Aneka Perlengkapan Sholat

Izzah Store menjual aneka Perlengkapan Sholat, seperti Mukena, Sajadah, Sarung, Peci, dll tersedia untuk anak dan dewasa

Aneka Parfum Alrehab

Izzah Store menjual parfum Alrehab original Jeddah Arab Saudi dengan berbagai varian aroma, seperti Soft, Lovely, Dalal, Fruit, Kholiji, Blanc, Sabaya, Aseel, Tooty Musk, dll

Aneka Pelengkapan Sholat untuk Anak

Izzah Store menjual aneka Perlengkapan Sholat, seperti Mukena, Sajadah, Sarung, Peci, dll tersedia untuk anak dan dewasa

Mari Membaca Alquran

Mari kita membaca Alquran, karena di Hari Kiamat nanti Alquran akan memberi syafaat kepada siapa saja yang gemar membacanya apalagi menghafalnya. Bacalah secara tartil dan perlahan-lahan. Jangan lewatkan hari-hari anda tanpa membaca Alquran..

Kumpulan Dongeng Anak

Anda hobi membaca dongeng-dongeng anak, di sini anda akan menemukannya. Mulai dari dongeng si kancil, si belalang, si kerbau, si kambing dan sebagainya. Cobalah dongengkan kepada buah hati anda menjelang tidur agar anak menjadi cerdas dan pandai bertutur.

Kumpulan Cerita Pendek

Anda penggemar Cerita Pendek atau Cerita panjang, di sini disajikan beberapa cerita islami yang sarat dengan pelajaran kehidupan. Cerita yang kadang memberi inspirasi kita dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.

Kisah Humor para Sufi

Anda kenal tokoh-tokoh sufi zaman dulu, di sini kami sajikan banyak sekali kisah-kisah lucu dan cerdik tokoh sufi dari Zaman dulu itu. Kisah kocak yang kadang menyindir diri kita yang membacanya.

Kisah Abu Nawas

Anda kenal Abunawas atau Nasrudin Hoja, di sini kami sajikan banyak sekali kisah-kisah lucu dan cerdik tokoh dari Zaman dulu itu. Kisah kocak yang kadang menyindir diri kita yang membacanya.

Cintailah Allah Melebihi Segalanya

Seberapa besar cinta kita kepada Allah, silakan tanya pada diri sendiri. Kita kadang lebih menghargai atasan kita daripada mendahulukan Allah. Sholat kadang ditunda ketika kita diundang oleh boss kita. Sholat kadang ditinggalkan karena asyik nonton Final Sepak Bola di televisi.

Aneka Sirwal dan baju gamis

Izzah Store Menjual aneka Sirwal dan gamis serta Jubah seperti Atasan Pakistan, Jubah Arab, Gamis Yaman, dll Juga Menyediakan baju Koko

Aneka Accessories

Izzah Store Menjual aneka Acessories seperti Sabuk Bonceng Anak, Sepatu Boots, Sorban, Siwak, dll

Aneka Gamis Pakistan dan Jubah Arab

Izzah Store Menjual aneka gamis dan Jubah seperti Atasan Pakistan, Jubah Arab, Gamis Yaman, dll Juga Menyediakan baju Koko

Aneka Sirwal, Celana Pangsi dan Cingkrang

Izzah Store Menjual aneka celana sirwal dan baju pangsi khas Sunda. Ada Sirwal biasa, Sirwal Loreng, Sirwal Boxer, Sirwal 3/4, dll

Keranda Kendaraan Masa Depan

Inilah yang namanya KERANDA yaitu kendaraan istimewa tanpa bensin (karena harganya selalu naik) yang. akan membawa kita ke tempat peristirahatan terakhir. Kendaraan sederhana tanpa AC, tanpa Pemutar Musik, dan akan berjalan dengan digotong kerabat kita.

Mari Mengingat Kematian

Berapapun lamanya kita hidup di dunia suatu saat nanti pasti akan berakhir. Dan akhir dari kehidupan dunia adalah datangnya kematian. Suka atau tidak suka kita akan tetap menemuinya. Oleh karena itu ingatlah selalu akan pemutus kenikmatan dunia yaitu MATI.

Showing posts with label pemimpin. Show all posts
Showing posts with label pemimpin. Show all posts

PEMUDA SEJATI



Pemuda adalah harapan bangsa dan penerus kepemimpinan negeri ini. Di pundak para pemudalah letak kemajuan dan kelangsungan negeri ini. Bila geNerasi mudanya sekarang ini sudah doyan dan hobi korupsi maka alamat bangkrutlah negeri ini. Begitu pun bila generasi mudanya sudah gemar dan doyan maksiat, maka nantinya negeri ini akan menjadi negeri prostitusi.

Namun sebaliknya bila generasi mudanya adalah pemuda dan pemudi yang berani, cerdas, amanah, dan jujur serta penuh tanggung jawab maka negeri ini Insya Allah akan aman, tentram, maju dan berkembang pesat.



Pemuda adalah aset penting dari sebuah bangsa, begitulah menurut saya. Jika pemuda – pemuda dalam suatu bangsa baik, maka bukan tidak mungkin negara yang berada dalam kondisi terpuruk akan bangkit kembali.

Lalu pertanyaannya adalah bagaimana dengan pemuda – pemuda Indonesia saat ini?

Ada sebuah kisah tentang pemuda luar biasa dan inspiratif yang akan saya bagi kepada Anda, kisah ini saya dapat ketika saya mengikuti sebuah pelatihan. Kisah ini terjadi pada jaman kekhalifahan Umar bin Khatab.

Berikut kisah pemuda – pemuda luar biasa itu:

gambar ini diambil dari http://www.glowimages.com/

Di tengah padang pasir yang gersang, ada seorang pemuda yang tengah menempuh perjalanan cukup jauh. Dalam perjalanannya, pemuda ini hanya ditemani oleh seekor unta (unta inilah harta satu – satunya yang dimiliki untuk menemani perjalanannya). Di tengah perjalanan yang melelahkan ini, sang pemuda menemukan oase (mata air di tengah gurun). Bagaikan menemukan sesuatu yang luar biasa, pemuda ini tidak menyia – nyiakan kesempatan untuk beristirahat melepas lelah sembari meminum air dari dalam oase tersebut (mungkin bagi kita yang berada di Indonesia, menemukan air bukanlah hal yang sulit, namun tentu berbeda dengan kondisi yang dialami oleh pemuda tersebut). Unta sang pemuda pun melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan tuannya. Karena kelelahan yang luar biasa, setelah mengikat untanya ke sebuah pohon yang berada di tepian oase , sang pemuda pun tertidur dengan lelapnya.

Karena rasa lelah yang melandanya, pemuda tersebut tidak menyadari bahwa ikatan tali untanya tidak terlalu kuat. Sehingga untanya dengan mudah lepas dan berjalan meninggalkan tuannya yang sedang tertidur lelap. Di tengah perjalanan, sang unta menemukan sebuah perkebunan dengan tanaman yang menggiurkan. Karena lapar, si unta pun memasuki kebun tersebut dan langsung memakan apa yang ada di dalamnya.

Tidak lama kemudian, munculah pemilik perkebunan. Pemiliknya adalah seorang kakek – kakek tua renta. Dengan tenaga yang dimilikinya, sang kakek berusaha mengusir si unta agar keluar dari kebunnya. Namun mengingat usianya yang sudah renta, sang kakek tidak mampu mengusir unta tersebut. Berungkali sang kakek mencoba menghalau si unta dari kebunnya, namun tak kunjung berhasil. Sang unta justru semakin lahap memakan tanaman yang berada di bagian dalam kebun.
Melihat hal tersebut, sang kakek memutuskan membunuh unta itu untuk menyelamatkan kebunnya. Setelah membunuh unta tersebut, sang kakek menunggu kalau – kalau ada seseorang yang mencari untanya yang hilang.

Sementara itu di tepian oase, sang pemuda yang sedang asyik tertidur akhirnya terbangun. Alangkah kagetnya ia, ketika melihat untanya hilang. Ia pun mencari unta kesayangannya. Ketika sampai di kebun sang kakek, ia menemukan untanya dalam keadaan tak bernyawa. Ia sangat sedih sekaligus marah, sambil mengatakan “ Siapa yang membunuh untaku?”

