05 March 2010

Kultum: JUJUR ITU INDAH

"Pokoknya kita mesti cerai hari ini," tukas sang istri kepada suaminya.
"Kembalikan uang saya, saya tidak rela dengan barang cacat seperti ini,"
sahut pembeli kepada penjual. "Tok..tok..tok.." suara palu diketuk, hakim
memutuskan bahwa si fulan bin fulan tersang ka kasus pendinginan uang. dan
masih seabreg kasus lainnya, terjadi di negri kita ini, disebabkan karena
ketidakjujuran dalam mengemban amanah, bagaimanakah Islam menilai
kejujuran..!

Sejatinya seorang muslim adalah pengemban risalah dalam kehidupan,
olehkarenanya hendak-lah bermuamalah dengan akhlaq yang mulia nan tinggi,
dengannya niscaya jelaslah kemuliaan seorang muslim dari yang lainnya.

Di antara akhlaq mulia yang semestinya menghiasi seorang muslim, namun kerap
ditinggalkan, padahal dengannyalah seseorang merasakan hakikat cinta, dengan
nya pula terbangun persahabatan yang sejati nan diridhoi.

Akhlaq itu adalah jujur dalam berkata dan beramal, karenanya seorang muslim
akan merasa tentram, dan menghantarkankan kepada kehidupan harmonis yang
berakhir di jannatullah.

Namun begitulah manusia, terkadang amalnya tidak sejalan dengan fitrah yang
salimah (lurus), pemandangan ironi pun kerap terjadi, ya!.. tanggal 01 April
dunia mengenalnya dengan [April Fools Day] yang di Indonesia akrab dikenal
dengan April Mop [hari penghalalan ber bohong] innalillahi wainna ilaihi
rajiun! inilah pembatalan syari'at yang sejalan dengan fitrah, sungguh agama
Islam yang hanif ini memerintahkan hambanya untuk jujur, dan meninggalkan
bohong.

Allah Ta'ala berfirman, artinya, "Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah
kepada Allah dan bersamalah kamu bersama orang yang benar [jujur]" (QS.
at-Taubah:119), dalam ayat yang lain, "Agar Allah memberikan balasan kepada
yang jujur karena kejujurannya dan mengazab orang munafiq jika ia
menghendakinya." (QS. al-ahzab: 24)

Syaikh al-utsaimin rahimahullah berkata, "Itu semua menunjukkan bahwasanya
kejujuran adalah perkara yang mulia dan akan mendapat balasan dari Allah,
oleh karenanya wajiblah bagi kita untuk jujur, terbuka dan tidak
menyembunyikan sesuatu karena basa-basi atau berdebat"

Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam,
bahwasanya beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Hendaklah kalian
berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran menghantarkan kepada
kebaikan,dan sesungguhnya kebaikan menghantarkan kepada surga, dan apabila
seseorang senantiasa berlaku jujur niscaya ia di tulis di sisi Allah Ta'ala
sebagai seorang yang jujur, dan janganlah kalian berdusta karena
sesungguhnya dusta menghantarkan kepada kejelekan, dan sesungguhnya
kejelekan menghantarkan kepeda neraka, dan apabila seseorang senantiasa
berlaku dusta niscaya ia di tulis di sisi Allah Ta'ala sebagai seorang
pendusta." (Muttafaqun 'alaih).

Lantas apakah hakekat kejujuran..? Syaikh al-utsaimin Ta'ala berkata, "Jujur
adalah, selarasnya khabar dengan realita, baik berupa perkataan atau
perbuatan."

Oleh karenanya kita katakan, apabila khabar (perkataan) selaras dengan
kenyataan maka itulah kejujuran dengan llisan, dan apabila perbuatan badan
selaras dengan hati maka itulah kejujuran dengan perbuatan.

Maka, orang yang berbuat riya', bukanlah orang yang jujur, karena dia
menampakkan ketaatan tapi hatinya tidak demikian.

Begitu juga orang munafiq, menampakkan keimanan dan menyembunyikan
kekufuran.

Demikian orang musyrik, menampakkan ketauhidan dan menyembunyikan
peribadatan kepada selain Allah.

Tak jauh beda dengan ahli bid'ah, menampakkan keta'atan dan pengikutan
kepada rasul akan tetapi dia menyelisihinya.

Maka, dari pemaparan di atas jelaslah akan kewajiban berlaku jujur dalam
berbagai segi kehidupan, baik dalam konteks sebagai hamba yang berhubungan
dengan sang Khaliq, ataupun dalam konteks sebagaimana layaknya manusia
dengan sesamanya, seperti jujur dalam memegang amanah kepemimpinan, dalam
jual beli, berumah tangga,ber patner dalam bekerja, baik di instansi
pemerintahan ataupun swasta, dll. Sehingga tertutuplah pintu kecurangan,
penipuan, kecemburuan, prasangka buruk, bahkan KKN sekalipun.

Bahkan lebih dari itu, dalam canda dan tawapun kita dituntut untuk jujur,
karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Celakalah bagi
orang yang berbicara kemudian berdusta agar manusia tertawa dengannya, maka
celakalah kemudian celakalah." (HR. Ahmad, dihasankan oleh al-Albani.), oleh
karena itu kita harus berhati-hati.

Adapun buah dari kejujuran adalah, berikut ini;

Bahwasanya ia menghantarkan kepada kebaikan yang bertepi di surga Allah
Ta'ala, mendapat pujian dari Rabb semesta alam, selamat dari sifat munafiq
yang selalu berdusta apabila bicara, mendapatkan kepercayaan dari sesamanya,
terbentuknya kehidupan yang tentram dan selamat yang tiada penyesalan, Oleh
karenanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Tinggalkanlah
yang membuatmu ragu kepada yang tidak ragu. Sesungguhnya jujur itu
ketenangan, dan bohong itu keragu-raguan" (HR. at-tirmizi)

Jujur dalam niat dan lisan akan menghantarkan seseorang ke derajat yang
tinggi, yaitu derajat syuhada. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
bersabda, "Barang siapa meminta kepada Allah mati syahid dengan penuh
kejujuran, niscaya Allah menghantarkannya ke derajat syuhada, walaupun dia
mati di atas kasurnya." (HR. Muslim). Dan faidah lainnya yang tak terhitung.

Berikut ini salah satu contoh yang nyata tentang buah dari kejujuran; kita
dapati dalam kitab tarikh, bahwasanya suatu hari sebagaimana biasanya Umar
-Amirul Mu'minin- berjalan di malam hari mengontrol keadaan rakyatnya,
hingga sampailah dia di dekat suatu rumah, tanpa disengaja beliau mendengar
percakapan antara seorang ibu -penjual susu- dengan anak gadisnya,
"Tuangkanlah air ke dalam susu ini," tukas ibu kepada anak gadisnya. Maka
sang gadis pun menjawab dengan penuh tatakrama, "Wahai ibu! bukankah Amirul
Mu'minin melarang kita dari perbuatan ini?" Sang ibu pun lantas berkilah,
"Bukankah tidak ada seorang pun yang mengetahui perbuatan ini? Apalagi
Amirul Mu'minin!" Sang gadis pun berusaha meyakinkan sang ibu, "Wahai ibu!,
kalaulah seandainya Amirul Mu'minin tidak mengetahui, bukankah Rabbnya
Amirul mukminin mengetahui." Lantas sang ibu pun terdiam. Maka Umar kaget
dan bahagia, lantas ia bergegas menuju rumahnya dan menawarkan anaknya untuk
menikahi gadis tersebut. Maka dinikahilah anak tersebut oleh 'Ashim bin umar
dan terlahirlah dari pasangan ini seorang anak perempuan yang kelak dinikahi
oleh Abdul Malik bin Marwan, dan terlahirlah dari pasangan ini seorang alim
yang disebut-sebut sebagai khalifah yang kelima sebagai buah dari kejujuran,
dialah Amirul Mu'minin Umar bin Abdul aziz, khalifah yang alim, bertaqwa,
zuhud dan adil.

Sumber: Disarikan dari berbagai sumber.

Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Cara Bikin Blog Cantik dan Dinamis
@ Kumpulan Tutorial Blog Lengkap
@ Kumpulan Dongeng Anak
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog

0 comments:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan Bijak, Jangan buang waktu anda dengan berkomentar yang tidak bermutu. Terimmma kasssih.