun ke depan.

Sekitar awal tahun 2006, Dawood Kinney kembali mendengar berita tentang Yusuf Islam. Namun kali itu berbeda nuansanya.

Saya mendengar ia akan diwawancarai di televisi. Saya ingin mendengar tentang orang gila ini, yang meninggalkan kehidupan yang hebat dan memilih menjadi seorang teroris.

Harus saya akui, bahwa saya terhanyut dengan wawancara tersebut. Karena ia ternyata bukan teroris, melainkan orang yang lembut tutur bahasanya, jelas ucapannya. Seorang pria damai yang memancarkan kasih sayang dan kesabaran, serta kecerdasan.

Esok harinya saya langsung mencari tahu tentang Islam di internet. Saya mendapati sebuah rekaman ceramah dalam bentuk RealAudio yang disampaikan oleh Khaled Yasin. Ceramahnya itu membuat saya semangat kembali.

Pertama adalah saudara Khaled yang sangat berjasa bagi saya. Berdua dengan saudara Yusuf (Cat Steven), keduanya benar-benar berbicara (tentang Islam) kepada kami yang tidak dibesarkan dalam lingkungan Muslim. Semuanya sangat mudah diterima akal, tentang keberadaan Tuhan sangat mudah untuk dipahami. Mengapa saya bisa begitu bodoh selama ini?!

Semakin saya belajar, semakin saya yakin bahwa inilah jalan yang tepat untuk saya lalui, yang selama ini saya cari. Islam mengajarkan tentang disiplin, baik fisik, mental dan spiritual, yang bisa membawa kepada kebahagiaan sejati. Tapi yang lebih penting adalah, ia merupakan jalan untuk menuju Allah.

Pengalaman mengucapkan dua kalimat syahadat, rasanya seperti membersihkan diri dari segala apa yang telah saya perbuat selama ini. Dan sejak itu, saya menjadi sering menangis, menangis, dan menangis. Sangat menakjubkan!

Saya mendapatkan ucapan selamat dan sambutan yang hangat dari semua saudara sesama Muslim laki-laki dan perempuan dari seluruh dunia. Saya sangat menikmatinya, mengetahui bahwa--tanpa memperdulikan masa lalu yang kelam--saya benar-benar dikelilingi oleh keluarga saya sesama Muslim, yang tidak akan pernah menelantarkan diri ini, selama saya tetap menjadi Muslim. Tidak ada satu pun kelompok orang yang pernah memperlakukan saya seperti ini.

Jalan saya masih panjang dan penuh tantangan. Menerima Islam adalah satu bagian yang mudah, tapi meniti jalan yang lurus adalah bagian yang berat, khususnya bagi orang yang hidup di dalam masyarakat yang tidak beriman. Tapi, saya berdoa kepada Allah, memohon kekuatan dan petunjuk. Dan setiap hari, sedikit demi sedikit, saya berusaha meningkatkan kualitas keislaman saya.


Artikel lainnya:

Bahaya Perbuatan Dholim


Allah Ta’ala berfirman: “Maka Kami hukumkah Fir’aun dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam lautan. Maka lihatlah bagaimana akibat (buruk) orang-orang yang dzolim”. (Q.s, Al Qashash /28:40).

Sudah menjadi ketentuan-Nya, bahwa sejarah umat manusia tidak lepas dari berbagai tindak kedholiman. Dari dulu hingga hari ini. Yakni jauh sebelum semburat cahaya Islam muncul, yang kemudian disusul setelah umat Islam mundur dan runtuh. Dan selalu saja kaum yang menjadi korban bulan-bulanan kedholiman tersebut adalah mereka yang lemah dan miskin.

Sejarah silam bangsa Persia, Romawi, Cina, Mesir, India dan bangsa-bangsa tua lainnya, sarat dengan tumpukan lembaran-lembaran kelam kedholiman, kebengisan dan kelaliman. Hal tersebut lantaran dilatari oleh kebiasaan mereka hidup mewah, menumpuk pundi-pundi harta dan berfoya-foya. Disamping aturan dan undang-undang dholim yang dikukuhkan sebagai pemuas hawa nafsu dan selera rendah penguasa. Karenanya, mereka tidak merasa malu menjerat leher rakyat jajahan dengan upeti dan pajak yang jauh dari batas kesanggupan.

Dalam buku sejarah Persia, sebagaimana dinukil oleh Syaikh Abul Hasan Ali al-Nadwi dalam bukunya Madza Khasiral al-Alam bi al-Inkhithat al-Muslimin disebutkan, tidak pernah disinggung dalam sejarah seorang kaisar yang selalu hidup megah dan mewah melebihi kaisar-kaisar penguasa Persia. Mereka menarik dan menikmati upeti dan harta kekayaan melimpah dari negeri-negeri jajahan yang terbentang dari timur jauh hingga timur dekat.

Islam dan perbuatan dholim
Sejak awal, Islam datang menyeru umat manusia untuk lepas dari kungkungan kedzoliman dan kelaliman. Menyerukan persamaan derajat manusia di muka bumi ini, serta merubuhkan seluruh warisan-warisan jahiliyah yang identik dengan kedholiman. Tak ada lagi kesewenang-wenangan kaum yang kuat, kelaliman penguasa serta kebengisan golongan yang terpandang. Karenanya, tidak heran kalau dalam waktu yang relatif sangat singkat, Islam mendapat tempat istimewa di hati manusia. Khususnya mereka yang lemah dan tertindas.

Hal ini tergambar dari ucapan seorang Rib’iy bin Amir tatkala berdiri gagah di hadapan panglima tentara Persia, Rustum,

“Sungguh Allah Ta’ala mengutus kami untuk membebaskan manusia dari penghambaan kepada sesama menuju penghambaan hanya kepada Allah, melepaskan lilitan belenggu kesempitan dunia menuju kebebasan, serta mengeluarkan mereka dari kezaliman agama-agama menuju keadilan Islam”. (Lihat: al-Bidayah Wa al-Nihayah, Ibnu Katsir, 7/47).

Sebuah pernyataan jujur, lahir dari hati ksatria yang tulus, hingga tetap membekas sekalipun kesombongan dan kecongkakan berupaya mencegatnya.

Ketahuilah, harta, darah dan kehormatan seorang muslim haram atas muslim yang lain. Dalam konteks apapun, tidak dibenarkan merampas harta, menumpahkan darah atau mencemarkan kehormatan seorang muslim kecuali dengan alasan kebenaran. Ini dipertegas oleh Sabda Rasulullah SAW ketika haji wada’ (perpisahan):

“Sesungguhnya darah, harta dan kehormatan kalian haram (untuk ditumpahkan, dirampas dan dicemarkan), seperti haramnya hari kalian ini, di negeri ini (makkah), dan bulan kalian ini”. (HR. Imam Bukhari no: 65, Muslim no: 2137, Abu Daud no: 1628, al-Tirmidzi no: 2085Ibnu Majah no: 3046).

Olehnya, syariat Islam yang agaung memberi perhatian besar terhadap perkara-perkara tersebut. Setelah sebelumnya keadilan berada di titik nadir kehancuran. Misalnya, menindak tegas pembunuh jiwa yang suci (qishash), menghukum dengan sekeras-kerasnya para penyamun (Qs. 5:33), serta menegakkan hukum cambuk bagi orang yang suka menuduh tanpa bukti dan saksi yang dapat dipertanggung jawabkan. (Qs. 24:4).

Hati-hati berlaku dholim kendatipun terhadap orang fajir
Ketahuilah, perbuatan dholim tidak akan pernah membuahkan kebaikan di dunia maupun di akhirat. Sebaliknya, segala sesuatu yang diperoleh melalui jalan kedholiman baik itu berupa harta, pangkat, jabatan dan lainnya, pasti akan berujung kebinasaan dan kehinaan. Olehnya hati-hati berlaku dholim, karena ia akan menelurkan banyak mudharat bagi pelakunya, di antaranya:

Pertama: Dholim adalah kegelapan pada hari kiamat.

Dari Jabir bin Abdullah, bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Takutlah kalian dari berlaku dholim, sesungguhnya kedholiman adalah kegelapan pada hari kiamat kelak”. (HR. Muslim no: 4675, Ahmad no: 13973).

Artinya, sikap dholim akan memadamkan cahaya penuntun yang dibutuhkan seorang hamba pada hari itu. Allah Ta’ala mengabarkan keadaan orang-orang munafik yang dholim terhadap diri mereka sendiri ketika terusir dari keinginan mendapat imbasan cahaya orang-orang beriman. “Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman:

“Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahayamu”. Dikatakan (kepada mereka): “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)”. (Qs. Al Hadid/57:13).

Kedua: Dholim membuat pelakunya bangkrut pada hari kiamat.
Sungguh, manusia paling celaka dan merugi adalah mereka yang datang pada hari kiamat dengan limpahan amal kebaikan, namun sayangnya amal-amal itu tidak mendatangkan sedikitpun manfaat baginya. Mereka sebagaimana disifatkan oleh Allah dalam kitab-Nya. “Bekerja keras lagi kepayahan. Memasuki api yang sangat panas (neraka)”. (Qs. Al Ghaasyiyah/88:3-4).

Termasuk diantaranya, mereka yang kerap melakukan tindakan kedholiman terhadap orang lain. Rasulullah Shalllallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?. Para sahabat menjawab : “Orang yang bangkrut di antara kami adalah mereka yang tidak memiliki dirham dan tidak pula perhiasan”. Kemudian beliau bersabda: “Orang yang bangkrut dari umatku adalah mereka yang datang pada hari kiamat kelak dengan pahala shalat, puasa, dan zakat. Akan tetapi ia pernah mencela ini, menuduh ini, makan harta ini, membunuh itu, memukul itu. Maka diambil amal kebaikan-kebaikannya dan diberikan kepada orang-orang ia dholimi. Jika kebaikan milikmua telah habis, maka diambil kesalahan-kesalahan (orang yang ia dholimi) kemudian dipikulkan ke atas pundaknya. Baru kemudian ia di campakkan ke dalam api neraka”. (HR. Muslim no 4678, al-Tirmidzi no: 2342, Ahmad no: 7686, al-Thabarani no: 561).

Ketiga: Doa orang terdholimi pasti diijabah oleh Allah, sekalipun berasal dari orang fajir.
Ibnu Abbas ra berkata, ketika Rasulullah SAW mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman, beliau berpesan kepadanya:

"Takutlah terhadap doa orang yang terdholimi, sesungguhnya tidak ada antara dia dan Allah Ta’ala tabir penghalang”. (HR. Bukhari no: 1401, Muslim no: 27, Abu Daud no: 1351, al-Tirmidzi no: 567, al-Nasaai no: 2475).

Ingat, doa orang tertindas pasti memperoleh ijabah dari Allah Ta’ala kendati keluar dari lisan pelaku dosa dan maksiat. Hal ini dipertegas oleh Rasulullah SAW, sebagaimana diriwayatkan Abu Hurairah ra secara marfu’:

“Doa orang yang terdholimi pasti makbul, kendatipun ia seorang yang fajir (pelaku maksiat), karena kefajiran tersebut untuk dirinya sendiri”. (HR. Ahmad no: 8440. Hasan).

Bahkan, akan dijawab oleh Allah Ta'ala kendati keluar dari lisan orang kafir, sebagaimana diriwayatkan dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

"Takutlah terhadap doa orang yang terdholimi, kendati berasal dari orangkafir, sesungguhnya tidak ada antara dia dan Allah Ta’ala tabir penghalang” (HR. Ahmad no: 12091, dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani dalam al-Silsilah al-Shahihah no: 767).

Dari keterangan beliau ini, kiranya cukup buat kita untuk takut akan rintihan dan munajat orang-orang lemah dan tertindas di sekitar kita. Doa yang mereka lantunkan adalah doa yang sanggup menggetarkan pintu-langit. Semuanya akan dijawab oleh-Nya, sekalipun berasal dari para pelaku maksiat dan orang kafir. Maka bagaimana kiranya jika doa tersebut dilantunkan oleh orang-orang shaleh yang berjuang melawan kedurjanaan serta membela kebenaran dan keadilan !? Wallahul musta’an!.

Pernak pernik kezaliman
Kedholiman dalam bentuk apapun tidak dibenarkan dalam Islam. Lantaran perbuatan tersebut sangat bertolak belakang dengan nilai-nilai kemanusiaan yang digariskan oleh Allah. Ta’ala. Semua manusia sama. Dan yang membedakan mereka di sisi-Nya adalah takwa

Di antara bentuk kedholiman yang kerap dijumpai di tengah kehidupan manusia:

Pertama: Dholim kepada Allah Ta’ala. Dalam artian mengangkat dan menjadikan sekutu bagi-Nya dalam urusan peribadatan. Dan ini merupakan puncak kadholiman yang paling tinggi. Ketika Rasulullah SAW membaca ayat Al Qur’an yang berbunyi: “Dan orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan keimanan mereka dengan kedholiman”. (Qs. Al An’am/6:82).

Para sahabat merasa berat dan khawatir, hingga wajah mereka berubah. Mereka lantas berkata:

“Wahai Rasulullah, siapakah diantara kami yang tidak pernah berlaku dholim?. Maka Beliau Shallallhu 'Alaihi Wasallam bersabda; “Bukan seperti apa yang kalian duga, ia (kedholiman dalam ayat tersebut) adalah sebagaimana perkataan Luqman kepada anaknya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya memprsekutukan (Allah) adalah benar-benar kedholiman yang besar”. (Qs. Luqman/31:13). (HR. Bukhari no: 6424, Ahmad no: 4019).

Kedua: Dholim terhadap diri sendiri, keluarga dan istri.
Artinya, membenani diri diluar batas kemampuannya. Termasuk membebaninya dengan ibadah yang berlebihan. Padahal Allah tidak pernah membebani hamba-Nya melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

Rasulullah shallallahu alaihi wasalam membenarkan Salman tatkala berkata kepada Abu Darda' tatkala Salman mencegatnya sholat semalam suntuk serta berpuasa setiap hari:

"Sungguh dirimu terdapat hak atasmu, keluarga dan istrimu pun terdapat hak atas dirimu, maka berikanlah hak setiap pemilik hak itu”. (HR Bukhari no: 1832, al-Tirmidzi no: 2337).

Perkataan ini merupakan nasehat yang sangat mulia. Seorang, jika menghabiskan malamnya dengan ibadah dan siangnya dengan berpuasa, sudah tentu akan melalaikan hak tubuh mendapatkan istirahat dan makanan yang cukup. Juga hak keluarga memperoleh penghidupan yang layak, serta hak istri untuk mendapat nafkah batin dari suaminya.

Ketiga: Dholim terhadap sesama muslim.
Seperti membunuh, merampas harta, mencela, menghina atau merusak kehormatan dan harga dirinya dan sebagainya. Rasulullah Shallallhu 'Alaihi Wasallam bersabda tentang orang yang mendholimi saudaranya dengan merampas atau menggusur tanah miliknya:

“Siapa yang berlaku dholim terhadap sejengkal tanah (milik orang lain), kelak akan digantungkan pada hari kiamat kelak tujuh lapis bumi (yang ia dholimi) dilehernya”. (HR. Bukhari no: 2959, Muslim no: 3022).

Keempat: Dholim terhadap anak.
kedholiman ini sangat banyak dijumpai di sekitar kita. Diantarnya dalam dalam masalah memberi pembagian.

Dari Nu'man bin Basyir Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: Bapakku pernah memberikan padaku sebagian hartanya. Maka Ibuku –Amrah binti Rawahah- berkata: Aku tidak ridha hingga engkau bertanya pada Nabi shallallahu alaihi wasallam. Maka bapakku datang menemu Rasulullah. Maka beliau berkata padanya: “Apakah hal ini engkau lakukan terhadap seluruh anak-anakmu?”. Ia berkata: “Tidak”. Beliau lantas bersabda: “Takutlah kepada Allah dalam urusan anak-anak kalian”. Maka ayahku segera pulang dan mengambil kembali sedekah tersebut”. (HR. Muslim no: 3055, .

Kelima: Dholim terhadap rakyat atau bawahan.
Ma’qil Ibnu Yasar berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallhu 'Alaihi Wasallam bersabda:

“Tidaklah seorang hamba diberikan amanah oleh Allah Ta’ala untuk mengurus rakyatnya, kemudian mati dalam keadaan menipu rakyatnya tersebut, melainkan Allah akan mengharamkan baginya surga pada hari kiamat kelak”. (HR. Muslim no: 6618).

Akhir dari kedholiman
Kalau kita berkaca pada peristiwa-peristiwa lalu, akan tampak bagi kita bahwa kesudahan dari kedholiman yang dilakoni manusia di atas muka bumi adalah kebinasaan dan kehinaan. Dan sungguh dalam peristiwa-peristiwa tersebut terpendam pelajaran yang sangat berharga bagi kita. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal”.(Qs. Yusuf/12:111).

Lihatlah akhir dari kelaliman tirani Fir’aun dan Namruz. Tak ada yang tersisa bagi keduanya melainkan keping-kepng kehinaan yang terus dikenang hingga hari kiamat. Demikian pula akhir dari rezim Al Hajjaj Ibnu Yusuf yang terkenal bengis dan kejam. Ia pun binasa dalam kehinaan, sepekan setelah meluncur doa dari lisan Said Ibnu Jubair ketika beliau akan dieksekusi:

“Wahai Allah, Jangan engkau biarkan ia menguasai (mendhalimi) seorang-pun setelahku". (Lihat: al-Bidayah Wa al-Nihayah, Ibnu Katsir 9/116).

Olehnya, hendaklah orang-orang yang berpikir mengambil i’tibar. Tindakan dholim pada orang lain, pasti akan mendapat balasan yang setimpal dari Zat yang selalu membela kaum lemah dan tertindas. Dan Dia maha berkuasa atas segala sesuatu. “Sungguh pada hari kiamat kelak akan ditunaikan (dikembalikan) semua hak-hak kepada pemiliknya, hingga kambing yang bertanduk pun akan digiring (pada hari itu) dan diputuskan lantaran pernah menyeruduk kambing yang tak bertanduk, (baru setelah itu mereka dikembalikan menjadi tanah)”. (HR. Muslim). Wallahu a’lam.


Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Cara Bikin Blog Cantik dan Dinamis
@ Kumpulan Tutorial Blog Lengkap
@ Kumpulan Dongeng Anak
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog

Tentang Akhlak: Bahaya Perbuatan Dholim

Allah Ta’ala berfirman: “Maka Kami hukumkah Fir’aun dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam lautan. Maka lihatlah bagaimana akibat (buruk) orang-orang yang dzolim”. (Q.s, Al Qashash /28:40).

Sudah menjadi ketentuan-Nya, bahwa sejarah umat manusia tidak lepas dari berbagai tindak kedholiman. Dari dulu hingga hari ini. Yakni jauh sebelum semburat cahaya Islam muncul, yang kemudian disusul setelah umat Islam mundur dan runtuh. Dan selalu saja kaum yang menjadi korban bulan-bulanan kedholiman tersebut adalah mereka yang lemah dan miskin.

Sejarah silam bangsa Persia, Romawi, Cina, Mesir, India dan bangsa-bangsa tua lainnya, sarat dengan tumpukan lembaran-lembaran kelam kedholiman, kebengisan dan kelaliman. Hal tersebut lantaran dilatari oleh kebiasaan mereka hidup mewah, menumpuk pundi-pundi harta dan berfoya-foya. Disamping aturan dan undang-undang dholim yang dikukuhkan sebagai pemuas hawa nafsu dan selera rendah penguasa. Karenanya, mereka tidak merasa malu menjerat leher rakyat jajahan dengan upeti dan pajak yang jauh dari batas kesanggupan.

Dalam buku sejarah Persia, sebagaimana dinukil oleh Syaikh Abul Hasan Ali al-Nadwi dalam bukunya Madza Khasiral al-Alam bi al-Inkhithat al-Muslimin disebutkan, tidak pernah disinggung dalam sejarah seorang kaisar yang selalu hidup megah dan mewah melebihi kaisar-kaisar penguasa Persia. Mereka menarik dan menikmati upeti dan harta kekayaan melimpah dari negeri-negeri jajahan yang terbentang dari timur jauh hingga timur dekat.

Islam dan perbuatan dholim
Sejak awal, Islam datang menyeru umat manusia untuk lepas dari kungkungan kedzoliman dan kelaliman. Menyerukan persamaan derajat manusia di muka bumi ini, serta merubuhkan seluruh warisan-warisan jahiliyah yang identik dengan kedholiman. Tak ada lagi kesewenang-wenangan kaum yang kuat, kelaliman penguasa serta kebengisan golongan yang terpandang. Karenanya, tidak heran kalau dalam waktu yang relatif sangat singkat, Islam mendapat tempat istimewa di hati manusia. Khususnya mereka yang lemah dan tertindas.

Hal ini tergambar dari ucapan seorang Rib’iy bin Amir tatkala berdiri gagah di hadapan panglima tentara Persia, Rustum,

“Sungguh Allah Ta’ala mengutus kami untuk membebaskan manusia dari penghambaan kepada sesama menuju penghambaan hanya kepada Allah, melepaskan lilitan belenggu kesempitan dunia menuju kebebasan, serta mengeluarkan mereka dari kezaliman agama-agama menuju keadilan Islam”. (Lihat: al-Bidayah Wa al-Nihayah, Ibnu Katsir, 7/47).

Sebuah pernyataan jujur, lahir dari hati ksatria yang tulus, hingga tetap membekas sekalipun kesombongan dan kecongkakan berupaya mencegatnya.

Ketahuilah, harta, darah dan kehormatan seorang muslim haram atas muslim yang lain. Dalam konteks apapun, tidak dibenarkan merampas harta, menumpahkan darah atau mencemarkan kehormatan seorang muslim kecuali dengan alasan kebenaran. Ini dipertegas oleh Sabda Rasulullah SAW ketika haji wada’ (perpisahan):

“Sesungguhnya darah, harta dan kehormatan kalian haram (untuk ditumpahkan, dirampas dan dicemarkan), seperti haramnya hari kalian ini, di negeri ini (makkah), dan bulan kalian ini”. (HR. Imam Bukhari no: 65, Muslim no: 2137, Abu Daud no: 1628, al-Tirmidzi no: 2085Ibnu Majah no: 3046).

Olehnya, syariat Islam yang agaung memberi perhatian besar terhadap perkara-perkara tersebut. Setelah sebelumnya keadilan berada di titik nadir kehancuran. Misalnya, menindak tegas pembunuh jiwa yang suci (qishash), menghukum dengan sekeras-kerasnya para penyamun (Qs. 5:33), serta menegakkan hukum cambuk bagi orang yang suka menuduh tanpa bukti dan saksi yang dapat dipertanggung jawabkan. (Qs. 24:4).

Hati-hati berlaku dholim kendatipun terhadap orang fajir
Ketahuilah, perbuatan dholim tidak akan pernah membuahkan kebaikan di dunia maupun di akhirat. Sebaliknya, segala sesuatu yang diperoleh melalui jalan kedholiman baik itu berupa harta, pangkat, jabatan dan lainnya, pasti akan berujung kebinasaan dan kehinaan. Olehnya hati-hati berlaku dholim, karena ia akan menelurkan banyak mudharat bagi pelakunya, di antaranya:

Pertama: Dholim adalah kegelapan pada hari kiamat.

Dari Jabir bin Abdullah, bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Takutlah kalian dari berlaku dholim, sesungguhnya kedholiman adalah kegelapan pada hari kiamat kelak”. (HR. Muslim no: 4675, Ahmad no: 13973).

Artinya, sikap dholim akan memadamkan cahaya penuntun yang dibutuhkan seorang hamba pada hari itu. Allah Ta’ala mengabarkan keadaan orang-orang munafik yang dholim terhadap diri mereka sendiri ketika terusir dari keinginan mendapat imbasan cahaya orang-orang beriman. “Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman:

“Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahayamu”. Dikatakan (kepada mereka): “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)”. (Qs. Al Hadid/57:13).

Kedua: Dholim membuat pelakunya bangkrut pada hari kiamat.
Sungguh, manusia paling celaka dan merugi adalah mereka yang datang pada hari kiamat dengan limpahan amal kebaikan, namun sayangnya amal-amal itu tidak mendatangkan sedikitpun manfaat baginya. Mereka sebagaimana disifatkan oleh Allah dalam kitab-Nya. “Bekerja keras lagi kepayahan. Memasuki api yang sangat panas (neraka)”. (Qs. Al Ghaasyiyah/88:3-4).

Termasuk diantaranya, mereka yang kerap melakukan tindakan kedholiman terhadap orang lain. Rasulullah Shalllallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?. Para sahabat menjawab : “Orang yang bangkrut di antara kami adalah mereka yang tidak memiliki dirham dan tidak pula perhiasan”. Kemudian beliau bersabda: “Orang yang bangkrut dari umatku adalah mereka yang datang pada hari kiamat kelak dengan pahala shalat, puasa, dan zakat. Akan tetapi ia pernah mencela ini, menuduh ini, makan harta ini, membunuh itu, memukul itu. Maka diambil amal kebaikan-kebaikannya dan diberikan kepada orang-orang ia dholimi. Jika kebaikan milikmua telah habis, maka diambil kesalahan-kesalahan (orang yang ia dholimi) kemudian dipikulkan ke atas pundaknya. Baru kemudian ia di campakkan ke dalam api neraka”. (HR. Muslim no 4678, al-Tirmidzi no: 2342, Ahmad no: 7686, al-Thabarani no: 561).

Ketiga: Doa orang terdholimi pasti diijabah oleh Allah, sekalipun berasal dari orang fajir.
Ibnu Abbas ra berkata, ketika Rasulullah SAW mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman, beliau berpesan kepadanya:

"Takutlah terhadap doa orang yang terdholimi, sesungguhnya tidak ada antara dia dan Allah Ta’ala tabir penghalang”. (HR. Bukhari no: 1401, Muslim no: 27, Abu Daud no: 1351, al-Tirmidzi no: 567, al-Nasaai no: 2475).

Ingat, doa orang tertindas pasti memperoleh ijabah dari Allah Ta’ala kendati keluar dari lisan pelaku dosa dan maksiat. Hal ini dipertegas oleh Rasulullah SAW, sebagaimana diriwayatkan Abu Hurairah ra secara marfu’:

“Doa orang yang terdholimi pasti makbul, kendatipun ia seorang yang fajir (pelaku maksiat), karena kefajiran tersebut untuk dirinya sendiri”. (HR. Ahmad no: 8440. Hasan).

Bahkan, akan dijawab oleh Allah Ta'ala kendati keluar dari lisan orang kafir, sebagaimana diriwayatkan dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

"Takutlah terhadap doa orang yang terdholimi, kendati berasal dari orangkafir, sesungguhnya tidak ada antara dia dan Allah Ta’ala tabir penghalang” (HR. Ahmad no: 12091, dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani dalam al-Silsilah al-Shahihah no: 767).

Dari keterangan beliau ini, kiranya cukup buat kita untuk takut akan rintihan dan munajat orang-orang lemah dan tertindas di sekitar kita. Doa yang mereka lantunkan adalah doa yang sanggup menggetarkan pintu-langit. Semuanya akan dijawab oleh-Nya, sekalipun berasal dari para pelaku maksiat dan orang kafir. Maka bagaimana kiranya jika doa tersebut dilantunkan oleh orang-orang shaleh yang berjuang melawan kedurjanaan serta membela kebenaran dan keadilan !? Wallahul musta’an!.

Pernak pernik kezaliman
Kedholiman dalam bentuk apapun tidak dibenarkan dalam Islam. Lantaran perbuatan tersebut sangat bertolak belakang dengan nilai-nilai kemanusiaan yang digariskan oleh Allah. Ta’ala. Semua manusia sama. Dan yang membedakan mereka di sisi-Nya adalah takwa

Di antara bentuk kedholiman yang kerap dijumpai di tengah kehidupan manusia:

Pertama: Dholim kepada Allah Ta’ala. Dalam artian mengangkat dan menjadikan sekutu bagi-Nya dalam urusan peribadatan. Dan ini merupakan puncak kadholiman yang paling tinggi. Ketika Rasulullah SAW membaca ayat Al Qur’an yang berbunyi: “Dan orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan keimanan mereka dengan kedholiman”. (Qs. Al An’am/6:82).

Para sahabat merasa berat dan khawatir, hingga wajah mereka berubah. Mereka lantas berkata:

“Wahai Rasulullah, siapakah diantara kami yang tidak pernah berlaku dholim?. Maka Beliau Shallallhu 'Alaihi Wasallam bersabda; “Bukan seperti apa yang kalian duga, ia (kedholiman dalam ayat tersebut) adalah sebagaimana perkataan Luqman kepada anaknya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya memprsekutukan (Allah) adalah benar-benar kedholiman yang besar”. (Qs. Luqman/31:13). (HR. Bukhari no: 6424, Ahmad no: 4019).

Kedua: Dholim terhadap diri sendiri, keluarga dan istri.
Artinya, membenani diri diluar batas kemampuannya. Termasuk membebaninya dengan ibadah yang berlebihan. Padahal Allah tidak pernah membebani hamba-Nya melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

Rasulullah shallallahu alaihi wasalam membenarkan Salman tatkala berkata kepada Abu Darda' tatkala Salman mencegatnya sholat semalam suntuk serta berpuasa setiap hari:

"Sungguh dirimu terdapat hak atasmu, keluarga dan istrimu pun terdapat hak atas dirimu, maka berikanlah hak setiap pemilik hak itu”. (HR Bukhari no: 1832, al-Tirmidzi no: 2337).

Perkataan ini merupakan nasehat yang sangat mulia. Seorang, jika menghabiskan malamnya dengan ibadah dan siangnya dengan berpuasa, sudah tentu akan melalaikan hak tubuh mendapatkan istirahat dan makanan yang cukup. Juga hak keluarga memperoleh penghidupan yang layak, serta hak istri untuk mendapat nafkah batin dari suaminya.

Ketiga: Dholim terhadap sesama muslim.
Seperti membunuh, merampas harta, mencela, menghina atau merusak kehormatan dan harga dirinya dan sebagainya. Rasulullah Shallallhu 'Alaihi Wasallam bersabda tentang orang yang mendholimi saudaranya dengan merampas atau menggusur tanah miliknya:

“Siapa yang berlaku dholim terhadap sejengkal tanah (milik orang lain), kelak akan digantungkan pada hari kiamat kelak tujuh lapis bumi (yang ia dholimi) dilehernya”. (HR. Bukhari no: 2959, Muslim no: 3022).

Keempat: Dholim terhadap anak.
kedholiman ini sangat banyak dijumpai di sekitar kita. Diantarnya dalam dalam masalah memberi pembagian.

Dari Nu'man bin Basyir Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: Bapakku pernah memberikan padaku sebagian hartanya. Maka Ibuku –Amrah binti Rawahah- berkata: Aku tidak ridha hingga engkau bertanya pada Nabi shallallahu alaihi wasallam. Maka bapakku datang menemu Rasulullah. Maka beliau berkata padanya: “Apakah hal ini engkau lakukan terhadap seluruh anak-anakmu?”. Ia berkata: “Tidak”. Beliau lantas bersabda: “Takutlah kepada Allah dalam urusan anak-anak kalian”. Maka ayahku segera pulang dan mengambil kembali sedekah tersebut”. (HR. Muslim no: 3055, .

Kelima: Dholim terhadap rakyat atau bawahan.
Ma’qil Ibnu Yasar berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallhu 'Alaihi Wasallam bersabda:

“Tidaklah seorang hamba diberikan amanah oleh Allah Ta’ala untuk mengurus rakyatnya, kemudian mati dalam keadaan menipu rakyatnya tersebut, melainkan Allah akan mengharamkan baginya surga pada hari kiamat kelak”. (HR. Muslim no: 6618).

Akhir dari kedholiman
Kalau kita berkaca pada peristiwa-peristiwa lalu, akan tampak bagi kita bahwa kesudahan dari kedholiman yang dilakoni manusia di atas muka bumi adalah kebinasaan dan kehinaan. Dan sungguh dalam peristiwa-peristiwa tersebut terpendam pelajaran yang sangat berharga bagi kita. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal”.(Qs. Yusuf/12:111).

Lihatlah akhir dari kelaliman tirani Fir’aun dan Namruz. Tak ada yang tersisa bagi keduanya melainkan keping-kepng kehinaan yang terus dikenang hingga hari kiamat. Demikian pula akhir dari rezim Al Hajjaj Ibnu Yusuf yang terkenal bengis dan kejam. Ia pun binasa dalam kehinaan, sepekan setelah meluncur doa dari lisan Said Ibnu Jubair ketika beliau akan dieksekusi:

“Wahai Allah, Jangan engkau biarkan ia menguasai (mendhalimi) seorang-pun setelahku". (Lihat: al-Bidayah Wa al-Nihayah, Ibnu Katsir 9/116).

Olehnya, hendaklah orang-orang yang berpikir mengambil i’tibar. Tindakan dholim pada orang lain, pasti akan mendapat balasan yang setimpal dari Zat yang selalu membela kaum lemah dan tertindas. Dan Dia maha berkuasa atas segala sesuatu. “Sungguh pada hari kiamat kelak akan ditunaikan (dikembalikan) semua hak-hak kepada pemiliknya, hingga kambing yang bertanduk pun akan digiring (pada hari itu) dan diputuskan lantaran pernah menyeruduk kambing yang tak bertanduk, (baru setelah itu mereka dikembalikan menjadi tanah)”. (HR. Muslim). Wallahu a’lam.


Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Cara Bikin Blog Cantik dan Dinamis
@ Kumpulan Tutorial Blog Lengkap
@ Kumpulan Dongeng Anak
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog

Tentang Akhlak: Mensyukuri Nikmat Bicara

Nikmat Allah terhadap hamba-Nya amatlah banyak, tak terhitung dan tak terbatas. Dan di antara nikmat yang besar itu adalah nikmat bertutur dan berbicara. Dengan berbicara seorang insan akan dapat mengutarakan tentang keinginanan, harapan, cinta dan kasih sayangnya. Dengannya pula, seseorang mampu mengucapkan perkataan-perkataan yang baik, memberikan nasihat, menganjurkan kepada yang makruf dan menghalangi dari yang jahat.

Maka siapa saja yang kehilangan nikmat itu, ia tidak bisa melakukan berbagai urusan yang tersebut di atas. Dan yang lain, dengan kehilangan nikmat tersebut maka hubungan komunikasi dengan orang lain pun menjadi sempit dan terbatas. Tak ada hubungan berbicara, kecuali hanya dengan isyarat dan tulisan, itu pun bila ia mampu menulis.

Di dalam Al-Qur'an, Allah menjadikan keadaan ini sebagai perumpaan antara diri-Nya dengan kalam-Nya, dan dengan patung-patung abkam (bisu), tidak mampu berbicara dan tak mampu mengucapkan apa-apa. Tak memiliki apa-apa, dan tak mampu melakukan apa-apa. Maka tak ada yang dapat dikatakan dan dilakukannya. Sedangkan Allah, Dialah Yang Mahaagung dan Mahasegalanya.

Allah berfirman, artinya,"Dan Allah membuat (pula) perumpamaan: dua orang lelaki yang seorang bisu, tidak dapat berbuat sesuatu pun dan dia menjadi beban atas penanggungnya, ke mana saja dia disuruh oleh penanggungnya itu, dia tidak dapat mendatangkan suatu kebajikan pun. Samakah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan, dan dia berada pula di atas jalan yang lurus?" (QS. An-Nahl: 76).

Disebutkan oleh Imam Ibnu Kastir terhadap tafsiran ayat ini, bahwasanya ini merupakan perumpamaan yang dijadikan Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì antara diri-Nya dan berhala. Namun, ada juga yang berpendapat bahwasanya ini adalah perumpamaan antara orang kafir dan orang yang beriman, sebagaimana pendapat Imam Al Qurthubi. 'Ala kulli hal (intinya), perumpaan tersebut sangat jelas menerangkan kepada kita tentang kelemahan seorang yang bisu dan besarnya nikmat bertutur dan berbicara.

Satu lagi gambaran dari Al-Qur'an tentang nikmat ini. Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì berfirman, yang artinya, "Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir?" (QS. Al Balad: 8-9). Imam Ibn Katsir menjelaskan makna dua buah mata, artinya dengan dua mata tersebut mereka bisa melihat. Dan lidah artinya, ia berbicara dengannya, maka ia mengutarakan apa yang terdapat di dalam hatinya. Dan dua buah bibir artinya, ia menjadikan kedua belah bibir tersebut sebagai pembantu dalam berbicara dan untuk melahap makanan serta sebagai penghias wajah dan mulutnya.Maka suatu hal yang dapat dimengerti bahwa sungguh nikmat ini kiranya benar-benar akan bernilai tinggi jika dipergunakan untuk berbicara tentang hal-hal yang baik, indah, dan pantas.

Namun, apabila dipergunakan untuk hal-hal yang jelek, tak pantas, dusta dan sia-sia, maka ia akan berakibat buruk bagi pemiliknya. Akhirnya boleh jadi, orang yang kehilangan nikmat ini lebih baik keadaannya dari pada orang yang memilikinya, tetapi tidak dapat mensyukurinya dengan ucapan dan tindakan. Wallahul Musta'an.

BAGAIMANA MENSYUKURI NIKMAT LIDAH?
1. Menghindari perkataan kufur
Di antara buah-buah busuk yang dihasilkan oleh lisan yang lepas adalah perkataan kufur. Perkataan ini dapat yang menjadikan si pengucap kata serta-merta berstatus kufur di sisi Allah. Padahal tadinya dia adalah golongan orang-orang yang beriman. Entah dengan maksud main-main ataukah sungguh-sungguh, keduanya tetaplah perkataan kufur.Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì menegaskan dalam Al-Qur'an,"Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja." Namun apa kata Allah ??"Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman." (QS. At-Taubah: 65-66).

Bayangkan, Anda sekadar bercanda namun Allah tetap menganggap itu sebagai olok-olokan dan berkonsekuensi kufur di sisi-Nya. Lalu bagaimana lagi dengan mereka yang sungguhan? Dalam realitas empirik, kita banyak mendapati ini. Kalimat Al-Qur'an kitab "paling porno" contohnya, atau "ajinghu akbar", atau pernyataan Islam agama kejam, Al-Qur'an perlu disesuikan dengan perkembangan zaman, Al-Qur'an ada penambahan dan pengurangan, hijab sempurna mengungkung, ada nabi terakhir, wihdatul wujud, dan sebagainya yang senada dengan itu. Semua kata-kata yang buruk dan menyakitkan di atas pernah kita dengar, dan sungguh itu dapat mengakibatkan kekufurun. Maka marilah kita bertaubat dan berlindung kepada Allah darinya.

2. Menjauhi perkataan syirik.
Seperti kalimat kufur, kalimat syirik pun sangat menjamur, dipopulerkan oleh orang-orang kufur lalu diadopsi oleh orang-orang yang beriman namun sedikit bersyukur tehadap Tuhannya yang Mahamengatur. Banyak contoh yang biasa kita dengar, di antaranya, "Wahai leluhur kami!" Ungkapan seperti ini biasa diucapkan oleh orang-orang yang berlatih kekebalan sebelum menunjukkan aksinya. Atau ungkapan lain, "Pakailah benda ini, maka dia akan menjagamu." Atau ungkapan yang sering diucapkan oleh para sufi yang ekstrim untuk guru-guru mereka, "Dialah sang pemberi rezki." "Dia mengetahui yang tampak dan yang tersembunyi, yang sekarang dan yang akan datang." Atau kalimat yang biasa keluar dari mulut dua sejoli yang sedang kasmaran, "Hidup dan matiku hanya untukmu." Kata-kata yang sepantasnya hanya untuk Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì . Untuk kesyirikan ini Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì mengancam dengan firman-Nya, artinya,

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar." (QS. An-Nisa: 48).

3. Ghibah (menyebarkan aib orang lain)
Seonggok daging dari bangkai manusia yang sudah membusuk, seperti itulah Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì menggambarkan ghibah. Dan mereka yang punya hobbi membicarakan aib orang lain adalah mereka yang menjadikan bangkai manusia sebagai makanan favorit. Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì berfirman, artinya,

"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan buruk sangka (kecurigaan), karena sebagian dari buruk sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Mahapenerima taubat lagi Mahapenyayang." (QS. Al Hujurat: 12).
Saudaraku, itulah akibat ghibah. Semoga Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì menjauhkan lisan kita darinya. Amin.

Lalu sekarang, apakah ghibah itu?
Nabi bersabda, artinya, "Apakah kalian tahu apa itu ghibah?" Para sahabat menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu." Rasulullah Õáì Çááå Úáíå æÓáã bersabda, "Engkau menceritakan tentang saudaramu suatu yang tidak disukainya." Lalu beliau ditanya, "Bagaimana jika hal yang aku ceritakan itu terbukti padanya?" Beliau menjawab, "Jika terbukti padanya apa-apa yang engkau sebut tersebut, maka sesungguhnya engkau telah mengghibahnya, dan jikalau tidak terdapat padanya, maka sesungguhnya engkau telah berbuat bohong tentangnya." (HR. Muslim). Semoga Allah menjaga lisan kita dari keburukan-keburukan ini. Amin. Walhamdulillahi rabbil alamin. (Abu Hijaz Syahrullah Hamid As-Sala'bundangi) -Al Fikrah-




Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Cara Bikin Blog Cantik dan Dinamis
@ Kumpulan Tutorial Blog Lengkap
@ Kumpulan Dongeng Anak
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog

Cerita Seorang Gembel: Syair Selembar Duit

Syair Selembar Duit

Ini cerita tentang aku
Cerita nyata
Percaya syukur
nggak percaya? Kabur

Begini ceritanya,
simak baik-baik,
baca dengan mata mendelik
pelototin kata demi kata, kalimat demi kalimat

Tutup semua daun pintu,
Tutup semua daun jendela,
Matikan Televisi,
Matikan Radio.

Matikan Ponsel
Bila bandel gak mau mati, celupkan ke dalam segelas air,
Matikan semua barang yang masih hidup di kamar kalian
Jam dinding, arloji, weker, lampu

Sudah mati semua,
Sudah kalian matikan semua?
Teliti kembali
Jangan ada yang sampai ketinggalan.

Begini ceritanya,

(Bersambung) Tunggu kelanjutannya.....
Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Kumpulan dongeng anak
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog

Blog Buaran: 4 (empat) Tipe Manusia

Banyak sudah orang yang membagi manusia menurut beberapa tipe. Ada yang membagi menurut warna kulit, bentuk tubuh, sifat, dan lain sebagainya. Dalam Agama Hindu dikenal pembagian yang disebut dengan kasta. Perbedaan kasta menunjukkan perbedaan derajatnya di dalam masyarakat.

Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam membagi manusia berdasarkan sikapnya atas ilmu dan harta. Dari dua kriteria ini manusia terbagi menjadi empat tipe.

Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

Sesungguhnya di dunia ini ada empat macam manusia :

1. Seorang hamba yang dikarunia harta dan ilmu oleh Allah, maka dia pergunakanuntuk bertakwa kepada Rabbnya, menghubungkan silaturahmi, dan dia tahu bahwa Allah empunyai hak terhadapnya. Orang ini mempunyai derajat paling utama.
2. Seorang hamba yang Allah mengaruniainya ilmu dan tidak dikarunia harta, tetapi dengan niat yang sungguh-sungguh dia berkata : ‘Andaikata saya mempunyai harta, niscaya saya akan melakukan seperti apa yang dilakukan si fulan’. Orang ini mendapatkan pahala sesuai dengan niatnya, sehingga pahalanya sama seperti pahala orang pertama.
3. Seorang hamba yang Allah mengaruniainya harta dan tidak dikaruniai ilmu, maka diapun menggunakan hartanya tanpa ilmu. Dia tidak bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam mempergunakan harta itu, tidak mau menghubungkan tali persaudaraan, serta dia tidak sadar bahwa Allah mempunyai hak dalam hartanya itu. Orang ini mempunyai derajat paling buruk

4. Seorang hamba yang Allah tidak mengaruniainya harta dan tidak pula ilmu, kemudian dia berkata :’Andaikan saya mempunyai harta, niscaya saya akan berbuat seperti apa yang diperbuat oleh si Fulan (orang ketiga)’. Orang ini mendapatkan dosa sesuai dengan niatnya, sehingga dosanya sama seperti dosa orang ketiga.

[HR. Tirmidzi, ia berkata : Hadits Hasan Shahih]

Dua tipe pertama, yaitu mereka yang memiliki ilmu, adalah golongan yang selamat. Sedang golongan yang tidak berilmu, yaitu tipe ketiga dan keempat, adalah golongan yang celaka.

Hadits ini secara tidak langsung juga menunjukkan bahwa bukan harta yang akan menyelamatkan kita tetapi ilmu. Yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu Agama Islam. Bukan ilmu duniawi yang dipelajari untuk mengejar harta.

Sekarang pertanyaannya adalah : apa yang kita pikirkan, apa yang ada di benak kita setelah mengetahui pembagian ini? Masihkah kita mengalokasikan sebagian besar waktu yang kita miliki untuk mengejar harta semata?

Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Kumpulan dongeng anak
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog

Tentang Tauhid: La Ilaha Illallah, Antara yang Benar dan yang Salah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam dibangun di atas lima perkara: syahadat La Ilaha Illallah wa anna Muhammadar Rasulullah, mengerjakan salat, menunaikan zakat, menunaikan haji ke Mekkah dan puasa di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim). Kelima hal inilah yang kita kenal dengan sebutan rukun islam. Di antara kelima rukun islam tersebut, rukun yang paling penting adalah rukun yang pertama yaitu dua kalimat syahadat. Rukun inilah yang melandasi diterimanya keempat rukun islam serta amalan-amalan ibadah yang lain. Rukun inilah yang menjadi dasar apakah seseorang itu islam atau tidak. Namun, amat sangat disayangkan, pemahaman yang salah tentang kalimat syahadat La Ilaha Illallah beredar di sekitar kaum muslimin. Baik itu kesalahan dalam masalah keyakinan maupun amal perbuatan. Bahkan, kesalahan dalam memahami syahadat ini dapat berakibat terjatuhnya seseorang ke dalam kesyirikan. Untuk itu sangatlah penting bagi kita untuk mengetahui manakah yang benar dan yang salah dari syahadat tersebut agar kita tidak terjatuh ke dalam kesalahan yang dapat berakibat terjerumusnya kita ke dalam dosa syirik. Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa di bawah syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (An Nisa: 48)

Di antara kesalahan-kesalahan itu adalah :

1. La Ilaha Illallah = Tiada Tuhan Selain Allah ?

Di antara kesalahan dalam syahadat adalah memaknai La Ilaha Illallah dengan ‘Tiada Tuhan selain Allah’. Konsekuensi dari pemaknaan ini menyebabkan setiap orang yang mengakui Allah adalah Tuhan maka ia telah masuk islam. Padahal, kaum musyrik Quraisy pun mengakui bahwa Allah lah Tuhan mereka, Allah lah yang menciptakan langit dan bumi, Allah lah yang menghidupkan dan mematikan mereka, Allah lah yang memberi mereka rizki. Namun pengakuan mereka ini tidaklah menyebabkan mereka masuk islam. Mereka tetap dinyatakan kafir oleh Allah dan Rasul-Nya.

Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tetap memerangi mereka. Hal ini sebagaimana yang difirmankan oleh Allah yang artinya, “Katakanlah: “Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang Kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka Katakanlah “Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” (Yunus: 31).

2. La Ilaha Illallah = Tiada Sesembahan Selain Allah ?

Kesalahan lainnya mengenai syahadat La Ilaha Illallah adalah memaknainya dengan Tiada sesembahan selain Allah. Pemaknaan ini jelas-jelas menyimpang dari yang dimaksudkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Karena, konsekuensi dari makna ini ialah bahwa seluruh sesembahan yang ada di muka bumi ini adalah Allah (sebagaimana pernyataan ‘Tidak ada Nabi kecuali laki-laki’ berarti ‘Semua Nabi adalah laki-laki’). Hal ini jelas-jelas mustahil, karena apakah mungkin Budha, Yesus, Dewa Wisnu, Dewa Krishna, Dewa Brahma, Dewi Sri dan sesembahan-sesembahan lainnya itu adalah Allah? Bahkan konsekuensi pemahaman ini lebih buruk dari pemahaman orang Nasrani yang menjadikan Nabi Isa sebagai Allah itu sendiri. Sebagaimana firman-Nya yang artinya, “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al masih putera Maryam”.” (Al Maidah: 72).

Pengertian yang benar dari syahadat La Ilaha Illallah

Lalu, apakah makna yang benar dari syahadat La Ilaha Illallah? Makna syahadat La Ilaha Illallah adalah Tiada Sesembahan yang berhak untuk disembah/diibadahi selain Allah atau dengan kata lain Tiada sesembahan yang benar kecuali Allah. Pengertian ini sangat sesuai dengan kenyataan yang ada di sekitar kita. Kita lihat bahwa sesungguhnya di dunia ini begitu banyak sesembahan yang disembah/diibadahi selain Allah. Namun semua sesembahan itu adalah batil. Sesembahan-sesembahan itu tidak layak dan tidak pantas untuk disembah/dibadahi. Hanya Allahlah satu-satunya yang berhak dan benar untuk disembah. Hal ini sebagaimana doa yang sering kita ucapkan berulang-ulang kali di dalam salat kita “Hanya kepada-Mulah kami beribadah”.

3. Tidak Ada Pembatal Syahadat La Ilaha Illallah Selain Pindah Agama?

Di antara kesalahan lainnya adalah pemahaman yang menyatakan bahwa seseorang tidak batal syahadatnya kecuali jika ia pindah agama dari islam ke agama selain islam. Atau dengan kata lain, apabila seseorang telah bersyahadat, maka ia tetap beragama islam kecuali ia pindah agama. Hal ini jelas salah, karena bukan hanya pindah agama saja yang dapat menyebabkan seseorang batal syahadatnya dan keluar dari islam. Banyak hal-hal lain yang dapat membatalkan syahadat seseorang, di antaranya adalah berdoa kepada wali atau orang saleh (serta perbuatan-perbuatan syirik lainnya), melakukan perbuatan sihir, tidak mengkafirkan orang kafir (seperti orang Yahudi, Nasrani, Budha, Hindu, Konghucu dan lain sebagainya) atau ragu-ragu atas kekafiran mereka, membenci ajaran islam, menghina Allah, menghina Rasulullah, menghina ajaran islam, berpaling dari agama Allah, tidak mempelajari dan mengamalkannya dan lain sebagainya. Orang yang melakukan salah satu dari pembatal syahadat tersebut dan tidak bertaubat, maka ia kafir. Meskipun ia salat, puasa, zakat, pergi haji serta melakukan ibadah-ibadah lainnya.

4. Tahlilan

Di antara kesalahan lainnya yang tersebar di masyarakat berkaitan dengan kalimat La Ilaha Illallah adalah ritual tahlilan. Ritual ini merupakan ritual yang sering dilakukan masyarakat Indonesia untuk mengirim pahala bagi anggota keluarganya yang telah meninggal. Pada ritual ini biasanya diadakan jamuan makan yang diikuti dengan pembacaan Al Qur’an dan dzikir kalimat La Ilaha Illallah. Ritual ini merupakan ritual yang tidak ada landasannya dari islam. Ritual tahlilan ini meskipun sudah menjadi kebiasaan di masyarakat kita, namun sama sekali tidak ada petunjuknya dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Tidak didapatkan satu pun hadits yang shohih yang menyatakan Rasulullah dan para sahabatnya pernah melakukan tahlilan untuk mengirimkan pahala kepada kerabat mereka yang telah meninggal. Padahal, semasa Rasulullah hidup, banyak keluarga beliau yang meninggal, tetapi beliau tidak pernah melakukan tahlilan. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang melakukan amalan yang tidak ada dasarnya dari kami, maka amalan tersebut tertolak” (HR Muslim). Bahkan sesungguhnya, ritual tahlilan merupakan modifikasi dari ritual masyarakat animisme dan dinamisme dahulu. Di mana mereka beranggapan bahwa apabila arwah telah keluar dari jasad maka arwah tersebut akan bergentayangan pada hari ketujuh, keempat puluh, keseratus dan keseribu. Maka untuk mengusir arwah gentayangan terebut, mereka pun membaca mantra-mantra sesuai dengan keyakinan mereka. Dan ketika islam datang, maka mantra-mantra tersebut diganti dengan kalimat La Ilaha Illallah, sehingga ritual masyarakat animisme tersebut pun berubah menjadi ritual tahlilan. (Disarikan dari Penjelasan Gamblang Seputar Hukum Yasinan, Tahlilan & Selamatan karya Abu Ibrahim Muhammad Ali bin A. Mutholib)

Demikianlah beberapa penjelasan mengenai kesalahan seputar kalimat syahadat La Ilaha Illallah. Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang dapat merealisasikan kalimat syahadat La Ilaha Illallah baik melalui amalan hati, lisan maupun amalan perbuatan kita. Karena sesungguhnya barangsiapa yang membenarkan kalimat syahadat La Ilaha Illallah hanya di dalam hati maka ia seperti paman Rasulullah Abu Thalib yang kafir karena enggan mengucapkan kalimat ini. Dan barangsiapa yang hanya mengucapkan kalimat syahadat La Ilaha Illallah di lisan tanpa amalan hati dan badan sungguh ia bagaikan kaum munafik yang mengaku-ngaku islam. Wallahu a’lam. [Boris Tanesia]

Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Kumpulan dongeng anak
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog

Kunci-Blog Bantarkawung: Kunci Ilmu Gaib, Hanya Allah Yang Mengetahuinya

Belakangan ini sering kita jumpai di berbagai media adanya orang-orang yang mengaku mengetahui ilmu gaib. Di antara mereka ada yang mengatakan sanggup untuk mengetahui bagaimana karir, rezeki, asmara dan lain sebagainya selama beberapa waktu dengan melihat tanggal lahirnya, bahkan ada di antara orang-orang yang mengklaim bahwa mereka dan beberapa gelintir pengikutnya mengetahui kapan terjadinya hari kiamat dan alhamdulillah kedustaan seperti ini telah terbongkar dengan sendirinya ketika tidak terjadi hari kiamat di hari yang telah mereka ramalkan tersebut. Kaum muslimin rahimakumullah, sebenarnya bagaimanakah hal ini dalam Islam, apakah manusia mengetahui ilmu-ilmu gaib tersebut? Pembahasan kali ini insya Allah sedikit mengupas tentang kunci-kunci ilmu gaib yang hanya diketahui oleh Allah semata.

Kunci-Kunci Ilmu Gaib di Tangan Allah

Kaum muslimin rahimakumullah, Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan hanya di sisi-Nya lah kunci-kunci ilmu gaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia” (QS Al An’aam: 59). Apakah yang dimaksud kunci-kunci ilmu gaib tersebut? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam -manusia yang paling memahami Al Quran- menafsirkan bahwa kunci-kunci ilmu gaib tersebut ada lima macam. Beliau bersabda yang artinya, ”Kunci-kunci ilmu gaib ada lima, hanya Allah yang mengetahuinya: tidak ada yang tahu apa yang terjadi esok hari kecuali Allah, tidak ada yang tahu apa yang dikandung oleh rahim kecuali Allah, tidak ada yang tahu kapan turun hujan kecuali Allah, tidak ada seorang pun yang tahu di bumi mana dia akan meninggal, dan tidak ada yang tahu kapan terjadi hari kiamat kecuali Allah.” (HR Bukhori)

Allah ta’ala juga berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok . Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Luqman: 34). Para ulama menyebutkan bahwa kelima hal ini disebut dengan kunci ilmu gaib karena kelima hal ini merupakan awal dan pintu gerbang dari hal-hal lain yang mengikutinya.

Adapun nabi, rasul, dan para malaikat, maka terkadang Allah memberitahukan kepada mereka beberapa perkara yang gaib seperti tanda-tanda kiamat yang banyak disampaikan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan lain sebagainya. Namun demikian, ilmu gaib yang Allah sampaikan pada utusan-Nya tersebut hanyalah sebatas yang Allah beri tahukan sehingga tidak mencakup seluruh ilmu gaib yang ada. Allah berfirman yang artinya, “(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhoi-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (QS Jin: 26,27)

Kunci Ilmu Gaib Pertama: Hari Kiamat

Kaum muslimin rahimakumullah, inilah kunci ilmu gaib pertama yang hanya diketahui oleh Allah ta’ala yaitu ilmu tentang hari kiamat. Hari kiamat adalah awal mula dimulainya alam akhirat. Tidak ada seorang makhluk pun yang mengetahui kapan terjadinya hari kiamat. Bahkan ketika Jibril -malaikat yang paling mulia- bertanya kepada Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam -manusia yang paling mulia- tentang kapan terjadinya hari kiamat, Rasulullah hanya menjawab, “Yang ditanya tidaklah lebih tahu dibandingkan yang bertanya” (HR Muslim). Ini menunjukkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dan Jibril ‘alaihis salam keduanya tidaklah mengetahui kapan terjadinya hari kiamat. Oleh karena itu, janganlah kita mudah terbawa arus jika ada yang menyebutkan bahwa hari kiamat akan terjadi pada tanggal sekian atau sekian dan perlu diketahui bahwa klaim seperti itu tidak lebih dari kedustaan yang dihembuskan syaitan dan bala tentaranya untuk memalingkan manusia dari jalan Allah, wal ‘iyadzu billah.

Kunci Ilmu Gaib Kedua: Turunnya Hujan

Kaum muslimin rahimakumullah, kunci ilmu gaib yang kedua adalah ilmu tentang waktu turunnya hujan yang hanya diketahui oleh Allah ta’ala. Turunnya hujan adalah awal tumbuhnya tanaman di permukaan bumi. Allah yang menurunkan hujan dan Dia pula yang tahu kapan hujan akan turun. Namun jika ada orang yang mengatakan, “Bagaimana dengan ramalan hujan yang bisa diprediksi oleh alat canggih di zaman sekarang?” Maka hal ini tidaklah bertentangan sama sekali karena alat secanggih apapun yang dibuat oleh manusia sekarang ini, hanya sebatas memprediksikan dan bukan memastikan. Seringkali prediksi alat tersebut meleset. Maka tidak ada satu orang pun atau sebuah alat secanggih apa pun yang tahu dengan pasti kapan hujan akan turun.

Kunci Ilmu Gaib Ketiga: Apa Yang Dikandung Oleh Rahim

Kaum muslimin rahimakumullah, kunci ilmu gaib ketiga adalah pengetahuan tentang janin yang dikandung dalam rahim seorang ibu. Allah lah yang menciptakan janin tersebut dan hanya Allah lah yang mengetahui seluruh hal yang akan terjadi pada janin tersebut. Kehidupan dalam rahim adalah awal mula kehidupan dunia. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah. Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya” (QS Ar Ra’d: 8 )

Kemudian, jika ada yang menanyakan, “Bagaimana dengan USG di zaman sekarang yang bisa mengetahui jenis kelamin janin tersebut?” Maka hal ini tidaklah bertentangan. Karena alat yang dikenal dengan USG tersebut hanya bisa mengetahui jenis kelamin janin, itu pun setelah janin terbentuk selama beberapa waktu dan juga berapa banyak prediksi USG tersebut yang keliru dan berbeda dengan kenyataan setelah janin tersebut lahir. Dan tidak ada satu alat pun yang bisa mengetahui bagaimana nasib janin tersebut di dunia dan akhirat, apakah dia akan menjadi hamba yang soleh atau seorang yang banyak berbuat dosa. Apakah janin tersebut akan berumur singkat atau akan hidup di dunia dalam jangka waktu yang lama? Dan masih banyak lagi hal-hal lain tentang janin tersebut yang hanya diketahui oleh Allah ta’ala saja.

Kunci Ilmu Gaib Keempat: Apa Yang Dilakukan Esok Hari

Kaum muslimin rahimakumullah, kunci ilmu gaib yang keempat adalah pengetahuan tentang apa yang akan dilakukan oleh seseorang esok hari. Jika seseorang tidak tahu apa yang akan dilakukan dirinya sendiri esok hari, maka lebih tidak mungkin lagi untuk mengetahui apa yang akan dilakukan oleh orang lain esok hari. Oleh karena itu jelaslah kedustaan dukun, tukang ramal dan manusia yang setipe dengan mereka yang mengklaim bahwa mereka tahu tentang apa yang terjadi di masa yang akan datang. Jika ada yang mengatakan, “Saya tahu apa akan saya lakukan esok hari, bahkan saya telah menyusun jadwal kegiatan saya esok hari”. Maka hal ini tidaklah bertentangan dengan dalil Al Quran. Karena jadwal yang telah disusun tersebut barulah sebatas rencana yang belum tentu terlaksana. Siapa tahu keesokan harinya ada hal yang menghalangi kita sehingga kita tidak bisa melaksanakan jadwal tersebut, karena sakit misalnya. Atau boleh jadi di malam hari kematian menjemput kita sehingga jadwal tersebut tidaklah lagi berguna bagi kita. Maka hal ini sebagaimana yang sering disebutkan oleh orang, “Manusia boleh berencana tapi Allah jualah yang menentukan.”

Kunci Ilmu Gaib Kelima: Tentang Kematian

Kaum muslimin rahimakumullah, kunci ilmu gaib yang terakhir yang hanya diketahui oleh Allah semata adalah tentang kematian seseorang. Kapan dan di mana dia mati? Bagaimana akhir kehidupannya? Apakah dia akan mati di atas kebaikan atau keburukan? Maka hal ini hanya Allah sajalah yang tahu. Kematian ini merupakan awal mula bagi seseorang untuk memasuki alam akhirat. Jika ada yang mengatakan, “Bagaimana dengan orang yang dihukum mati? Bukankah dia telah tahu kapan dia akan mati dan tempat kematiannya?” Maka kembali kami tegaskan bahwa hal ini tidaklah bertentangan. Karena boleh jadi justru dia mati lebih awal sebelum waktu eksekusi dilakukan, atau bisa jadi tiba-tiba dia mendapatkan pengampunan sehingga tidak jadi dieksekusi. Demikian pula dengan tempat kematiannya, bisa jadi dia mati lebih dahulu di tempat yang tidak dia sangka-sangka sebelumnya. Oleh karena itu janganlah seseorang menunda untuk bertaubat walaupun dia telah divonis dengan hukuman mati karena bisa jadi kematian datang lebih cepat dan dia belum sempat untuk bertaubat, na’udzubillah…

Kaum muslimin rahimakumullah, demikianlah sekelumit penjelasan tentang kunci-kunci ilmu gaib yang hanya diketahui oleh Allah ta’ala semata. Barang siapa yang mengaku-ngaku bahwa ia tahu tentang salah satu di antara lima hal ini atau orang yang membenarkan pengakuan tersebut, maka orang tersebut telah kafir jika syarat-syaratnya telah terpenuhi dan tidak ada penghalang untuk memberikan vonis kafir. Oleh karena itu, hendaknya kita berhati-hati terutama dengan maraknya fenomena perdukunan dan dunia ramal belakangan ini. Jangan sampai kita menggadaikan dan menjual agama kita demi mendapatkan informasi yang belum jelas kebenarannya dari dukun dan tukang ramal tersebut. Semoga Allah menjauhkan kita dari dosa kesyirikan baik yang nampak maupun yang tersembunyi, yang kita ketahui maupun yang tidak kita ketahui. Amiin ya mujibbassaailiin. [Amrullah Akadhinta]


Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Kumpulan dongeng anak
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog

Blog Kalilangkap: Jangan Curhat kepada Selain Allah

Insya Allah pada posting kali ini kami akan mengangkat seruan-seruan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ditujukan kepada wanita-wanita Mukminah, baik berupa peringatan ataupun berupa perintah-perintah yang dikhususkan bagi mereka. Dan artikel-artikel tersebut kami ambil dari buku 50 Wasiat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi Wanita, oleh Majdi As-Sayyid Ibrahim, terbitan Pustaka Al-Kautsar, cetakan kelima.

KEUTAMAAN SABAR MENGHADAPI COBAAN

“Artinya : Dari Ummu Al-Ala’, dia berkata :”Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjengukku tatkala aku sedang sakit, lalu beliau berkata. ‘Gembirakanlah wahai Ummu Al-Ala’. Sesungguhnya sakitnya orang Muslim itu membuat Allah menghilangkan kesalahan-kesalahan, sebagaimana api yang menghilangkan kotoran emas dan perak”.(Isnadnya Shahih, ditakhrij Abu Daud, hadits nomor 3092).


Sudah barang tentu engkau akan menghadapi cobaan di dalam kehidupan dunia ini. Boleh jadi cobaan itu menimpa langsung pada dirimu atau suamimu atau anakmu ataupun anggota keluarga yang lain. Tetapi justru disitulah akan tampak kadar imanmu. Allah menurunkan cobaan kepadamu, agar Dia bisa menguji imanmu, apakah engkau akan sabar ataukah engkau akan marah-marah, dan adakah engkau ridha terhadap takdir Allah .?

Wasiat yang ada dihadapanmu ini disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala menasihati Ummu Al-Ala’ Radhiyallahu anha, seraya menjelaskan kepadanya bahwa orang mukmin itu diuji Rabb-nya agar Dia bisa menghapus kesalahan dan dosa-dosanya.

Selagi engkau memperhatikan kandungan Kitab Allah, tentu engkau akan mendapatkan bahwa yang bisa mengambil manfaat dari ayat-ayat dan mengambil nasihat darinya adalah orang-orang yang sabar, sebagaimana firman Allah.

“Artinya : Dan, di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah kapal-kapal (yang berlayar) di laut seperti gunung-gunung. Jikalau Dia menghendaki, Dia akan menenangkan angin, maka jadilah kapal-kapal itu terhenti di permukaan laut. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan) -Nya bagi setiap orang yang bersabar dan banyak bersyukur”. (Asy-Syura : 32-33)

Engkau juga akan mendapatkan bahwa Allah memuji orang-orang yang sabar dan menyanjung mereka. Firman-Nya.

“Artinya : Dan, orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan, mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa”. (Al-Baqarah : 177).

Engkau juga akan tahu bahwa orang yang sabar adalah orang-orang yang dicintai Allah, sebagaimana firman-Nya.

“Artinya : Dan, Allah mencintai orang-orang yang sabar”. (Ali Imran : 146).

Engkau juga akan mendapatkan bahwa Allah memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan balasan yang lebih baik daripada amalnya dan melipat gandakannya tanpa terhitung. Firman-Nya.

“Artinya : Dan, sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan”. (An-Nahl : 96).

“Artinya : Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. (Az-Zumar : 10).

Bahkan engkau akan mengetahui bahwa keberuntungan pada hari kiamat dan keselamatan dari neraka akan mejadi milik orang-orang yang sabar. Firman Allah.

“Artinya : Sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu, (sambil mengucapkan) :‘Salamun ‘alaikum bima shabartum’. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu” (Ar-Ra’d : 23-24).

Benar. Semua ini merupakan balasan bagi orang-orang yang sabar dalam menghadapi cobaan. Lalu kenapa tidak ? Sedangkan orang mukmin selalu dalam keadaan yang baik ?.

Dari Shuhaib radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik. Apabila mendapat kelapangan, maka dia bersyukur dan itu kebaikan baginya. Dan, bila ditimpa kesempitan, maka dia bersabar, dan itu kebaikan baginya”. (Ditakhrij Muslim, 8/125 dalam Az-Zuhud

Engkau harus tahu bahwa Allah mengujimu menurut bobot iman yang engkau miliki. Apabila bobot imanmu berat, Allah akan memberikan cobaan yang lebih keras. Apabila ada kelemahan dalam agamamu, maka cobaan yang diberikan kepadamu juga lebih ringan. Perhatikalah riwayat ini.

“Artinya : Dari Sa’id bin Abi Waqqash Radhiyallahu anhu, dia berkata. ‘Aku pernah bertanya : Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling keras cobaannya ?. Beliau menjawab. Para nabi, kemudian orang pilihan dan orang pilihan lagi. Maka seseorang akan diuji menurut agamanya. Apabila agamanya merupakan (agama) yang kuat, maka cobaannya juga berat. Dan, apabila di dalam agamanya ada kelemahan, maka dia akan diuji menurut agamanya. Tidaklah cobaan menyusahkan seorang hamba sehingga ia meninggalkannya berjalan di atas bumi dan tidak ada satu kesalahan pun pada dirinya”.

Isnadnya shahih, ditakhrij At-Tirmidzy, hadits nomor 1509, Ibnu Majah, hadits nomor 4023, Ad-Darimy 2/320, Ahmad 1/172

“Artinya : Dari Abu Sa’id Al-Khudry Radhiyallahu anhu, dia berkata. ‘Aku memasuki tempat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau sedang demam. Lalu kuletakkan tanganku di badan beliau. Maka aku merasakan panas ditanganku di atas selimut. Lalu aku berkata.’Wahai Rasulullah, alangkah kerasnya sakit ini pada dirimi’. Beliau berkata :’Begitulah kami (para nabi). Cobaan dilipatkan kepada kami dan pahala juga ditingkatkan bagi kami’. Aku bertanya.’Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berat cobaannya ?. Beliau menjawab.’Para nabi. Aku bertanya.’Wahai Rasulullah, kemudian siapa lagi?. Beliau menjawab.’Kemudian orang-orang shalih. Apabila salah seorang di antara mereka diuji dengan kemiskinan, sampai-sampai salah seorang diantara mereka tidak mendapatkan kecuali (tambalan) mantel yang dia himpun. Dan, apabila salah seorang diantara mereka sungguh merasa senang karena cobaan, sebagaimana salah seorang diantara kamu yang senang karena kemewahan”. (Ditakhrij Ibnu Majah, hadits nomor 4024, Al-Hakim 4/307, di shahihkan Adz-Dzahaby

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata :

“Artinya : Cobaan tetap akan menimpa atas diri orang mukmin dan mukminah, anak dan juga hartanya, sehingga dia bersua Allah dan pada dirinya tidak ada lagi satu kesalahanpun”. (Isnadnya Hasan, ditakhrij At-Tirmidzy, hadits nomor 2510. Dia menyatakan, ini hadits hasan shahih, Ahmad 2/287, Al-Hakim 1/346, dishahihkan Adz-Dzahaby

Selagi engkau bertanya :”Mengapa orang mukmin tidak menjadi terbebas karena keutamaannya di sisi Rabb.?”.

Dapat kami jawab :”Sebab Rabb kita hendak membersihan orang Mukmin dari segala maksiat dan dosa-dosanya. Kebaikan-kebaikannya tidak akan tercipta kecuali dengan cara ini. Maka Dia mengujinya sehingga dapat membersihkannya. Inilah yang diterangkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Ummul ‘Ala dan Abdullah bin Mas’ud. Abdullah bin Mas’ud pernah berkata.”Aku memasuki tempat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau sedang demam, lalu aku berkata.’Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau sungguh menderita demam yang sangat keras’.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata.”Benar. Sesungguhnya aku demam layaknya dua orang diantara kamu yang sedang demam”.

Abdullah bin Mas’ud berkata.”Dengan begitu berarti ada dua pahala bagi engkau ?”

Beliau menjawab. “Benar”. Kemudian beliau berkata.”Tidaklah seorang muslim menderita sakit karena suatu penyakit dan juga lainnya, melainkan Allah menggugurkan kesalahan-kesalahannya dengan penyakit itu, sebagaimana pohon yang menggugurkan daun-daunnya”. (Ditakhrij Al-Bukhari, 7/149. Muslim 16/127).

Dari Abi Sa’id Al-Khudry dan Abu Hurairah Radhiyallahu anhuma, keduanya pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata.

“Artinya : Tidaklah seorang Mukmin ditimpa sakit, letih, demam, sedih hingga kekhawatiran yang mengusiknya, melainkan Allah mengampuni kesalahan-kesalahannya”. (em>Ditakhrij Al-Bukhari 7/148-149, Muslim 16/130.)

Sabar menghadapi sakit, menguasai diri karena kekhawatiran dan emosi, menahan lidahnya agar tidak mengeluh, merupakan bekal bagi orang mukmin dalam perjalanan hidupnya di dunia. Maka dari itu sabar termasuk dari sebagian iman, sama seperti kedudukan kepala bagi badan. Tidak ada iman bagi orang yang tidak sabar, sebagaimana badan yang tidak ada artinya tanpa kepala. Maka Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu anhu berkata. “Kehidupan yang paling baik ialah apabila kita mengetahuinya dengan berbekal kesabaran”. Maka andaikata engkau mengetahui tentang pahala dan berbagai cobaan yang telah dijanjikan Allah bagimu, tentu engkau bisa bersabar dalam menghadapi sakit. Perhatikanlah riwayat berikut ini.

“Artinya : Dari Atha’ bin Abu Rabbah, dia berkata. “Ibnu Abbas pernah berkata kepadaku. ‘Maukah kutunjukkan kepadamu seorang wanita penghuni sorga .?. Aku menjawab. ‘Ya’. Dia (Ibnu Abbas) berkata. “Wanita berkulit hitam itu pernah mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seraya berkata.’Sesungguhnya aku sakit ayan dan (auratku) terbuka. Maka berdoalah bagi diriku. Beliau berkata.’Apabila engkau menghendaki, maka engkau bisa bersabar dan bagimu adalah sorga. Dan, apabila engkau menghendaki bisa berdo’a sendiri kepada Allah hingga Dia memberimu afiat’. Lalu wanita itu berkata. ‘Aku akan bersabar. Wanita itu berkata lagi. ‘Sesungguhnya (auratku) terbuka. Maka berdo’alah kepada Allah bagi diriku agar (auratku) tidak terbuka’. Maka beliau pun berdoa bagi wanita tersebut”. (Ditakhrij Al-Bukhari 7/150. Muslim 16/131)

Perhatikanlah, ternyata wanita itu memilih untuk bersabar menghadapi penyakitnya dan dia pun masuk sorga. Begitulah yang mestinya engkau ketahui, bahwa sabar menghadapi cobaan dunia akan mewariskan sorga. Diantara jenis kesabaran menghadapi cobaan ialah kesabaran wanita muslimah karena diuji kebutaan oleh Rabb-nya. Disini pahalanya jauh lebih besar.

Dari Anas bin Malik, dia berkata.”Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata.

“Artinya : Sesungguhnya Allah berfirman.’Apabila Aku menguji hamba-Ku (dengan kebutaan) pada kedua matanya lalu dia bersabar, maka Aku akan mengganti kedua matanya itu dengan sorga”. (Ditakhrij Al-Bukhari 7/151 dalam Ath-Thibb. Menurut Al-Hafidz di dalam Al-Fath, yang dimaksud habibatain adalah dua hal yang dicintai. Sebab itu kedua mata merupakan anggota badan manusia yang paling dicintai. Sebab dengan tidak adanya kedua mata, penglihatannya menjadi hilang, sehingga dia tidak dapat melihat kebaikan sehingga membuatnya senang. dan tidak dapat melihat keburukan sehingga dia bisa menghindarinya).

Maka engkau harus mampu menahan diri tatkala sakit dan menyembunyikan cobaan yang menimpamu. Al-Fudhail bin Iyadh pernah mendengar seseorang mengadukan cobaan yang menimpanya. Maka dia berkata kepadanya.”Bagaimana mungkin engkau mengadukan yang merahmatimu kepada orang yang tidak memberikan rahmat kepadamu .?”

Sebagian orang Salaf yang shalih berkata :”Barangsiapa yang mengadukan musibah yang menimpanya, seakan-akan dia mengadukan Rabb-nya”.

Yang dimaksud mengadukan di sini bukan membeberkan penyakit kepada dokter yang mengobatinya. Tetapi pengaduan itu merupakan gambaran penyesalan dan penderitaan karena mendapat cobaan dari Allah, yang dilontarkan kepada orang yang tidak mampu mengobati, seperti kepada teman atau tetangga.

Orang-orang Salaf yang shalih dari umat kita pernah berkata. “Empat hal termasuk simpanan sorga, yaitu menyembunyikan musibah, menyembunyikan (merahasiakan) shadaqah, menyembunyikan kelebihan dan menyembunyikan sakit”.


Selanjutnya perhatikan perkataan Ibnu Abdi Rabbah Al-Andalusy : “Asy-Syaibany pernah berkata.’Temanku pernah memberitahukan kepadaku seraya berkata.’Syuraih mendengar tatkala aku mengeluhkan kesedihanku kepada seorang teman. Maka dia memegang tanganku seraya berkata.’Wahai anak saudaraku, janganlah engkau mengeluh kepada selain Allah. Karena orang yang engkau keluhi itu tidak lepas dari kedudukannya sebagai teman atau lawan. Kalau dia seorang teman, berarti engkau berduka dan tidak bisa memberimu manfaat. Kalau dia seorang lawan, maka dia akan bergembira karena deritamu. Lihatlah salah satu mataku ini,’sambil menunjuk ke arah matanya’, demi Allah, dengan mata ini aku tidak pernah bisa melihat seorangpun, tidak pula teman sejak lima tahun yang lalu. Namun aku tidak pernah memberitahukannya kepada seseorang hingga detik ini. Tidakkah engkau mendengar perkataan seorang hamba yang shalih (Yusuf) :”Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku”. Maka jadikanlah Allah sebagai tempatmu mengadu tatkala ada musibah yang menimpamu. Sesungguhnya Dia adalah penanggung jawab yang paling mulia dan yang paling dekat untuk dimintai do’a”. (Al-Aqdud-Farid, 2/282).

Abud-Darda’ Radhiyallahu anhu berkata. “Apabila Allah telah menetapkan suatu takdir,maka yang paling dicintai-Nya adalah meridhai takdir-Nya”. (em>Az-Zuhd, Ibnul Mubarak, hal. 125).

Perbaharuilah imanmu dengan lafazh la ilaha illallah dan carilah pahala di sisi Allah karena cobaan yang menimpamu. Janganlah sekali-kali engkau katakan :”Andaikan saja hal ini tidak terjadi”, tatkala menghadapi takdir Allah. Sesungguhnya tida ada taufik kecuali dari sisi Allah.

http://groups.yahoo.com/group/assunnah/message/324


Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Kumpulan dongeng anak
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog

Blog Pacinan: BAGAIMANA CARA BERSYUKUR?

Di atas telah dijelaskan bahwa ada tiga sisi dari syukur,
yaitu dengan hati, lidah, dan anggota tubuh lainnya. Berikut
akan dirinci penjelasan tentang masing-masing sisi tersebut.

a. Syukur dengan hati

Syukur dengan hati dilakukan dengan menyadari sepenuhnya bahwa
nikmat yang diperoleh adalah semata-mata karena anugerah dan
kemurahan Ilahi. Syukur dengan hati mengantar manusia untuk
menerima anugerah dengan penuh kerelaan tanpa menggerutu dan
keberatan betapapun kecilnya nikmat tersebut. Syukur ini juga
mengharuskan yang bersyukur menyadari betapa besar kemurahan,
dan kasih sayang Ilahi sehingga terlontar dari lidahuya pujian
kepada-Nya. Qarun yang mengingkari keberhasilannya atas
bantuan Ilahi, dan menegaskan bahwa itu diperolehnya
semata-mata karena kemampuannya, dinilai oleh Al-Quran sebagai
kafir atau tidak mensyukuri nikmat-Nya (Baca kisahnya dalam
surat Al-Qashash (28): 76-82).

Seorang yang bersyukur dengan hatinya saat ditimpa mala petaka
pun, boleh jadi dapat memuji Tuhan, bukan atas malapetaka itu,
tetapi karena terbayang olehnya bahwa yang dialaminya pasti
lebih kecil dari kemungkinan lain yang dapat terjadi. Dari
sini syukur –seperti makna yang dikemukakan dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia yang dikutip di atas– diartikan oleh orang
yang bersyukur dengan “untung” (merasa lega, karena yang
dialami lebih ringan dari yang dapat terjadi).

Dari kesadaran tentang makna-makna di atas, seseorang akan
tersungkur sujud untuk menyatakan perasaan syukurnya kepada
Allah.

Sujud syukur adalah perwujudan dari kesyukuran dengan hati,
yang dilakukan saat hati dan pikiran menyadari betapa besar
nikmat yang dianugerahkan Allah. Bahkan sujud syukur dapat
dilakukan saat melihat penderitaan orang lain dengan
membandingkan keadaannya dengan keadaan orang yang sujud.
(Tentu saja sujud tersebut tidak dilakukan dihadapan si
penderita itu).

Sujud syukur dilakukan dengan meletakkan semua anggota sujud
di lantai yakni dahi, kedua telapak tangan, kedua lutut dan
kedua ujung jari kaki)–seperti melakukan sujud dalam shalat.
Hanya saja sujud syukur cukup dengan sekali sujud, bukan dua
kali sebagaimana dalam shalat. Karena sujud itu bukan bagian
dan shalat, maka mayoritas ulama berpendapat bahwa sujud sah
walaupun dilakukan tanpa berwudu, karena sujud dapat dilakukan
sewaktu-waktu dan secara spontanitas. Namun tentunya akan
sangat baik bila melakukan sujud disertai dengan wudu.

b. Syukur dengan lidah

Syukur dengan lidah adalah mengakui dengan ucapan bahwa sumber
nikmat adalah Allah sambil memuji-Nya.


Al-Quran, seperti telah dikemukakan di atas, mengajarkan agar
pujian kepada Allah disampaikan dengan redaksi
“al-hamdulillah.”

Hamd (pujian) disampaikan secara lisan kepada yang dipuji,
walaupun ia tidak memberi apa pun baik kepada si pemuji maupun
kepada yang lain.

Kata “al” pada “al-hamdulillah” oleh pakar-pakar bahasa
disebut al lil-istighraq, yakni mengandung arti “keseluruhan”.
Sehingga kata “al-hamdu” yang ditujukan kepada Allah
mengandung arti bahwa yang paling berhak menerima segala
pujian adalah Allah Swt., bahkan seluruh pujian harus tertuju
dan bermuara kepada-Nya.

Jika kita mengembalikan segala puji kepada Allah, maka itu
berarti pada saat Anda memuji seseorang karena kebaikan atau
kecantikannya, maka pujian tersebut pada akhirnya harus
dikembalikan kepada Allah Swt., sebab kecantikan dan kebaikan
itu bersumber dari Allah. Di sisi lain kalau pada 1ahirnya ada
perbuatan atau ketetapan Tuhan yang mungkin oleh kacamata
manusia dinilai “kurang baik”, maka harus disadari bahwa
penilaian tersebut adalah akibat keterbatasan manusia dalam
menetapkan tolok ukur penilaiannya. Dengan demikian pasti ada
sesuatu yang luput dari jangkauan pandangannya sehingga
penilaiannya menjadi demikian. Walhasil, syukur dengan lidah
adalah “al- hamdulillah” (segala puji bagi Allah).

c. Syukur dengan perbuatan

Nabi Daud a.s. beserta putranya Nabi Sulaiman a.s. memperoleh
aneka nikmat yang tiada taranya. Kepada mereka sekeluarga
Allah berpesan,

Bekerjalah wahai keluarga Daud sebagai tanda syukur! (QS
Saba [34]: 13).

Yang dimaksud dengan bekerja adalah menggunakan nikmat yang
diperoleh itu sesuai dengan tujuan penciptaan atau
penganugerahannya.

Ini berarti, setiap nikmat yang diperoleh menuntut penerimanya
agar merenungkan tujuan dianugerahkannya nikmat tersebut oleh
Allah. Ambillah sebagai contoh lautan yang diciptakan oleh
Allah Swt. Ditemukan dalam Al-Quran penjelasan tentang tujuan
penciptaannya melalui firman-Nya:

Dialah (Allah) yang menundukkan 1autan (untuk kamu) agar
kamu dapat memakan darinya daging (ikan) yang segar, dan
(agar) kamu mengeluarkan dan lautan itu perhiasan yang
kamu pakai, dan kamu melihat bahtera berlayar padanya,
dan supaya kamu mencari karunia-Nya (selain yang telah
disebut) semoga kamu bersyukur (QS An-Nahl [16]: 14).

Ayat ini menjelaskan tujuan penciptaan laut, sehingga
mensyukuri nikmat laut, menuntut dari yang bersyukur untuk
mencari ikan-ikannya, mutiara dan hiasan yang lain, serta
menuntut pula untuk menciptakan kapal-kapal yang dapat
mengarunginya, bahkan aneka pemanfaatan yang dicakup oleh
kalimat “mencari karunia-~Nya”.

Dalam konteks inilah terutama realisasi dan janji Allah,

Apabila kamu bersyukur maka pasti akan Kutambah
(nikmat-Ku) (QS Ibrahim [14]: 7)

Betapa anugerah Tuhan tidak akan bertambah, kalau setiap
jengkal tanah yang terhampar di bumi, setiap hembusan angin
yang bertiup di udara, setiap tetes hujan yang tercurah dan
langit dipelihara dan dimanfaatkan oleh manusia?

Di sisi lain, lanjutan ayat di atas menjelaskan bahwa “Kalau
kamu kufur (tidak mensyukuri nikmat atau menutupinya tidak
menampakkan nikmatnya yang masih terpendam di perut bumi, di
dasar laut atau di angkasa), maka sesungguhnya siksa-Ku amat
pedih.”

Suatu hal yang menarik untuk disimak dari redaksi ayat ini
adalah kesyukuran dihadapkan dengan janji yang pasti lagi
tegas dan bersumber dari-Nya langsung (QS Ibrahim [14):7)
Tetapi akibat kekufuran hanya isyarat tentang siksa; itu pun
tidak ditegaskan bahwa ia pasti akan menimpa yang tidak
bersyukur(QS Ibrahim [14]:7).

Siksa dimaksud antara lain adalah rasa lapar, cemas, dan
takut.

Allah telah membuat satu perumpamaan (dengan) sebuah
negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya
datang kepadanya melimpah ruah dari segenap penjuru,
tetapi (penduduknya) kufur (tidak bersyukur atau tidak
bekerja untuk menampakkan) nikmat-nikmat Allah (yang
terpendam). Oleh karena itu, Allah menjadikan mereka
mengenakan pakaian kelaparan dan ketakutan disebabkan
oleh perbuatan (ulah) yang selalu mereka lakukan (QS
An-Nahl [16]: 112).

Pengalaman pahit yang dilukiskan Allah ini, telah terjadi
terhadap sekian banyak masyarakat bangsa, antara lain, kaum
Saba –satu suku bangsa yang hidup di Yaman dan yang pernah
dipimpin oleh seorang Ratu yang amat bijaksana, yaitu Ratu
Balqis Surat Saba (34): 15-19 menguraikan kisah mereka, yakni
satu masyarakat yang terjalin persatuan dan kesatuannya,
melimpah ruah rezekinya dan subur tanah airnya. Negeri
merekalah yang dilukiskan oleh Al-Quran dengan baldatun
thayyibatun wa Rabbun Ghafur. Mereka pulalah yang diperintah
dalam ayat-ayat tersebut untuk bersyukur, tetapi mereka
berpaling dan enggan sehingga akhirnya mereka
berserak-serakkan, tanahnya berubah menjadi gersang,
komunikasi dan transportasi antar kota-kotanya yang tadinya
lancar menjadi terputus, yang tinggal hanya kenangan dan buah
bibir orang saja. Demikian uraian Al-Quran. Dalam konteks
keadaan mereka, Allah berfirman,

Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka
disebabkan kekufuran (keengganan bersyukur) mereka. Kami
tidak menjatuhkan siksa yang demikian kecuali kepada
orang-orang yang kufur(QS Saba [34]: 17).

Itulah sebagian makna firman Allah yang sangat populer:

Jika kamu bersyukur pasti akan Kutambah (nikmat-Ku)
untukmu, dan bila kamu kufur, maka sesungguhnya siksa-Ku
amat pedih (QS Ibrahim [14]: 7).


Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Kumpulan dongeng anak
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog

Blog Bumiayu: Tentang Syukur dan Manfaatnya

Kata “syukur” adalah kata yang berasal dari bahasa Arab. Kata
ini dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai: (1)
rasa terima kasih kepada Allah, dan (2) untunglah (menyatakan
lega, senang, dan sebagainya).


Pengertian kebahasaan ini tidak sepenuhnya sama dengan
pengertiannya menurut asal kata itu (etimologi) maupun menurut
penggunaan Al-Quran atau istilah keagamaan.

Dalam Al-Quran kata “syukur” dengan berbagai bentuknya
ditemukan sebanyak enam puluh empat kali. Ahmad Ibnu Faris
dalam bukunya Maqayis Al-Lughah menyebutkan empat arti dasar
dari kata tersebut yaitu,

a. Pujian karena adanya kebaikan yang diperoleh.
Hakikatnya adalah merasa ridha atau puas dengan sedikit
sekalipun, karena itu bahasa menggunakan kata ini
(syukur) untuk kuda yang gemuk namun hanya membutuhkan
sedikit rumput. Peribahasa juga memperkenalkan ungkapan
Asykar min barwaqah (Lebih bersyukur dari tumbuhan
barwaqah). Barwaqah adalah sejenis tumbuhan yang tumbuh
subur, walau dengan awan mendung tanpa hujan.

b. Kepenuhan dan kelebatan. Pohon yang tumbuh subur
dilukiskan dengan kalimat syakarat asy-syajarat.

c. Sesuatu yang tumbuh di tangkai pohon (parasit).

d. Pernikahan, atau alat kelamin.

Agaknya kedua makna terakhir ini dapat dikembalikan dasar
pengertiannya kepada kedua makna terdahulu. Makna ketiga
sejalan dengan makna pertama yang mengambarkan kepuasan dengan
yang sedikit sekalipun, sedang makna keempat dengan makna
kedua, karena dengan pernikahan (alat kelamin) dapat
melahirkan banyak anak.

Makna-makna dasar tersebut dapat juga diartikan sebagai
penyebab dan dampaknya, sehingga kata “syukur” mengisyaratkan
“Siapa yang merasa puas dengan yang sedikit, maka ia akan
memperoleh banyak, lebat, dan subur.”

Ar-Raghib Al-Isfahani salah seorang yang dikenal sebagai pakar
bahasa Al-Quran menulis dalam Al-Mufradat fi Gharib Al-Quran,
bahwa kata “syukur” mengandung arti “gambaran dalam benak
tentang nikmat dan menampakkannya ke permukaan.” Kata ini
–tulis Ar-Raghib– menurut sementara ulama berasal dari kata
“syakara” yang berarti “membuka”, sehingga ia merupakan lawan
dari kata “kafara” (kufur) yang berarti menutup –(salah satu
artinya adalah) melupakan nikmat dan menutup-nutupinya.

Makna yang dikemukakan pakar di atas dapat diperkuat dengan
beberapa ayat Al-Quran yang memperhadapkan kata syukur dengan
kata kufur, antara lain dalam QS lbrahim (14): 7:

Jika kamu bersyukur pasti akan Kutambah (nikmat-Ku)
untukmu, dan bila kamu kufur, maka sesungguhnya siksa-Ku
amat pedih.

Demikian juga dengan redaksi pengakuan Nabi Sulaiman yang
diabadikan Al-Quran:

Ini adalah sebagian anugerah Tuhan-Ku, untuk mengujiku
apakah aku bersyukur atau kufur (QS An-Naml [27]: 40).

Hakikat syukur adalah “menampakkan nikmat,” dan hakikat
kekufuran adalah menyembunyikannya. Menampakkan nikmat antara
lain berarti menggunakannya pada tempat dan sesuai dengan yang
dikehendaki oleh pemberinya, juga menyebut-nyebut nikmat dan
pemberinya dengan lidah:

Adapun terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah engkau
menyebut-nyebut (QS Adh-Dhuha [93]: ll).

Nabi Muhammad Saw. pun bersabda,

Allah senang melihat bekas (bukti) nikmat-Nya dalam
penampilan hamba-Nya (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi).

Sementara ulama ketika menafsirkan firman Allah, “Bersyukurlah
kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku” (QS
Al-Baqarah [2]: 152), menjelaskan bahwa ayat ini mengandung
perintah untuk mengingat Tuhan tanpa melupakannya, patuh
kepada-Nya tanpa menodainya dengan kedurhakaan. Syukur orang
demikian lahir dari keikhlasan kepada-Nya, dan karena itu,
ketika setan menyatakan bahwa, “Demi kemuliaan-Mu, Aku akan
menyesatkan mereka manusia) semuanya” (QS Shad [38]: 82),
dilanjutkan dengan pernyataan pengecualian, yaitu, “kecuali
hamba-hamba-Mu yang mukhlash di antara mereka” (QS Shad [38]:
83). Dalam QS Al-A’raf (7): 17 Iblis menyatakan, “Dan Engkau
tidak akan menemukan kebanyakan dari mereka {manusia)
bersyukur.” Kalimat “tidak akan menemukan” di sini serupa
maknanya dengan pengecualian di atas, sehingga itu berarti
bahwa orang-orang yang bersyukur adalah orang-orang yang
mukhlish (tulus hatinya).

Dengan demikian syukur mencakup tiga sisi:

a. Syukur dengan hati, yaitu kepuasan batin atas
anugerah.

b. Syukur dengan lidah, dengan mengakui anugerah dan
memuji pemberinya.

c. Syukur dengan perbuatan, dengan memanfaatkan anugerah
yang diperoleh sesuai dengan tujuan penganugerahannya.

Uraian Al-Quran tentang syukur mencakup sekian banyak aspek.
Berikut akan dikemukakan sebagian di antaranya.

SIAPA YANG HARUS DISYUKURI

Pada prinsipnya segala bentuk kesyukuran harus ditujukan
kepada Allah Swt. Al-Quran memerintahkan umat Islam untuk
bersyukur setelah menyebut beberapa nikmat-Nya,

Maka ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat pula
kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu
mengingkari (nikmat)-Ku (QS Al-Baqarah [2]: 152).

Dalam QS Luqman (31): 12 dinyatakan:

Dan sesungguhnya Kami telah menganugerahkan kepada
Luqman hikmah, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan
barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka
sesungguhnya ia bersyukur untuk (manfaat) dirinya
sendiri.”

Namun demikian, walaupun kesyukuran harus ditujukan kepada
Allah, dan ucapan syukur yang diajarkan adalah “alhamdulillah”
dalam arti “segala puji (hanya) tertuju kepada Allah,” namun
ini bukan berarti bahwa kita dilarang bersyukur kepada mereka
yang menjadi perantara kehadiran nikmat Allah. Al-Quran secara
tegas memerintahkan agar mensyukuri Allah dan mensyukuri kedua
orang tua (yang menjadi perantara kehadiran kita di pentas
dunia ini.) Surat Luqman (31): 14 menjelaskan hal ini, yaitu
dengan firman-Nya:

Bersyukurlah kepada-Ku, dan kepada dua orang ibu
bapakmu; hanya kepada-Kulah kembalimu.

Walaupun Al-Quran hanya menyebut kedua orangtua –selain
Allah– yang harus disyukuri, namun ini bukan berarti bahwa
selain mereka tidak boleh disyukuri.

Siapa yang tidak mensyukuri manusia, maka dia tidak
mensyukuri Allah (Begitu bunyi suatu rtwayat yang
disandarkan kepada Rasul Saw).

MANFAAT SYUKUR BUKAN UNTUK TUHAN

Al-Quran secara tegas menyatakan bahwa manfaat syukur kembali
kepada orang yang bersyukur, sedang Allah Swt. sama sekali
tidak memperoleh bahkan tidak membutuhkan sedikit pun dari
syukur makhluk-Nya.



Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia
bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan
barangsiapa yang kufur (tidak bersyukur), maka
sesungguhnya Tuhanku Mahakaya (tidak membutuhkan
sesuatu) lagi Mahamulia (QS An-Naml [27]: 40)

Karena itu pula, manusia yang meneladani Tuhan dalam
sifat-sifat-Nya, dan mencapai peringkat terpuji, adalah yang
memberi tanpa menanti syukur (balasan dari yang diberi) atau
ucapan terima kasih.

Al-Quran melukiskan bagaimana satu keluarga (menurut riwayat
adalah Ali bin Abi Thalib dan istrinya Fathimah putri
Rasulullah Saw.) memberikan makanan yang mereka rencanakan
menjadi makanan berbuka puasa mereka, kepada tiga orang yang
membutuhkan dan ketika itu mereka menyatakan bahwa,

Sesungguhnya kami memberi makanan untukmu hanyalah
mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki
balasan darimu, dan tidak pula pujian (ucapan terima
kasih) (QS Al-Insan [76]: 9).

Walaupun manfaat syukur tidak sedikit pun tertuju kepada
Allah, namun karena kemurahan-Nya, Dia menyatakan diri-Nya
sebagai Syakirun ‘Alim (QS Al-Baqarah [2]: 158), dan Syakiran
Alima (QS An-Nisa’ [4]: 147), yang keduanya berarti, Maha
Bersyukur lagi Maha Mengetahui, dalam arti Allah akan
menganugerahkan tambahan nikmat berlipat ganda kepada makhluk
yang bersyukur. Syukur Allah ini antara lain dijelaskan oleh
firman-Nya dalam surat Ibrahim (14): 7 yang dikutip di atas.

Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Kumpulan dongeng anak
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog