06 August 2009

Syair Kematian



Sebelum kematiannya tiba,
pertanda telah datang mengabarinya,
ia jatuh terkapar,
terhenyak pada tangan dan mulutnya,

Dia enyahkan baju besi dan tombaknya,
lalu bentangkan jasad,
terlentang dada tengadah,
bagai kayu besar terbelah dua.

O, kasihan!
penungggang kuda ksatria,
Ada apa denganmu?
kekuatan sirna dan tak bicara.

Ini, dua tangannya,
Ini, semua raganya,
tidak satupun terluka,
tidak tercerai juga.

O, betapa pedih tiada kata!
jika Allah menjatuhkan qadar-Nya,
musibah besar menghampiri anda,
tatkala tidak mengagungkannya.

Kematian adalah berita nyata,
kita di sini menjadi saksi,
betapa dahsyat ketika terjadi,
namun ingin selalu diingkari.

segala apa yang kau temui,
tak satu cerah berseri,
hanya Allah kekal abadi,
harta dan anak musnah pasti.

Suatu hari gudang Hurmuz juga,
tak kan berguna untuk semua,
bahkan 'Ad dulu kala berusaha,
untuk kekal tiada bisa.

tidak juga Sulaiman,
meski angin turuti perintahnya,
bahkan manusia dan jin terpedaya,
tunduk bersimpuh di hadapannya.

Adakah jua raja-raja,
yang karena kejayaannya,
para delegasi datang menghampirinya,
dari segala penjuru dunia?

justru di sanalah sebuah telaga,
yang bakal didatangi tanpa dusta,
suatu hari kita pun tiba,
sebagaimana mereka pula.

ingatlah mati,
pemutus kelezatan dan bersiaplah,
tiada kamu berdaya,
kapan saja dia pasti tiba.

maka keberangkatan pun menjemputnya,
dalam keadaan sadar dan siap siaga,
itulah kesiapan penuh tertata,
tidak lalai akan cita.

jatahmu dari yang dikumpulkan semua,
sepanjang hidupmu di dunia,
hanyalah dua carik kain sederhana,
pembungkus tubuh dan daun bidara.

Sifat qana'ah sajalah,
jangan kau inginkan gantinya,
padanya terdapat kenikmatan,
padanya ketentraman badan.

lihatlah pemilik segala harta,
dia pergi meninggalkan dunia,
tak ada yang dibawa,
selain kapas dan pembungkus jasadnya.

sungguh menakjubkan,
apabila manusia memikirkan,
mengoreksi diri dan menghitung-hitung kesalahan,
sadar diri penuh pemahaman,

dan niscaya mereka tinggalkan harta,
mmenyeberang ke negri lainnya,
bukanlah dunia ini bagi mereka,
sekadar jembatan menuju kesana.

tiada kemuliaan yang patut dibangga,
selain kemuliaan orang yang taqwa,
esok saat berkumpul mereka,
di Padang Mahsyar yang perkasa.

hendaklah manusia sekalian,
menyadari benar tentang kenyataan,
bahwa taqwa dan kebajikan,
adalah sebaik-baik harta simpanan.

aku memang ingat akan binasa,
tapi tak kurasa takut kepadanya,
keras nian hati di dada,
bagai batu tidak berharga.

aku tak henti mencari harta,
seolah 'kan kekal di dunia,
padahal maut mengejar di belakangku,
langkah demi langkah terus menguntitku.

maka ketahuilah hai sahabat,
cukuplah maut sebagai penasihat,
bagi siapa yang pasti tiba,
tercabut nyawa telah ditaqdirkan.

intipan maut dari segenap penjuru,
tempat bersembunyi pasti kan tahu,
ke mana saja dia tangkap,
untuk selamat tiada terhindar.

ingatlah hai orang yang terpedaya,
kenapa kau bermain saja?
kamu dambakan segala macam harapan,
padahal kematianmu makin dekat jua,

kamu tahu, tamak itu bagai lautan,
kapal yang dekat dia jauhkan,
dan ternyata kamu jadi sasaran,
pada gilirannya kena hantaman.

kamu tahu, kematian itu penjagal cita,
segala keyakinanmu, cepat, dihadang,
penggalan maut sakit dirasa,
kamu tahu memang tidak nyaman,

seakan-akan kamu berpesan kata,
sambil memandangi anak-anakmu yatim merana,
sementara ibu mereka menanggung derita,
berteriak tangis, duka nestapa.

rupanya dia tercekik oleh kesedihan,
lalu dia tampar sendiri tembam mukanya,
dilihat orang sembarang pria,
padahal semula hidup terjaga,

seorang datang padamu bawa kain kafan,
bakal pembungkus ragamu dalam lipatan,
lalu tanah kuburan dia timbunkan,
meski air mata linang tergenang.


Kisah Rasulullah dan para sahabat


Sifat Zuhud dan Sederhana

1. Kejaran Kemiskinan Bagi Orang yang Mencintai Rasulullah SAW

Seorang sahabat telah datang menjumpai Rasulullah SAW, lalu berkata,"Ya Rasulullah, saya mencintai Engkau." Nabi SAW bersabda,"Pikirkan dahulu apa yang engkau katakan,"

Tetapi orang itu berkata lagi,"Saya mencintai engkau Ya Rasulullah."Nabi tetap bersabda seperti tadi. Setelah tiga kali orang itu bertanya dengan pertanyaan yang sama, akhinya Nabi SAW bersabda,"Baiklah, apabila engkau tulus dalam perkataanmu itu, maka bersiaplah menghadapi kefakiran yang akan menimpamu dari segala arah. Karena kefakiran akan datang dengan cepat kepada orang-orang yang mencintai aku sebagaimana air terjun yang mengalir."

2. Pertanyaan Rasulullah SAW kepada para sahabat tentang dua jenis manusia

Suatu ketika Rasulullah sedang duduk bersama beberapa orang sahabatnya. Kemudian datanglah seseorang lewat di depan mereka. Orang ini berpenampilan perlente, rapi, berpakaianj ala bangsawan. Nabi bertanya kepada para sahabat,"Bagaimana pendapat kalian mengenai orang ini (orang yang lewat tadi)."

Para sahabat menjawab,"Ya Rasulullah, dia termasuk orang kaya dan mulia. Demi Allah, jika dia melamar seorang wanita, lamarannya pasti diterima. Jika dia melindungi seseorang, pasti lindungannya disetujui. Jika dia berbicara, pasti orang pada mendengarkan." Mendengar jawaban para sahabat, Nabi hanya terdiam.

Tidak lama kemudian , datang lagi seseorang lewat di depan mereka. Orang ini berpenampilan kumuh, lusuh, dekil dan berpenampilan seperti gembel. Rasulullah bertanya lagi mengenai orang itu," Sekarang pendapat kalian bagaimana mengenai orang ini." Mereka menjawab,"Ya rasulullah, dia seorang yang miskin. Jika dia melamar seorang wanita, pasti lamarannya akan ditolak. Jika dia mengusulkan sesuatu, pasti tidak diterima. Jika dia berbicara, pasti tidak akan orang yang mau mendengarkannya."

Rasulullah bersabda,"Apabila seluruh dunia dipenuhi oleh orang seperti yang pertama tadi, maka orang yang kedua tadi lebih baik dari mereka semua."

Hikmah dari kisah di atas adalah: Orang yang hanya mengandalkan kemuliaan di dunia saja, tanpa amalan akherat niscaya tidak akan mendapat tempat di sisi Allah. Sebaliknya orang miskin yang tidak mendapat tempat di sisi siapapun di dunia, yang kata-katanya tidak didengar oleh siapapun, tetapi ternyata dia lebih mulia dalam pandangan Allah. Kesimpulannya, Allah menilai hambanya dari ketaatan dan ketaqwaannya, bukan pada penampilan dan hartanya.

3. Penolakan Rasulullah SAW Terhadap Tawaran Gunung Emas

Rasulullah SAW bersabda,"Tuhanku telah menawarkan kepadaku untuk mengubah bukit-bukit di Makkah menjadi emas. Tetapi aku menadahkan tangan kepada-Nya sambil berkata,"Ya Allah, saya lebih suka sehari kenyang dan lapar pada hari berikutnya agar saya dapat mengingat-Mu apabila sedang lapar, dan memuji-Mu serta mensyukuri nikmat-Mu apabila kenyang."

4. Rasulullah SAW memperingatkan Umar RA dengan kehidupan beliau yang zuhud

Suatu hari Umar Bin Khattab RA berkunjung ke rumah Rasulullah SAW. Kebetulan waktu itu Rasul sedang tiduran di atas tikar yang terbuat dari anyaman daun kurma. Dilihatnya kamar Rasulullah hanya berisi tiga lembar kulit binatang yang telah disamak dan sedikit gandum di sudut kamar itu. Di dinding bilik hanya tergantung sebuah guci kecil terbuat dari kulit kambing tempat mengambil wudhu untuk sholat malam. Selain dari itu tidak ada apa-apa.

Umar menangis melihat keadaan kamar Rasulullah. Rasulullah bertanya,"Mengapa engkau menangis wahai Umar?" Umar menjawab,"Bagaimana saya tidak menangis, ya Rasulullah. Saya sedih melihat tanda bekas tikar yang engkau tiduri di badan engkau yang mulia, dan saya prihatin melihat kamar engkau." Semoga Allah mengaruniakan kepada kepada tuan bekal yang lebih banyak. Orang-orang Persia dan Romawi yang tidak beragama dan tidak menyembah Allah, tetapi raja mereka hidup mewah. Mereka hidup dikelilingi taman yang ditengahnya mengalir sungai. Sedangkan engkau adalah pesuruh Allah, tetapi engkau hidup dalam keadaan miskin."

Ketika Umar berkata demikian, Rasulullah bangun dari tikarnya lalu berkata,"Wahai Umar, sepertinya engkau masih ragu mengenai hal ini. Dengarlah, kenikmatan di alam akhirat tentu akan lebih baik dari pada kesenangan hidup dan kemewahan di dunia ini. Jika orang-orag kafir itu dapat hidup mewah di dunia ini, kita pun akan memperoleh segala kenikmatan tersebut di akhirat nanti. Di sana kita akan mendapatkan segala-galanya."

Mendengar sabda Nabi tersebut, Umar merasa menyesal dan meminta maaf kepada Rasulullah. Umar berkata,"Ya Rasulullah, memohon ampunlah kepada Allah untuk saya, saya telah bersalah dalam hal ini."

2 comments:

  1. salam kenal,
    puisi yang bagus...
    link nya dah sy pasang, link balik ya...
    hatur kengkiu

    ReplyDelete
  2. @Rakha Fra: Terima kasih atas apresiasinya, Insya Allah banner anda akan segera saya pasang...

    ReplyDelete

Berkomentarlah dengan Bijak, Jangan buang waktu anda dengan berkomentar yang tidak bermutu. Terimmma kasssih.