Melihat sang pemuda, si kakek datang menghampiri seraya berkata, “Maaf anak muda apakah ini untamu?”. Sang pemuda berkata, “benar, dan siapakah gerangan yang membunuhnya?”. Sang kakek menjawab dengan pelan, “Aku minta maaf, akulah yang membunuh untamu karena untamu telah merusak kebunku dan aku tak kuasa untuk menghalaunya keluar. Jadi kubunuh ia, maafkan aku.” Mendengar jawaban sang kakek, sang pemuda tidak bisa menerima dan marah besar meskipun sang kakek sudah meminta maaf dan menyampaikan alasannya. Dengan kemarahan yang sangat, maka ia pun lepas kontrol dan dibunuhnya sang kakek yang sudah renta itu.

Anak dari sang kakek yang baru pulang dan melihat ayahnya meninggal di tangan sang pemuda tidak bisa menerima perbuatan pemuda tersebut terhadap ayahnya, maka iapun menuntut keadilan dan membawa kasus ini kepada khalifah Umar bin Khatab. Anak dari sang kakek berkata kepada khalifah Umar, “Ya Amirul Mukminin, saya tidak bisa menerima perlakuan pemuda tersebut terhadap ayah saya. Maka saya meminta keadilan kepadamu dan menuntut hukuman qisas (mati) atasnya.”

Mendengar laporan tersebut, dengan beberapa pertimbangan, maka diputuskan bahwa hukuman qisas dijatuhkan kepada sang pemuda. Sang pemuda pun berkata, “Saya menerima hukuman qisas atas diri saya, namun ijinkan saya pulang terlebih dahulu dalam waktu 3 hari saja untuk melunasi hutang – hutang saya dan berpamitan dengan keluarga saya.” Semua orang yang berada di tempat tersebut berpikir bahwa pemuda ini pasti mengada – ada untuk melarikan diri dari hukuman qisas. Namun tidak demikian dengan khalifah Umar bin Khatab, beliau berkata,” Baiklah kuijinkan kau pulang dalam waktu 3 hari untuk menyelesaikan tanggunganmu, namun aku minta seseorang yang bisa menjadi jaminanmu.” Sang pemuda bingung harus menjaminkan siapa? Karena dia hanyalah seorang musafir yang berkelana seorang diri. Dan orang – orang yang berada di tempat itu juga pasti enggan untuk menjaminkan dirinya.

Dan diluar dugaan semua orang yang ada di situ, majulah sahabat Rasulullah, Abu Dzar Al-Ghifari dengan tenang seraya berkata, “ Aku yang menjadi jaminan atas pemuda ini.” Sontak semua sahabat dan orang yang berada di situ terkaget – kaget dan sangat menyayangkan tindakan Abu Dzar Al-Ghifari seorang sahabat kesayangan Rasulullah yang dengan berani menjaminkan dirinya untuk seorang pemuda yang tidak dikenalnya.

Dengan jaminan dari Abu Dzar Al-Ghifari, maka diijinkanlah pemuda itu untuk pulang ke kampung halamannya selama 3 hari. Bahkan untuk mempermudah perjalanannya, sang pemuda dipinjami seekor kuda. Sang pemuda pun tidak menyia – nyiakan kesempatan yang diberikan, ia memacu kudanya dengan kencang meninggalkan orang – orang disekitarnya.

Satu hari ditunggu, sang pemuda tak kunjung kembali. Hari kedua pun tak nampak tanda – tanda kedatangan sang pemuda. Sampai detik – detik menjelang dijatuhkannya hukuman qisas, sang pemuda yang ditunggu tak kunjung datang. Semua orang mulai khawatir, karena kalau pemuda itu tak datang maka nyawa Abu Dzar Al-Ghifari taruhannya. Detik demi detik berlalu, Abu Dzar Al-Ghifari mulai maju ke tempat dimana hukuman qisas akan dilangsungkan dengan senyum tersungging di wajahnya(di wajahnya tak tampak sedikit pun ketegangan), siap menggantikan sang pemuda untuk diqisas.
Ketika hukuman qisas akan dilangsungkan, dari kejauhan tampak debu bergulung disertai derap langkah kuda yang dipacu dengan kecepatan penuh. Semua orang memandang ke arah gulungan debu tersebut, dan perlahan – lahan mulai terlihatlah sang pemuda yang ditungu – tunggu, dengan sekuat tenaga memacu kudanya agar tidak terlambat sampai di tempat dimana hukuman qisas dijatuhkan atas dirinya. Semua orang bernafas lega, karena Abu Dzar Al-Ghifari tidak jadi diqisas.

Pemuda tersebut dengan terengah – engah, turun dari kudanya sambil berkata, “sekarang saya sudah siap untuk diqisas ya amirul mukminin.” Khalifah Umar bin Khatab terheran – heran sekaligus takjub terhadap sikap sang pemuda, sebelum meng-qisas pemuda tersebut beliau bertanya, “Hai anak muda, apa yang membuatmu kembali kesini untuk menyerahkan nyawamu? Padahal kalau mau, kau bisa saja tidak kembali dan otomatis dirimu akan terbebas dari hukuman qisas ini.” Sang pemuda pun menjawab,”Ya amirul mukminin saya hanya tidak ingin orang – orang mengatakan bahwa tidak ada lagi dari umat Muhammad saw yang menepati janjinya dan saya juga tidak ingin orang – orang mengatakan bahwa tidak ada lagi pemuda dari umat Muhammad saw yang kesatria dan berani mempertanggungjawabkan perbuatannya.” Mendengar jawaban tersebut semua orang yang semula meragukan sang pemuda menjadi kagum terhadapnya. Abu Dzar Al-Ghifari pun tersenyum mendengar jawaban sang pemuda.

Kemudian Khalifah Umar bertanya kepada Abu Dzar, “Ya abu Dzar apa yang menyebabkan dirimu begitu yakin menjaminkan dirimu untuk pemuda ini?” maka Abu Dzar Al-Ghifari menjawab,” Aku hanya tidak ingin orang – orang mengatakan bahwa tidak ada lagi dari umat Muhammad saw yang bersedia berkorban untuk saudaranya yang seiman.” Semakin kagumlah orang – orang yang berada di tempat itu.

Mendengar jawaban sang pemuda dan Abu Dzar Al-Ghifari, anak dari sang kakek yang juga seorang pemuda berkata kepada khalifah Umar bin Khatab, “Ya amirul mukminin saya mencabut tuntutan hukuman qisas terhadap pemuda itu.” Umar bin Khatab pun semakin heran seraya bertanya, “Mengapa engkau mencabut tuntutanmu?”, anak sang kakek menjawab,”Karena saya tidak ingin orang – orang mengatakan bahwa tidak ada lagi dari umat Muhammad saw yang mau memaafkan saudaranya yang seiman.”

Sungguh kisah pemuda – pemuda yang luar biasa, hati saya selalu bergetar setiap mendengar kisah ini diceritakan.

Bagaimana dengan kita, sebagai pemuda/ pemudi apakah kita sudah menjadi seperti mereka? atau bagi para orang tua apakah sudah mempersiapkan putra – putrinya untuk menjadi pemuda/ pemudi sejati harapan bangsa?

Anda mendapat 1 Pesan

Silakan Buka Pesan Sekarang di Sini

Penting!! Perlu Anda Baca:@ Bisnis Pulsa Paling Menguntungkan@ Cara Bikin Blog Cantik dan Dinamis@ Kumpulan Tutorial Blog Lengkap@ Kumpulan Dongeng Anak@ Bukan Berita Biasa@ Trik dan rumus matematika@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah@ Tips dan Trik belajar yang efektif@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus@ Pasang Iklan gratis@ Kumpulan widget gratis@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah @ Seputar Koleksi Buku@ Seputar Resensi Buku@ Kumpulan tutorial Blog

Peran Pemuda di Zaman ini



Pemuda sejati adalah yang sanggup menyatakan, ’’Aku adalah aku”. Bukannya pemuda yang berkata, ’’Aku adalah anak si Anu”. (Hadis Nabi Muhammad SAW)

KETIKA berbondong orang-orang dari segala penjuru ingin menjadi dirinya sendiri. Mereka telah melakukan perjalanan panjang dengan mengembara. Sepanjang tahun dan sepanjang kepulauan, mereka berpetualang menembus hutan semak-belukar, mengarungi lautan, mendaki gunung, menyeberangi sungai-sungai, memasuki gua, dusun, dan kota-kota besar. Mereka telah menemui para cendekiawan, ulama, guru, psikologi, dan para sesepuh yang bijaksana. Tapi, nyatanya mereka masih belum puas juga. Mereka merasa masih belum cukup afdal. Mereka tetap merasakan belum juga menjadi ’’aku”. Padahal telah habis waktu yang panjang, biaya yang banyak, tenaga yang terkuras, pikiran yang membebani, dan waktu yang terhimpun pupus.



Mereka merasa jika hidup pada zaman Rasulullah SAW –karena terdorong idealismenya yang tinggi, menganggap dan menggambarkan sejarah Islam masa silam dengan gambaran yang sangat indah– niscaya akan lebih mudah untuk mencapai keinginan yang sederhana itu.
Namun, ini adalah zaman ketika dunia sudah menjadi satu kubangan. Dunia yang penuh tipuan, meskipun dunia tidak pernah menipu kita. Bahkan sebaliknya, justru kitalah yang ’’menipu” dunia. Dunia dengan kenyataan masa kini yang penuh kezaliman, kebiadaban, ketidakadilan dalam berbagai bidang, kebejatan, dekadensi moral atau akhlak yang sering dipertontonkan, diperlakukan kolaborasi para penguasa sebagai pejabat negara (umaro) serta institusi penegak hukum dan pengusaha, baik dari konglomerat pribumi maupun nonpribumi, khususnya kelompok taipan Tiongkok kepada masyarakat (baca: rakyat) suatu negeri. Bahkan, tiga golongan manusia ini dengan sifat superioritas dan innocent yang melekat erat menjadi satu kesatuan dalam dirinya. Merasa bangga bila ’’dunia” mereka dipublikasikan secara vulgar melalui media cetak atau elektronik.
Manakala erosi kepribadian sudah semakin menggerogoti kekuatan hidup, jutaan orang akan hidup tanpa nama, tanpa pakaian, tanpa makan, dan tanpa tempat tinggal. Mereka hidup berkeliaran tanpa arah tujuan yang pasti dan tidak konkret. Kecuali selama ini orang-orang itu hanya menumpang pakaian, makan, rumah, tidur, dan mendompleng ’’kebesaran” nama orang tuanya sebagai nama jatidirinya yang palsu. Nampaknya, hidup tak butuh apa-apa selain kejayaan orang tuanya pada masa lalu yang dibangga-banggakan, sehingga orang-orang itu bisa bercerita bahwa mereka adalah keturunan si Anu. Keturunan adalah senjata, tameng, dan fasilitas yang dapat digunakan untuk menghirup zat asam meski dapat disedot secara gratis. Bahkan terhadap segala sesuatu yang dibagikan secara cuma-cuma pun, seperti pembagian sembako, kompor gas, uang BLT, kupon zakat fitrah dan daging kurban, kawin dan khitanan massal, kesehatan gratis, serta lain-lain, orang-orang ini harus menyebut silsilah keturunannya. Sebab, keturunan dapat ditafsirkan sebagai simbol kebesaran serta kekuasaan yang langgeng dan berlanjut dalam kurun waktu jangka panjang bagi mereka yang merasa berasal dari keturunan orang besar, berkuasa, dan kaya raya. Meskipun orang-orang tersebut hidupnya sendiri tak pernah menjadi besar, tak pernah berkuasa, dan melarat. Sebenarnya keturunan yang mereka agungkan itu bertujuan mengintimidasi dan menindas kaum proletarian agar mereka lebih berpeluang untuk memperoleh berbagai fasilitas kehidupan di negaranya sebatas untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Simbol keturunan dapat membentuk opini mereka untuk menjadikan golongan mereka menjadi kaum tirani.
’’Coba lihatlah kami!’’ seru penduduk dusun yang dikunjungi orang-orang pengembara itu. Jelek-jelek begini, kami ini punya nama, kami simpan akta kelahiran dan foto-foto milik kami. Ke mana pun kami bepergian, kami nyatakan nama kami secara wajar dan sederhana. Lalu, kami memperoleh mata pencaharian dan kami hidup darinya. Tidak ada sesuatu yang menakutkan. Nama kami cukup bisa dijual. Orang-orang percaya kepada kami karena kami sangat menjaga amanah apa pun bentuknya yang dibebankan oleh masyarakat kepada kami, karena Allah Yang Maha Mengetahui melaknat keras kepada orang-orang munafik. Bahkan, kami sekarang sudah tidak ingat lagi nama-nama orang tua kami yang termasyhur itu yang era dulu kalanya sangat berkuasa dan besar karena jabatan dan kekayaannya yang melimpah ruah. Untuk apa? Toh, masyarakat juga sudah tidak membutuhkannya lagi. Mereka juga sudah lupa. Sebab, kini yang ke depan itu aku. Maka masyarakat butuh tahu secara utuh siapa jatidiri aku? Orang-orang pengembara yang berbondong itu hanya terkesima dan tak habis berpikir, bagaimana mungkin seseorang bisa hidup tanpa membawa serta nama orang tuanya? Apakah itu realistis? Apakah itu dapat dianggap hidup? Selama ini membanggakan keturunan adalah suatu hal yang lazim. Orang tak perlu risih dan segan. Kenapa orang harus merasa malu? Itulah yang disebut mengagungkan kepribadian nasional karena sudah terikat pada akar budaya. Itulah yang dikatakan mengagungkan nama orang tua yang dianggap luhur. Nama sendiri tak penting. Nama orang tua adalah yang terpenting, karena nama orang tua menunjukkan kualitas, peradaban, dan jaminan. Identik dalam konteks filosofis Jawa-nya bahwa nama orang tua bisa mencerminkan bibit, bobot, dan bebet.
Adat-istiadat selama ini dipandang sesuatu yang sakral. Bahkan, kadangkala dianggap lebih suci daripada agama. Hanya karena orang tidak tahu atau justru orang tahu betul, maka adat adalah kebenaran itu sendiri. Upacara adat, ya upacara, semua orang harus terlibat dengan yang satu ini. Orang-orang pengembara itu sangat gemar pada upacara. Nama orang tua yang terpandang sudah sepantasnya dikaitkan dengan berbagai upacara dan anak-anaknya mendompleng di dalamnya. Sudah menjadi kebiasaan turun-temurun bahwa anak yang tak tentu kepandaiannya selalu mendewakan orang tuanya yang dibawanya ke mana-mana, tak pernah tanggal dari jasadnya. Anak adalah duplikasi orang tuanya yang sejati. Andaikan Rasulullah SAW sekarang masih bersama kita, beliau pasti penuh ketakjuban memandang umatnya yang mendewakan nama orang tuanya, padahal wahyu yang diterima beliau tidak demikian memerintahkannya. Nafsu pengkultusan nama orang tua telah bersimaharajalela menguasai relung-relung jiwa orang per orang dari setiap umatnya. Ada yang salah? Ya, tapi sudah menjadi salah kaprah. Padahal, pangsa pasar dan pangsa peradaban menghendaki munculnya kekuatan pribadi dengan statemen: ’’Inilah aku, dengan segala kekurangan dan kelebihannya.” Juga struktur budaya yang tebangun dari puing-puing pingsan berserakan tak terurus, juga lebih mengutamakan kekuatan yang dimiliki para pemuda sejati yang apa adanya.
Bahwa agama dan filsafat tidak dapat dipakai sebagai rujukan manakala setiap orang sudah melenyapkan namanya sendiri dan memakai nama orang tuanya. Di sini rupanya sumber kebahagiaan dan keselamatan diri. Bahkan selera dan pengertian postmodernism pun tidak bisa menolong, meski di situ banyak peluang yang diberikan. Maka orang-orang pengembara yang berbondong-bondong itu menjadi kaya-raya, menjadi ditakuti, menjadi berkuasa, menjadi sewenang-wenang, menjadi selalu benar, menjadi penindas, menjadi momok demokrasi dan niat baik setiap orang karena nama orang tuanya. Mereka merumuskan sendiri tentang definisi transparansi, demokrasi, deregulasi, hak asasi manusia, hukum, politik, ekonomi, keadilan, kemakmuran, dan kebenaran.
Pada akhirnya, kemenangan dan kebenaran menjadi miliknya sendiri karena merekalah yang paling fasih menafsirkan sendi-sendi kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara versi mereka dengan superegonya. Mereka membelanjakan uangnya, mereka mendapat untung daripadanya, mereka mendapat barang, keleluasaan, dan kehidupan yang langgeng. Tak ada kekuatan lain yang mampu menahannya selain kekuatan yang mereka miliki. Mereka merangsek terus. Mereka rakus dan ganas. Mereka menerkam apa dan siapa saja. Mereka bagaikan makhluk predator. Mereka membantai membabi-buta, memerkosa, bahkan membunuh tanpa belas kasih, tanpa batas, siapa pun yang menghalangi sepak terjangnya. Mereka selalu punya dalih untuk berbicara, bertindak, dan mengantongi apa saja yang mereka sukai. Pada hakikatnya, mereka telah memproklamasikan bahwa dunia dan seisinya adalah miliknya. Kita paham dan tanggap. Kita pasrahkan. Dengan kedua tangan yang berdarah, bergetar, dan merentang, kita persilahkan semuanya, kekuasaan, jabatan, pekerjaan, harta benda, jiwa raga, juga kehormatan untuk diambil. Di negeri ini, kita sudah tidak punya harga diri. Mereka berbondong dari segala penjuru mata angin makin banyak jumlahnya. Mereka merajalela memenuhi sudut-sudut desa, kota, dan dunianya. Mereka menggebrak. Mereka benar dan kita salah. Mereka menang dan kita kalah. Puncaknya, mereka telah menyebut dirinya sebagai Tuhan pengatur alam semesta karena agung dan luhur nama orang tuanya. Sementara, penduduk dusun adalah rakyat jelata yang didatangi oleh orang-orang pengembara itu, saat sekarat meregang nyawa mengeluh seraya berucap: ’’Apakah kondisi kehidupan masyarakat di negeri kami akan terus-menerus seperti yang kami alami saat ini? Apakah tak akan pernah berubah lagi sampai dunia kiamat yang sudah dekat? (*)

Anda mendapat 1 Pesan

Silakan Buka Pesan Sekarang di Sini

Penting!! Perlu Anda Baca:@ Bisnis Pulsa Paling Menguntungkan@ Cara Bikin Blog Cantik dan Dinamis@ Kumpulan Tutorial Blog Lengkap@ Kumpulan Dongeng Anak@ Bukan Berita Biasa@ Trik dan rumus matematika@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah@ Tips dan Trik belajar yang efektif@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus@ Pasang Iklan gratis@ Kumpulan widget gratis@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah @ Seputar Koleksi Buku@ Seputar Resensi Buku@ Kumpulan tutorial Blog

Arti sebuah Kejujuran: Apa Kata Dunia?



Jangan sok munafik, karena aku tak mau dimunafiki. Berbuatlah jujur karena aku suka orang jujur. Berbicara dan menyoal kejujuran adalah suatu topik pembicaraan yang mahal. Tak ubahnya ibarat barang langka, namun banyak konsumen yang mengincarnya. Terasa susah sekali mencari orang yang jujur atau yang bisa dipercaya. Tak urung, orang kepercayaan pun bisa jadi musuh dalam selimut.

Seiring dengan kemajuan media informasi dan tehnologi yang semakin canggih, peran kejujuran merupakan modal yang paling urgen (mendasar). Keakuratan dalam memberikan informasi, berita, data, fakta, dan segala yang terkait dengan pernyataan, sikap dan tindakan, itu tergantung kepada faktor kejujuran.

Demi mengejar persaingan bisnis, demi gengsi, demi persaingan posisi (jabatan), kesenjangan sosial, kesulitan ekonomi atau pun kepentingan lainnya tak jarang dapat mengesampingkan prinsip kejujuran. Tak luput juga dalam dunia pendidikan, adanya persaingan pendidikan yang kurang sehat juga dapat mengugurkan akan nilai kejujuran.

Lihatlah kasus bocornya UN (Ujian Nasional) lewat SMS. Lihatlah bagaimana distribusi soal UN harus dijaga ketat aparat kepolisian. Lihatlah nasib Kantin Kejujuran yang pada mulanya bertujuan untuk menerapkan kejujuran siswa, namun pada akhirnya bangkrut tak berbekas. Inilah potret dunia pendidikan di negri ini. Kejujuran merupakan barang langka yang seharusnya menjadi contoh bagi kehidupan di bidang/lembaga lain.
Kalau dalam dunia pendidikan saja sudah terlepas dari prinsip kejujuran, bagaimana lagi bila meningkat pada jenjang berikutnya?

Demikian pula dalam lembaga kecil rumah tangga sangat perlu ditanamkan dan diterapkan prinsip kejujuran yang mulia ini. Betapa menyesalnya orang tua, bila sang anak sudah tidak bisa dipegang kejujurannya lagi? Betapa retaknya hubungan suami istri bila keduanya tidak saling menaruh kepercayaan? Dalam lembaga yang kecil saja ketidakjujuran itu membawa dampak negatif yang luar biasa, bagaimana lagi dampak yang terjadi dalam lembaga yang lebih besar?

Sangat tragis bila image (praduga) “siapa yang jujur ajur”, “siapa yang polos gak lolos”, ini semakin semarak. Apakah wabah ini bisa terobati? Jawabannya, tentu karena Allah subhanahu wata’ala tidak akan menurunkan sebuah penyakit melainkan pasti ada obatnya. Kembali kepada Islam, mempelajari ajaran-ajarannya dan mengamalkannya adalah obat yang tepat.

Jujur adalah Tanda Orang Yang Beriman
Wahai saudaraku kaum muslimin, sesungguhnya agama Islam yang dibawa oleh baginda Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam adalah agama yang menjunjung tinggi prinsip kejujuran. Beliau sendiri adalah seorang yang mendapat gelar al amin (orang yang dapat dipercaya) dimasa itu. Karena beliau shalallahu ‘alaihi wasallam melandasi setiap tindakannya diatas prinsip kejujuran.
Dalam beberapa ayat Al Qur’an, Allah subhanahu wata’ala telah menyeru orang-orang yang beriman agar bersikap jujur. Diantara firman-Nya: (artinya):
“Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur.” (At Taubah: 119)
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah perkataan yang benar (diantara perkataan yang benar adalah jujur -pent).” (Al Ahzab: 70)

Kandungan kedua ayat di atas, Allah subhanahu wata’ala memanggil kepada orang-orang yang beriman, agar mereka bertaqwa dan berjalan bersama orang-orang yang jujur. Mengisyaratkan bahwa konsekuensi orang yang mengikrarkan dirinya beriman kepada Allah subhanahu wata’ala, hendaknya dia bertaqwa. Dan salah satu bentuk taqwa dia kepada Allah subhanahu wata’ala adalah berjalan bersama orang-orang yang jujur. Berpijak diatas pijakan mereka, yaitu melandasi semua perkataan dan perbuatan diatas prinsip kejujuran. Karena kejujuran itu merupakan tanda kesempurnaan iman dan taqwa dia kepada Allah subhanahu wata’ala.

Hal ini juga ditegaskan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah haditsnya yang diriwayatkan dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:


“Barangsiapa yang beriman kepada Allah subhanahu wata’ala dan hari kiamat, hendaklah dia berkata baik atau hendaknya dia diam (bila tidak bisa berkata baik).” (HR. Al Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 48)
Diantara perkataan yang baik adalah perkataan yang jujur. Bahkan kejujuran itu adalah sumber segala kebaikan.

Arti Sebuah Kejujuran
Para pembaca, setiap yang menabur biji kebaikan pasti ia akan menuai kebaikan dan demikian pula setiap yang menabur biji kejelekan pasti ia akan menuai kejelekan pula. Ini merupakan sunnatullah (ketetapan Allah subhanahu wata’ala) yang sejalan dengan fitrah yang suci.
Al Imam Al Bukhari dan Al Imam Muslim meriwayatkan dari shahabat Abdullah bin Mas’ud, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:



“Sesungguhnya kejujuran itu akan mengantarkan kepada jalan kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan itu akan mengantarkan kedalam al jannah (surga), sesungguhnya orang yang benar-benar jujur akan dicacat disisi Allah sebagai ash shidiq (orang yang jujur). Dan sesungguhnya orang yang dusta akan mengantarkan ke jalan kejelekan, dan sesungguhnya kejelekan itu akan mengantarkan kedalam an naar (neraka), sesungguhnya orang yang benar-benar dusta akan dicatat disisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Al Bukhari no. 6094 dan Muslim no. 2606)
Dalam hadits diatas menunjukkan bahwa jujur merupakan amalan yang amat terpuji. Dari sebuah kejujuran akan tegak kebenaran, keadilan, dan sekian banyak kebaikan dibaliknya. Hati akan menjadi tenang dan tentram. Karena orang yang jujur itu tidak mengurangi atau menzhalimi hak orang lain. Sehingga semakin menambah kepercayaan dari orang lain.

Cobalah perhatikan, bila seseorang berkata atau bertindak jujur, maka orang lain akan merasa dirinya dihormati, diperlakukan adil, tidak dizhalimi atau tidak dikhianati. Sehingga menumbuhkan rasa saling percaya, menambah rajutan ukhuwah (persaudaran), dan mahabbah (kasih sayang). Namun sebaliknya, dari ketidakjujuran akan menyebabkan terjatuh dalam perbuatan zhalim, curang atau berdusta kepada orang lain. Yang berakibat memudarnya sikap saling percaya, bahkan akan timbul kedengkian, permusuhan, dan sikap jelek lainnya.

Sehingga jujur itu benar-benar akan mendatangkan kebaikan dan sebaliknya dibalik ketidakjujuran itu terdapat sekian malapetaka. Demikianlah janji Allah subhanahu wata’ala dalam firman-Nya (artinya):
“… Tetapi jikalau mereka jujur terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (Muhammad: 21)

Sebenarnya segala perbuatan itu bisa dinilai sendiri, apakah perbuatan itu didasari dengan jujur ataukah tidak? Bila perbuatan itu didasari dengan kejujuran maka hati itu akan menjadi tentram dan tenang. Berbeda dengan perbuatan yang didasari dengan ketidakjujuran maka hati itu akan selalu gundah gulana dan bimbang. Maka sesuatu yang masih ragu atau bimbang hendaknya ditinggalkan. Sebagaimana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:



“Tinggalkan sesuatu yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu. Karena kejujuran itu adalah sesuatu yang menenangkan sedangkan dusta itu adalah sesuatu yang membimbangkan.” (HR. At Tirmidzi no. 2518, An Nasa’i 8/327-328, dan Ahmad 1/200, dari shahabat Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib)

Para pembaca, sehingga image bahwa “jujur itu ajur” itu tidaklah benar. Bahkan sikap jujur itu pasti berakibat “mujur” (baik) dan “ma’jur” (mendapat pahala dari Allah subhanahu wata’ala). Diantara dampak yang baik dari perbutan jujur adalah:

1. Sebab mendapat barakah dari Allah subhanahu wata’ala.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


“Penjual dan pembeli itu memiliki hak untuk meneruskan atau membatalkan akad jual belinya selama keduanya belum berpisah. Jika keduanya jujur menjelaskan keadaan barangnya maka akan diberkahi jual belinya dan jika keduanya dusta maka akan dihapus keberkahan dalam jual belinya.”
Ini adalah suatu gambaran dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam tentang usaha dagang (bisnis) yang didasari dengan prinsip kejujuran. Jujur dalam memberikan sifat barang, jujur dalam timbangan, atau jujur dalam segala hal yang terkait dengan jual beli. Maka bisnis itu akan diberkahi oleh Allah subhanahu wata’ala. Sebaliknya bila berlaku culas (menipu) dalam bisnisnya maka akan menjauhkan dia dari barakah-Nya ?, bahkan Allah subhanahu wata’ala akan mendatangkan siksaan baginya. Seperti curang dalam timbangan maka Allah subhanahu wata’ala mengancam dengan ancaman yang keras, sebagaimana firman-Nya (artinya):
“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang (yaitu curang dalam menakar dan menimbang).” (Al Muthaffifin: 1)

2. Jujur sebagai sebab akan diperbaiki dan diterima amalan-amalan lainnya oleh Allah subhanahu wata’ala.

3. Jujur sebagai sebab datangnya maghfirah (ampunan) Allah subhanahu wata’ala.
Sebagaimana Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah perkataan yang benar (jujur), niscaya Allah akan memperbaiki amalan-amalanmu dan akan mengampuni dosa-dosamu, …” (Al Ahzab: 70-71)

4. Mendapat pahala yang besar.
Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):
“(Sesungguhnya), … laki-laki dan perempuan yang benar (jujur), … maka Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al Ahzab: 35)
Diantara pahala yang besar yang Allah subhanahu wata’ala janjikan, yaitu barangsiapa yang memohon derajat syahid disisi Allah subhanahu wata’ala dengan jujur, niscaya Allah subhanahu wata’ala akan memenuhi permohanannya, meskipun ia mati diatas ranjangnya. Sebagaiamana hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam


“Barangsiapa memohon kepada Allah derajat syahid dengan jujur niscaya Allah akan menyampaikannya ke derajat para syuhada’, meskipun ia meninggal diatas ranjangnya.” (HR. Muslim no. 1909)
Demikian pula, pedagang (bisnisman) yang jujur akan diberikan pahala tinggal bersama para nabi, orang-orang yang jujur, dan para syuhada’ (orang-orang yang mati di medan jihad). Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda



“Pedagang yang jujur lagi dapat dipercaya bersama para nabi, ash shiddiqi, dan asy syuhada’.” (At Tiermidzi: 1130)
Akhir kata, semoga kajian yang ringkas ini sebagai koreksi bagi kita semua. Tiada seorang pun yang bersih dari noda dosa dan kesalahan. Namun seyogyanya kita selalu berusaha untuk berjalan diatas prinsip kejujuran, bila ada kelalain dari kita, hendaknya segera kita bertaubat kepada Allah subhanahu wata’ala. Semoga Allah subhanahu wata’ala menggolongkan kita termasuk hamba-hambanya yang jujur. Amien, ya Rabbal ‘alamin.

MUTIARA HADITS

Do’a Berlindung Dari Empat Perkara Sebelum Salam
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bila salah seorang diantara kalian selesai dari tasyahud akhir hendaklah berlindung kepada Allah dari empat perkara:


“Ya, Allah sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari adzab neraka jahannam, adzab kubur, fitnah kehidupan dan kematian, dari jeleknya fitnah Dajjal.” (HR. Al Bukhari no. 1377, Muslim no. 588, Abu Dawud no. 833, At Tirmidzi no. 3528, An Nasa’i no. 1293, Ibnu Majah no. 899, Ahmad no. 7110, dan Ad Darimi no. 1310)




Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Cara Bikin Blog Cantik dan Dinamis
@ Kumpulan Tutorial Blog Lengkap
@ Kumpulan Dongeng Anak
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog

Ayat-ayat Pemimpin

Dalam Islam, nasihat adalah pilar agama yang sangat penting dan penyanggah kebenaran yang paling fundamental.

Dalam hadits ditegaskan, dari Tamim Ad Dary bahwasannya Nabi bersabda : ”Agama adalah Nasihat ”, kami bertanya : Untuk siapa? Beliau bersabda : “Untuk Allah, KitabNya, Rasul-Nya dan para pemimpin kaum muslimin serta seluruh Umat Islam ”.(H.R Muslim dan An-Nasa’i ).

Nasihat terhadap pemimpin adalah masalah yang jarang mendapat penjelasan secara baik sesuai asas hukum al-Qur’an dan as-Sunnah . Sebagian orang terkadang kurang proporsional dan tidak terpuji dalam mengoreksi kekurangan para pemimpin. Bahkan melanggar kaidah-kaidah dasar Islam dalam menegakkan prinsip amar ma’ruf nahi munkar terhadap para pemimpin. Di antara mereka ada yang membuat makar politik sehingga tidak jarang menimbulkan kekacauan, keresahan dan sebagian yang lainnya menempuh cara teror.

Menasihati pemimpin termasuk perkara yang paling diridhai Allah, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “ Sesungguhnya Allah rela terhadap tiga perkara dan benci terhadap tiga perkara; Dia rela apabila kalian menyembah-Nya, berpegang teguh terhadap tali Allah dan menasihati para pemimpin. Dan Allah benci terhadap pembicaraan sia-sia, menghambur-hamburkan harta dan banyak bertanya”.

Imam an-Nawawi berkata : “ Menasihati para pemimpin berarti menolong mereka menjalankan kebenaran, mentaati mereka dalam kebaikan, mengingatkan mereka dengan lemah lembut atas kesalahan yang mereka perbuat, mengingatkan kelalaian mereka atas hak-hak kaum muslimin, tidak memberontak dan membantu menciptakan stabilitas negara”.

Imam Al Khattaby berkata : “ Bahwa termasuk nasihat terhadap pemimpin adalah shalat berjamaah di belakang mereka, jihad bersama mereka, membayar zakat kepada mereka, tidak keluar dari mentaati mereka tatkala terjadi penyelewengan dan kedhaliman, tidak memuji secara dusta dan selalu mendo’akan kebaikan untuk mereka ”. Dan nasihat yang paling penting adalah mendatangi mereka untuk menyampaikan kekurangan dan kebutuhan umat serta menjelaskan kelemahan para pejabat. Khususnya hal-hal yang berdampak negatif bagi umat. Mengingatkan agar takut kepada Allah dan hari akhirat, mengajak mereka untuk berbuat kebaikan dan melarang dari kemungkaran serta mendorong mereka agar hidup sederhana dan wara’.

Penyebab Rusaknya Para Pemimpin

a. Lemahnya Pengamalan Prinsip Agama.
Di antaranya senang mengikuti hawa nafsu dan kesenangan dunia. Kolusi dan nepotisme yang berlebihan, adanya teman dan penasihat kepercayaan yang buruk atau menjadikan orang-orang kafir sebagai pembantu kepercayaan, menyerahkan kekuasaan dan jabatan kepada orang-orang yang berjiwa lemah dan tidak ikhlas, diktator dalam mengendalikan kekuasaan, rela dengan tekanan internasional dalam bersikap, terpengaruh dengan sistem negara kafir dan meninggalkan sistem Islam.

b. Pemimpin yang Adil lagi Bijaksana
Pemimpin yang adil lagi bijaksana artinya selalu mendahulukan kebenaran dan kepentingan umum, sungguh-sungguh dalam menerapkan syariat Islam dan adil lagi bijaksana dalam memberikan hak-hak umat, hidup sederhana dan tidak boros membelanjakan harta negara.

Cara Menasihati Pemimpin
Islam memiliki etika dalam menasihati para pemimpin. Bahkan ada kaidah dasar yang tidak boleh dilecehkan sebab pemimpin tidak sama dengan rakyat. Apabila menasihati kaum muslimin secara umum perlu memakai prinsip dan etika, maka menasihati para pemimpin tentu lebih perlu memperhatikan kaidah dan etikanya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Barangsiapa yang ingin menasihati pemimpin, maka jangan lakukan secara terang-terangan. Tetapi nasihatilah dia di tempat yang sepi, jika ia menerima nasihat itu, maka sangat baik. Jika tidak , maka Anda telah menyampaikan kewajiban nasihat kepadanya ”. (H.R Imam Ahmad).

Sangat tidak bijak mengoreksi kekeliruan para pemimpin lewat mimbar atau tempat-tempat umum. Sebab ini bisa menimbulkan banyak fitnah. Seharusnya menasihati para pemimpin dengan cara lembut dan di tempat yang rahasia. Seperti yang dilakukan oleh Usamah bin Zaid saat menasihati Utsman bin ‘Affan bukan dengan cara mencaci-maki mereka di tempat umum atau mimbar.

Imam as-Syafi’i berkata : “ Siapa yang menasihati temannya dengan rahasia maka dia telah menasihati dan menghiasainya, dan siapa yang menasihatinya dengan terang-terangan maka dia telah mempermalukan dan merusaknya ”.
Imam al Fudhail bin ‘Iyadh berkata : “ Orang mukmin menasihati dengan cara rahasia dan orang jahat menasihati dengan cara melecehkan dan memaki-maki ”.

Bersabar Dari Kezhaliman Pemimpin
Siapa yang tidak memiliki kemampuan menasihati pemimpin yang zhalim, maka sebaiknya ia berdiam diri dan bersabar. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Siapa yang mendapatkan dari pemimpin sesuatu yang tidak menyenangkan, maka hendaklah bersabar, sesungguhnya barangsiapa yang keluar dari pemimpin, maka meninggal dalam keadaan jahiliyah”. (HR. Al-Bukhari)

Abdullah Ibnu Abbas berkata : “Pemimpin adalah ujian bagi kalian, apabila mereka bersikap adil, maka dia mendapat pahala dan kamu harus bersyukur dan apabila dia zhalim, maka dia mendapatkan siksa dan kamu harus bersabar”.

Imam Nawawi berkata : “Barangsiapa yang mendiamkan kemungkaran seorang pemimpin, maka ia tidak berdosa kecuali jika dia menunjukkan sikap rela, setuju atau mengikuti kemungkaran tersebut”.

Bekal Dalam Mensehati Pemimpin

Pertama , Ikhlas Memberi Nasihat.
Rasulullah bersabda kepada Abdullah bin Amr : ”Wahai Abdullah bin Amr, jika kamu berperang dengan sabar dan ikhlas, maka Allah akan membangkitkan kamu sebagai orang yang sabar dan ikhlas, dan jika kamu berperang karena riya’, maka Allah akan membangkitkan kamu sebagai orang riya’ dan ingin dipuji”. (HR. Abu Daud)

Imam Ibnu Nuhhas berkata : “Orang yang menasihati pemimpin atau kepala negara hendaknya mendahulukan sikap ikhlas untuk mencari ridha Allah. Barangsiapa yang mendekati pemimpin untuk mencari pengaruh atau jabatan atau pujian maka dia telah berbuat kesalahan yang besar dan melakukan perbutan sia-sia”.

Kedua , Menjauhi Segala Ambisi Pribadi.
Orang yang menasihati pemimpin sebaiknya menaggalkan segala ambisi dan keinginan pribadi untuk mendapatkan sesuatu dari pemimpin. Para ulama salaf banyak memberi contoh dan suri tauladan. Seperti Sufyan at-Tsaury, beliau sering menolak pemberian para penguasa khawatir bila pemberian tersebut menghalanginya untuk mengingkari kemungkaran.

Ketiga, Mendahulukan Sikap Kejujuran dan Keberanian.
Seorang yang ingin menasihati pemimpin atau penguasa hendaknya bersikap jujur dan pemberani. Nabi bersabda : ”Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kebenar-an kepada pemimpin yang dhalim”. (HR Abu Daud).

Keempat, Berdoa kepada Allah.
Dari Ibnu Abbas bahwa beliau berkata : “Jika kamu mendatangi penguasa yang kejam, maka berdoalah : “Allah Maha Besar, Allah Maha Tinggi seru semua makhluk-Nya, Allah Maha Tinggi dari semua yang saya takutkan dan khawatirkan. Saya berlindung kepada Allah yang tiada sembahan yang haq selain-Nya, Dialah yang menahan langit yang tujuh sehingga tidak jatuh ke bumi dengan izin-Nya dari kejahatan hamba-Mu dan para pengikutnya, bala tentaranya dan para pendukungnya baik dari jin atau manusia. Ya Allah, jadilah Engkau pedampingku dari kejahatan mereka, Maha Tinggi kekuasaan Allah dan Maha Agung serta Maha Berkah Nama-Nya tiada Tuhan selain Engkau – dibaca tiga kali- (H.R Ibnu Abu Syaibah)

Rujukan :
Haqiqatul Amr bil Ma’ruf wa Nahi ‘anil Mungkar, Dr. Hamd bin Nasir Al Ammar. Fikih Nasihat, Fariq Qasim.




Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Cara Bikin Blog Cantik dan Dinamis
@ Kumpulan Tutorial Blog Lengkap
@ Kumpulan Dongeng Anak
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog

Nasihat Untuk Pemimpin

Nasihat Untuk Pemimpin

Definisi Nasihat

Nasihat secara etimologi berasal dari kata nashaha yang berarti khalasa yaitu murni. Adapun nasihat menurut Abu Amr bin Salah adalah menghendaki suatu kebaikan untuk orang lain dengan cara ikhlas baik berupa tindakan atau kehendak

Pentingnya Nasihat

Dalam pandangan Islam, nasihat adalah pilar agama yang sangat penting dan penyanggah kebenaran yang paling fundamental sehingga Rasulullah menegaskan dalam haditsnya:
Dari Tamim Ad Dary bahwasannya Nabi bersabda:"Agama adalah Nasihat". kami bertanya: Untuk siapa? Beliau bersabda: "Untuk Allah, KitabNya, Rasul-Nya dan para pemimpin kaum muslimin serta seluruh Umat Islam". (H.R Muslim dan An-Nasa'i )

Nasihat kepada pemimpin

Nasihat terhadap pemimpin adalah permasalahan yang jarang mendapat penjelasan secara baik sesuai dengan asas hukum Al-Qur'an dan Sunnah Rasul. Sebagian orang terkadang kurang proporsional dan tidak terpuji dalam mengoreksi kekurangan sikap para pemimpin bahkan melanggar kaidah-kaidah dasar islam dalam menegakkan prinsip amar ma'ruf nahi munkar terdapar para pemimpin, di antara mereka menempuh cara demo, membuat makar politik sehingga tidak jarang menimbulkan kekacauan dan keresahan dan sebagian yang lainnya menempuh cara terorisme.

Menasihati pemimpin termasuk per-kara yang paling diridhai Allah sebagai-mana sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam : "Sesungguhnya Allah rela terhadap tiga perkara dan benci terhadap tiga perkara; Dia rela apabila kalian menyembah-Nya, perpegang teguh terhadap tali Allah dan meNasihati para pemimpin. Dan Allah benci terha-dap pembicaraan sia-sia, menghambur-hamburkan harta dan banyak pertanya".

Subtansi Nasihat kepada Pemimpin

Nasihat terhadap para pemimpin berarti membantu mereka dalam menegakkan kebenaran, mentaati mereka dalam kebenaran, mengingatkan mereka dengan cara lembut dan sopan terhadap hak-hak rakyat dan tidak melakukan pemberontakan.

Imam Nawawi berkata bahwa mena-sihati para pemimpin berarti menolong mereka untuk menjalankan kebenaran, mentaati mereka dalam kebaikan, mengingatkan mereka dengan lemah lembut terhadap kesalahan yang mereka berbuat, memperingatkan kelalaian mereka terhadap hak-hak kaum muslimin, tidak melakukan pemberontakan dan membantu untuk menciptakan stabilitas negara.

Imam Al Khattaby berkata bahwa termasuk nasihat terhadap pemimpin adalah shalat berjamaah di belakang mereka, jihad bersama mereka, membayar zakat kepada mereka, tidak keluar dari mentaati mereka tatkala terjadi penyelewengan dan kedhaliman, tidak memuji secara dusta dan selalu mendo'akan kebaikan untuk mereka.

Dan nasihat yang paling penting adalah mendatangi mereka dalam rangka untuk menyampaikan kekurangan dan kebutuhan umat serta menjelaskan kelemahan para pejabat khususnya hal-hal yang berdampak negatif bagi umat. Mengingatkan agar takut kepada Allah dan hari akherat, mengajak mereka untuk berbuat kebaikan dan melarang tentang kemungkaran serta mendorong mereka agar hidup seder-hana dan wara'.

Macam-macam pemimpin

Para pemimpin kuam muslimin terbagi menjadi dua:

a. Pemimpin fajir atau jahat

Pemimpin yang fajir atau jahat yaitu pemimpin yang hanya berambisi terhadap kekuasaan belaka, perbuatan mereka tidak pernah sepi dari penganiayaan dan kedhaliman dan tidak segan-segan melibas siapa saja yang mencoba untuk menggoyang kekuasaannya meskipun dia melanggar syari'at. Tidak adil dalam memberikan hak-hak umat serta boros terhadap harta negara.

Faktor penyebab rusaknya para pemimpin

*

Lemahnya pengamalan prinsip agama.
*

Senang mengikuti hawa nafsu dan kesenangan dunia belaka.
*

Sikap kolusi dan nepotisme yang berlebihan.
*

Teman dan penasihat kepercayaan yang tidak baik atau menjadikan orang-orang kafir sebagai pembantu kepercayaan.
*

Menyerahkan kekuasaan dan jabatan kepada orang-orang yang tidak berjiwa patriot dan ihklas.
*

Diktator dalam mengendalikan kekuasaan.
*

Tekanan internasional terhadap para pemimpin Islam.
*

Terpengaruh dengan sistim negara-negara kafir dan meninggalkan sistim Islam.

b. Pemimpin yang adil lagi bijaksana

Pemimpin yang adil lagi bijaksana artinya selalu mendahulukan kebenaran dan kepentingan umum, sungguh-sungguh dalam menerapkan syariat Islam dan sangat adil lagi bijaksana dalam memberikan hak-hak umat serta hidup sederhana dan tidak berlebihan dalam membelanjakan harta negara.

Cara Menasihati Pemimpin

Islam memiliki etika tersendiri dalam menasihati para pemimpin bahkan mempunyai kaidah-kaidah dasar yang tidak boleh dilecehkan sebab pemimpin tidak sama dengan rakyat. Apabila menasihati kaum muslimin secara umum perlu memakai kaedah dan etika, maka menasihati para pemimpin lebih perlu memperhatikan kaedah dan etikanya.

Dari Hisyam Ibnu Hakam meriwayat-kan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa yang ingin menasihati pemimpin, maka jangan dilakukan secara terang-terangan. Akan tetapi nasihatilah dia di tempat yang sepi, jika menerima nasihat itu, maka sangat baik dan bila tidak menerimanya, maka kamu telah menyampaikan kewajiban Nasihat kepadanya". (H.R Imam Ahmad).

Sangat tidak bijaksana mengoreksi kekeliruan para pemimpin lewat mimbar atau tempat-tempat umum sehingga menimbulkan banyak fitnah. Seharusnya menasihati para pemimpin dengan cara lemah lembut dan di tempat yang rahasia sebagaimana yang dilakukan oleh Usamah bin Zaid tatkala menasihati Utsman bin 'Affan bukan dengan cara mencaci-maki mereka di tempat umum atau mimbar.

Imam Ibnu Hajar berkata bahwa Usamah telah menasihati 'Ustman bin 'Affan dengan cara yang sangat bijak-sana dan beretika tanpa menimbulkan fitnah dan keresahan.
Imam Syafi'i berkata bahwa barang-siapa yang menasihati temannya dengan rahasia, maka dia telah mena-sihati dan menghiasainya dan barang-siapa yang menasihatinya dengan terang-terangan, maka dia telah mempermalukan dan merusaknya.

Imam Al Fudhail bin 'Iyadh berkata: Orang mukmin menasihati dengan cara rahasia dan orang jahat menasihati dengan cara melecehkan dan memaki-maki.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata: Menasihati para pemimpin dengan cara terang-terangan lewat mimbar-mimbar atau tempat-tempat umum bukan cara atau manhaj salaf, sebab demikian itu akan mengakibatkan keresahan dan menjatuhkan martabat para pemimpin, akan tetapi manhaj salaf dalam menasihati pemimpin adalah dengan mendatanginya, mengirim surat atau menyuruh salah seorang ulama yang dikenal untuk menyampaikan Nasihat tersebut.

Bersabar terhadap pemimpin yang zhalim

Barangsiapa yang tidak memiliki kemampuan untuk menasihati pemimpin yang zhalim, maka sebaiknya berdiam diri dan bersabar. sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam : "Barangsiapa yang mendapatkan dari pemimpin sesuatu yang tidak menyenangkan, maka hendaklah bersabar, sesungguhnya barangsiapa yang keluar dari pemimpin, maka meninggal dalam keadaan jahiliyah". (HR. Al-Bukhari)

Abdullah Ibnu Abbas berkata: "Pemimpin adalah ujian bagi kalian, apabila mereka bersikap adil, maka dia mendapat pahala dan kamu harus bersyukur dan apabila dia zhalim, maka dia mendapatkan siksa dan kamu harus bersabar."

Imam Nawawi berkata: "Barangsiapa yang mendiamkan kemungkaran seorang pemimpin tidak berdosa kecuali dia menunjukkan sikap rela, setuju atau mengikuti kemungkaran tersebut."

Bekal bagi orang yang mensehati pemimpin

1 . Ikhlas dalam memberi nasihat.

Nabi Muhammad bersabda kepada Abdullah bin Amr:" Wahai Abdullah bin Amr jika kamu berperang dengan sabar dan ikhlas, maka Allah akan membang-kitkan kamu, sebagai orang yang sabar dan ikhlas dan jika kamu berperang karena riya', maka Allah akan mem-bangkitkan kamu sebagai orang riya dan ingin dipuji". (HR. Abu Daud)

Imam Ibnu Nahhas berkata: Orang yang menasihati pemimpin atau kepala negara hendaknya mendahulukan sikap ikhlas untuk mencari ridha Allah. Barangsiapa yang mendekati pemimpin untuk mencari pengaruh atau jabatan atau pujian maka dia telah berbuat kesalahan yang besar dan melakukan perbutan sia-sia.

2. Menjauhi segala macam ambisi pribadi.

Seorang yang menasihati pemimpin sebaiknya menaggalkan segala ambisi dan keinginan pribadi untuk mendapat-kan sesuatu dari pemimpin atau penguasa. Para ulama salaf telah banyak memberi contoh dan suri tauladan, seperti Sufyan Atsaury, beliau sering menolak pemberian para penguasa khawatir bila pemberian tersebut menghalanginya untuk mengingkari kemungkaran.

3. Mendahulukan sikap kejujuran dan keberanian

Seorang yang ingin menasihati pemimpin atau penguasa hendaknya bersikap jujur dan pemberani sebagai-mana sabda Nabi:" Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kebenar-an kepada pemimpin yang dhalim". (HR Abu Daud).

4. Berdoa kepada Allah dengan doa-doa ma'tsur

Dari Ibnu Abbas bahwa beliau berka-ta: Jika kamu mendatangi penguasa yang kejam, maka berdoalah:
Allah Maha Besar, Allah Maha Tinggi seru semua makhluq-Nya, Allah Maha Tinggi dari semua yang saya takutkan dan khawatirkan. Saya berlindung kepada Allah yang tiada Tuhan yang haq selain-Nya, Dialah yang menahan langit yang tujuh sehingga tidak jatuh ke bumi dengan izin-Nya dari kejahatan hamba-Mu dan para pengikutnya, bala tentaranya dan para pendukungnya baik dari jin atau manusia. Ya Allah jadilah Engkau pedampingku dari kejahatan mereka, Maha Tinggi kekuasaan Allah dan Maha Agung serta Maha Berkah Nama-Nya tiada Tuhan selain Engkau – dibaca tiga kali- (H.R Ibnu Abu Syaibah)

Demikian sekilas penjelasan tentang kaedah dan etika dalam fikih Nasihat khususnya Nasihat kepada para pemimpin kaum muslimin.

Rujukan: Haqiqatul Amr bil Ma'ruf wa nahi 'anil Mungkar, Dr. Hamd bin Nasir Al Ammar. Fikih Nasihat, Fariq Qasim.


Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Cara Bikin Blog Cantik dan Dinamis
@ Kumpulan Tutorial Blog Lengkap
@ Kumpulan Dongeng Anak
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog

Bagaimana Cara Memilih Pemimpin Menurut Islam?

Pemimpin negara adalah faktor penting dalam kehidupan bernegara. Jika pemimpin negara itu jujur, baik, cerdas dan amanah, niscaya rakyatnya akan makmur. Sebaliknya jika pemimpinnya tidak jujur, korup, serta menzalimi rakyatnya, niscaya rakyatnya akan sengsara.

Oleh karena itulah Islam memberikan pedoman dalam memilih pemimpin yang baik. Dalam Al Qur’an, Allah SWT memerintahkan ummat Islam untuk memilih pemimpin yang baik dan beriman:

“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mu'min. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah. “ (An Nisaa 4:138-139)

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimmpin (mu): sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagiaa yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada oarng-orang yang zalim " (QS. Al-Maidah: 51)

"Hai orang2 yang beriman! Janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu menjadi pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan. Dan siapa di antara kamu menjadikan mereka menjadi pemimpin, maka mereka itulah orang2 yang zalim" (At Taubah:23)

"Hai orang2 yang beriman! Janganlah kamu mengambil orang2 kafir menjadi wali (teman atau pelindung)" (An Nisaa:144)

"Janganlah orang2 mukmin mengambil orang2 kafir jadi pemimpin, bukan orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, bukanlah dia dari (agama) Allah sedikitpun..." (Ali Imran:28)

Selain beriman, seorang pemimpin juga harus adil:

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata, bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “ada tujuh golongan manusia yang kelak akan memperoleh naungan dari Allah pada hari yang tidak ada lagi naungan kecuali naungan-Nya, (mereka itu ialah):

1. Imam/pemimpin yang adil
2. Pemuda yang terus-menerus hidup dalam beribadah kepada Allah
3. Seorang yang hatinya tertambat di masjid-masjid
4. Dua orang yang bercinta-cintaan karena Allah, berkumpul karena Allah dan berpisah pun karena Allah
5. Seorang pria yang diajak (berbuat serong) oleh seorang wanita kaya dan cantik, lalu ia menjawab “sesungguhnya aku takut kepada Allah”
6. Seorang yang bersedekah dengan satu sedekah dengan amat rahasia, sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya
7. Seorang yang selalu ingat kepada Allah (dzikrullâh) di waktu sendirian, hingga melelehkan air matanya.
(HR. Bukhari dan Muslim)

“Hai orang-orang yang beriman! Tegakkanlah keadilan sebagai saksi karena Allah. Dan janganlah rasa benci mendorong kamu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena itu lebih dekat dengan taqwa…” (Q.s. Al-Maidah 5: 8)

Keadilan yang diserukan al-Qur’an pada dasarnya mencakup keadilan di bidang ekonomi, sosial, dan terlebih lagi, dalam bidang hukum. Seorang pemimpin yang adil, indikasinya adalah selalu menegakkan supremasi hukum; memandang dan memperlakukan semua manusia sama di depan hukum, tanpa pandang bulu. Hal inilah yang telah diperintahkan al-Qur’an dan dicontohkan oleh Rasulullah ketika bertekad untuk menegakkan hukum (dalam konteks pencurian), walaupun pelakunya adalah putri beliau sendiri, Fatimah, misalnya.

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau bapak ibu dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya atau miskin, Allah lebih mengetahui kemaslahatan keduanya”. (Qs. An-Nisa; 4: 135)

Dalam sebuah kesempatan, ketika seorang perempuan dari suku Makhzun dipotong tangannya lantaran mencuri, kemudian keluarga perempuan itu meminta Usama bin Zaid supaya memohon kepada Rasulullah untuk membebaskannya, Rasulullah pun marah. Beliau bahkan mengingatkan bahwa, kehancuran masyarakat sebelum kita disebabkan oleh ketidakadilan dalam supremasi hukum seperti itu.

Dari Aisyah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: adakah patut engkau memintakan kebebasan dari satu hukuman dari beberapa hukuman (yang diwajibkan) oleh Allah? Kemudian ia berdiri lalu berkhutbah, dan berkata: ‘Hai para manusia! Sesungguhnya orang-orang sebelum kamu itu rusak/binasa dikarenakan apabila orang-orang yang mulia diantara mereka mencuri, mereka bebaskan. Tetapi, apabila orang yang lemah mencuri, mereka berikan kepadanya hukum’. (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa'i, Abu Daud, Ahmad, Dariini, dan Ibnu Majah)

“Sesungguhnya Allah akan melindungi negara yang menegakkan keadilan walaupun ia kafir, dan tidak akan melindungi negara yang dzalim (tiran) walaupun ia muslim”. (Mutiara I dr Ali ibn Abi Thalib) Pilihlah pemimpin yang jujur:

Dari Ma’qil ra. Berkata: saya akan menceritakan kepada engkau hadist yang saya dengar dari Rasulullah saw. Dan saya telah mendengar beliau bersabda: “seseorang yang telah ditugaskan Tuhan untuk memerintah rakyat (pejabat), kalau ia tidak memimpin rakyat dengan jujur, niscaya dia tidak akan memperoleh bau surga”. (HR. Bukhari)

Pilih pemimpin yang mau mencegah dan memberantas kemungkaran seperti korupsi, nepotisme, manipulasi, dll:

“Barang siapa melihat kemungkaran, maka hendaknya ia merubah dengan tangannya, jika tidak mampu, maka hendaknya merubah dengan lisannya, jika tidak mampu, maka dengan hatinya. Dan yang demikian itulah selemah-lemahnya iman”. (HR. Muslim)

Pilih pemimpin yang bisa mempersatukan ummat, bukan yang fanatik terhadap kelompoknya sendiri:

Padahal Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menyatakan dalam Al Qur’an :
“ … Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian, orang-orang Muslim, dari dahulu … .” (QS. Al Hajj : 78)

Dalam menafsirkan ayat di atas, Imam Ibnu Katsir menukil satu hadits yang berbunyi :
“Barangsiapa menyeru dengan seruan-seruan jahiliyah maka sesungguhnya dia menyeru ke pintu jahanam.” Berkata seseorang : “Ya Rasulullah, walaupun dia puasa dan shalat?” “Ya, walaupun dia puasa dan shalat, walaupun dia mengaku Muslim. Maka menyerulah kalian dengan seruan yang Allah telah memberikan nama atas kalian, yaitu : Al Muslimin, Al Mukminin, Hamba-Hamba Allah.” (HR. Ahmad jilid 4/130, 202 dan jilid 5/344)

Ada beberapa sifat baik yang harus dimiliki oleh para Nabi, yaitu: Amanah (dapat dipercaya), Siddiq (benar), Fathonah (cerdas/bijaksana), serta tabligh (berkomunikasi dgn baik dgn rakyatnya). Sifat di atas juga harus dimiliki oleh pemimpin yang kita pilih.

Pilih pemimpin yang amanah, sehingga dia benar-benar berusaha mensejahterakan rakyatnya. Bukan hanya bisa menjual aset negara atau kekayaan alam Indonesia untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya.

Pilih pemimpin yang cerdas, sehingga dia tidak bisa ditipu oleh anak buahnya atau kelompok lain sehingga merugikan negara. Pemimpin yang cerdas punya visi dan misi yang jelas untuk memajukan rakyatnya.

Terkadang kita begitu apatis dengan pemimpin yang korup, sehingga memilih Golput. Sikap golput atau tidak memilih pemimpin merupakan sikap yang kurang baik. Dalam Islam, kepemimpinan itu penting, sehingga Nabi pernah berkata, jika kalian bepergian, pilihlah satu orang jadi pemimpin. Jika hanya berdua, maka salah satunya jadi pemimpin. Sholat wajib pun yang paling baik adalah yang ada pemimpinnya (imam).

http://media-islam.or.id


Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Cara Bikin Blog Cantik dan Dinamis
@ Kumpulan Tutorial Blog Lengkap
@ Kumpulan Dongeng Anak
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog