Aneka Perlengkapan Sholat

Izzah Store menjual aneka Perlengkapan Sholat, seperti Mukena, Sajadah, Sarung, Peci, dll tersedia untuk anak dan dewasa

Aneka Parfum Alrehab

Izzah Store menjual parfum Alrehab original Jeddah Arab Saudi dengan berbagai varian aroma, seperti Soft, Lovely, Dalal, Fruit, Kholiji, Blanc, Sabaya, Aseel, Tooty Musk, dll

Aneka Pelengkapan Sholat untuk Anak

Izzah Store menjual aneka Perlengkapan Sholat, seperti Mukena, Sajadah, Sarung, Peci, dll tersedia untuk anak dan dewasa

Mari Membaca Alquran

Mari kita membaca Alquran, karena di Hari Kiamat nanti Alquran akan memberi syafaat kepada siapa saja yang gemar membacanya apalagi menghafalnya. Bacalah secara tartil dan perlahan-lahan. Jangan lewatkan hari-hari anda tanpa membaca Alquran..

Kumpulan Dongeng Anak

Anda hobi membaca dongeng-dongeng anak, di sini anda akan menemukannya. Mulai dari dongeng si kancil, si belalang, si kerbau, si kambing dan sebagainya. Cobalah dongengkan kepada buah hati anda menjelang tidur agar anak menjadi cerdas dan pandai bertutur.

Kumpulan Cerita Pendek

Anda penggemar Cerita Pendek atau Cerita panjang, di sini disajikan beberapa cerita islami yang sarat dengan pelajaran kehidupan. Cerita yang kadang memberi inspirasi kita dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.

Kisah Humor para Sufi

Anda kenal tokoh-tokoh sufi zaman dulu, di sini kami sajikan banyak sekali kisah-kisah lucu dan cerdik tokoh sufi dari Zaman dulu itu. Kisah kocak yang kadang menyindir diri kita yang membacanya.

Kisah Abu Nawas

Anda kenal Abunawas atau Nasrudin Hoja, di sini kami sajikan banyak sekali kisah-kisah lucu dan cerdik tokoh dari Zaman dulu itu. Kisah kocak yang kadang menyindir diri kita yang membacanya.

Cintailah Allah Melebihi Segalanya

Seberapa besar cinta kita kepada Allah, silakan tanya pada diri sendiri. Kita kadang lebih menghargai atasan kita daripada mendahulukan Allah. Sholat kadang ditunda ketika kita diundang oleh boss kita. Sholat kadang ditinggalkan karena asyik nonton Final Sepak Bola di televisi.

Aneka Sirwal dan baju gamis

Izzah Store Menjual aneka Sirwal dan gamis serta Jubah seperti Atasan Pakistan, Jubah Arab, Gamis Yaman, dll Juga Menyediakan baju Koko

Aneka Accessories

Izzah Store Menjual aneka Acessories seperti Sabuk Bonceng Anak, Sepatu Boots, Sorban, Siwak, dll

Aneka Gamis Pakistan dan Jubah Arab

Izzah Store Menjual aneka gamis dan Jubah seperti Atasan Pakistan, Jubah Arab, Gamis Yaman, dll Juga Menyediakan baju Koko

Aneka Sirwal, Celana Pangsi dan Cingkrang

Izzah Store Menjual aneka celana sirwal dan baju pangsi khas Sunda. Ada Sirwal biasa, Sirwal Loreng, Sirwal Boxer, Sirwal 3/4, dll

Keranda Kendaraan Masa Depan

Inilah yang namanya KERANDA yaitu kendaraan istimewa tanpa bensin (karena harganya selalu naik) yang. akan membawa kita ke tempat peristirahatan terakhir. Kendaraan sederhana tanpa AC, tanpa Pemutar Musik, dan akan berjalan dengan digotong kerabat kita.

Mari Mengingat Kematian

Berapapun lamanya kita hidup di dunia suatu saat nanti pasti akan berakhir. Dan akhir dari kehidupan dunia adalah datangnya kematian. Suka atau tidak suka kita akan tetap menemuinya. Oleh karena itu ingatlah selalu akan pemutus kenikmatan dunia yaitu MATI.

Ketika Malas Ibadah


Secara teori keilmuan, banyak sekali yang mengupas tentang tips dan kiat-kiat bagaimana supaya kita bisa tekun dan husu’ dalam beribadah. Kita tidak jarang mendapati sebuah pertanyaan seperti ini baik dari diri sendiri ataupun dari orang lain, “bagaimana sih caranya agar sholat kita bisa husu’? bagaimana sih caranya supaya kita bisa ihlas dalam beramal?”

Dan lain sebagainya. Tidak sulit kita untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi, tinggal buka kitab atau buku semua jawaban ada disitu. Atau yang lebih gampang lagi tinggal search di internet. Sekarang, ketika sudah mendapati jawaban, seperti apa reaksi kita? “oohh… seperti itu ya tipsnya? Kapan-kapan bisa saya praktekin”. “hemm… banyak banget tipsnya sampai capek bacanya”. “semua tipsnya kok susah-susah ya..?”. 

 Mungkin disinilah peran dari ‘Ilmu an-nafi’. Yang benar-benar memberi manfaat bagi yang memilikinya. Karena tak jarang dari kita, ilmu hanya sebagai wacana dan bahan untuk diskusi semata. Hingga tak jarang kita tidak merasakan manisnya ilmu pengetahuan yang kita jadikan pegangan dalam kehidupan. Ada kisah ringan yang menggerakkan hati saya, ada seorang pemuda bisa dibilang ia pandai ilmu agama. 

Namun satu kekurangannya yang paling mencolok dimata ibunya, ia sering mengahirkan shalat isya’ dan jarang membaca Qur’an . sang ibu tidak pernah lelah mengingatkannya untuk meninggalkan kebiasaan buruk itu, dengan enteng sang anak menjawab “iya bu’.. Insya Allah mulai besok saya tidak akan mengahirkan shalat isya’ dan akan rajin baca Qur’an. 

Kejadian seperti itu terus berlangsung hampir satu tahun lamanya. Hingga pada suatu hari sang ibu melihat kondisi kamarnya yang biasa pemuda tadi melakukan ibadah, “nak, coba diperluas lagi tempat ibadahmu biar lebih nyaman tidak sempit seperti itu”. Pemuda tadi pun menuruti perintah ibunya. Subhanallah, ahirnya pemuda tadi bisa meninggalkan kebiasan buruknya dan kembali rajin baca Qur’an. 

Ada hikmah apa dibalik kisah ini? Bila kita kembalikan ke pertanyaan diatas, ternyata teori keilmuan yang dimiliki pemuda tadi belum bisa mengantarkan pada apa yang seharusnya seorang ahlul ‘ilmi lakukan, bukannya pemuda tadi tidak mahu berubah dari kebiasaan buruknya, hanya saja ia belum mampu. Dan ternyata salah satu kendala yang membuatnya seperti itu adalah kehilafannya tidak pernah memperhatikan sarana ibadah yang bisa membuatnya lebih tenang dan nyaman. 

Tentu saja masing-masing pribadi mempunyai kendala tersendiri, hanya Allah lah yang bisa memperlihatkan jalan keluar kepada kita dari kemalasan ibadah. Maka dari itu, selayaknya kita mampu menciptakan suasana kenyamanan baik kenyamanan hati ataupun “makanul ibadah” sebelum kita menghadap Rabbul ‘izzah. Yang Insya Allah, kita benar-merasakan bahwa kita sedang shalat, merasakan nikmatnya niat, merasakan kedua tangan yang biasanya berlumur dosa kita gunakan untuk mengagungkan Tuhan dalam takbiratul ihram, menghadirkan keagungan ummul kitab (surah alfatihah) yang semakin menambah rasa kehambaan dan rasa butuh kita pada Tuhan, merasakan tuma’ninah, ruku’, sujud dan lan sebagainya. 

Imam Ibnu Rajab al-Hambali menjelaskan hasil dan pengaruh dari ilmu yang bermanfaat, yaitu menumbuhkan dalam hati orang yang memilikinya rasa tenang, takut dan ketundukan yang sempurna kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini berarti bahwa ilmu yang cuma pandai diucapkan dan dihafalkan oleh lidah, tapi tidak menyentuh –apalagi masuk– ke dalam hati manusia, maka ini sama sekali bukanlah ilmu yang bermanfaat, dan ilmu seperti ini justru akan menjadi bencana bagi orang yang memilikinya, bahkan menjadikan pemiliknya terkena ancaman besar –semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melindungi kita semua– termasuk ke dalam tiga golongan manusia yang pertama kali menjadi bahan bakar api neraka. 

Sebagai penutup, ada dua pertanyaan yang harus kita jawab dan kita segera perbaiki. Kapan terahir kali kita benar-benar merasakan kenikmatan ibadah? Kapan terahir kali kita benar-benar menikmati bacaan Qur’an dengan tidak ada perasaan gerah? 

sumber: Murtakibudz Dzunub (ahmadfarieds.blogspot.com)

 Anda mendapat 1 Pesan 

Silakan Buka Pesan Sekarang di Sini  

Penting!! Perlu Anda Baca

@ Bisnis Pulsa Paling Menguntungkan @ Cara Bikin Blog Cantik dan Dinamis @ Kumpulan Tutorial Blog Lengkap @ Kumpulan Dongeng Anak @ Bukan Berita Biasa @ Trik dan rumus matematika @ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah @ Tips dan Trik belajar yang efektif @ Review dan Ulasan pertandingan Juventus @ Pasang Iklan gratis @ Kumpulan widget gratis @ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah @ Seputar Koleksi Buku @ Seputar Resensi Buku @ Kumpulan tutorial Blog

12 Kunci Keselamatan


* Kunci kebahagiaan adalah taat keada Allah dan Rasul-Nya.
 * Kunci surga adalah tauhid. 
* Kunci keimanan adalah berpikir tentang ayat-ayat Allah dan ciptaan-Nya. 
* Kunci kebaikan adalah kejujuran.
 * Kunci kehidupan hati adalah membaca dan mendalami Al-Qur'an serta menjauhi dosa.  
* Kunci rizki adalah berusaha sambil beristighfar dan bertakwa. 
* Kunci ilmu adalah pandai bertanya dan mendengar. 
* Kunci kemenangan adalah sabar. 
* Kunci kesuksesan adalah takwa. 
* Kunci tambah rizki adalah bersyukur. 
* Kunci sukses akhirat adalah zuhud terhadap dunia. 
* Kunci dikabulkan permintaan adalah doa. 

Sumber: ahmadfarieds.blogspot.com 

 Anda mendapat 1 Pesan 

Silakan Buka Pesan Sekarang di Sini  

Penting!! Perlu Anda Baca

@ Bisnis Pulsa Paling Menguntungkan @ Cara Bikin Blog Cantik dan Dinamis @ Kumpulan Tutorial Blog Lengkap @ Kumpulan Dongeng Anak @ Bukan Berita Biasa @ Trik dan rumus matematika @ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah @ Tips dan Trik belajar yang efektif @ Review dan Ulasan pertandingan Juventus @ Pasang Iklan gratis @ Kumpulan widget gratis @ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah @ Seputar Koleksi Buku @ Seputar Resensi Buku @ Kumpulan tutorial Blog

Bilal bin Rabah Muadzin Rasulullah

Kalau kita mendengar nama Bilal bin Rabah, kita pasti terbayang kisah keteguhan hati seorang Muslim sejati. Betapa tidak. Saat umat Islam masih berjumlah sekian orang serta kekejaman yang diterima kaum Muslim, seorang budak berkulit kelam bertekad bulat dan mengikrarkan diri beriman kepada Allah SWT. Nama lengkapnya Bilal bin Rabah Al-Habasyi. Ia berasal dari negeri Habasyah, sekarang Ethiopia. Ia biasa dipanggil Abu Abdillah dan digelari Muadzdzin Ar-Rasul. Bilal lahir di daerah as-Sarah sekitar 43 tahun sebelum hijrah. Ia berpostur tinggi, kurus, warna kulitnya cokelat, pelipisnya tipis, dan rambutnya lebat. Ibunya adalah hamba sahaya (budak) milik Umayyah bin Khalaf dari Bani Jumuh. Bilal menjadi budak mereka hingga akhirnya ia mendengar tentang Islam. Lalu, ia menemui Rasulullah SAW dan mengikrarkan diri masuk Islam. Ia merupakan kalangan sahabat Rasulullah yang berasal dari non-Arab. Dalam Tokoh-Tokoh Besar Islam Sepanjang Sejarah karya Syekh Muhammad Sa’id Mursi, dipaparkan bahwa Umayyah bin Khalaf pernah menyiksa dan membiarkannya di jemur di tengah gurun pasir selama beberapa hari. Di perutnya, diikat sebuah batu besar dan lehernya diikat dengan tali. Lalu, orang-orang kafir menyuruh anak-anak mereka untuk menyeretnya di antara perbukitan Makkah. Saat berada dalam siksaan itu, tiada yang diminta Bilal kepada para penyiksanya, kecuali hanya memohon kepada Allah. Berkali-kali Umayyah bin Khalaf menyiksa dan memintanya agar meninggalkan agama yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Namun, Bilal tetap teguh pendirian. Ia selalu mengucapkan, “Ahad-Ahad.” Ia menolak mengucapkan kata kufur (mengingkari Allah). Abu Bakar as-Sidiq lalu memerdekakannya. Umar bin Khattab berujar, “Abu Bakar adalah seorang pemimpin (sayyid) kami dan dia telah memerdekakan seorang pemimpin (sayyid) kami.” Setelah merdeka, Bilal mengabdikan diri untuk Allah dan Rasul-Nya. Ke mana pun Rasul SAW pergi, Bilal senantiasa berada di samping Rasulullah. Karena itu pula, para sahabat Nabi SAW sangat menghormati dan memuliakan Bilal, sebagaimana mereka memuliakan dan menghormati Rasulullah SAW. Azan pertama Saat Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah, Bilal pun turut serta bersama kaum Muslim lainnya. Ketika Masjid Nabawi selesai dibangun, Rasulullah SAW mensyariatkan azan. Rasulullah SAW kemudian menunjuk Bilal untuk mengumandangkan azan karena ia memiliki suara yang merdu. Lalu, Bilal mengumandangkan azan sebagai pertanda dilaksanakannya shalat lima waktu. Sejak saat itu, Bilal mendapat julukan sebagai Muadzdzin ar-Rasul dan ia menjadi muazin pertama dalam sejarah Islam. Setelah sekian lama tinggal di Madinah, Bilal senantiasa menjadi pengumandang azan. Biasanya, setelah mengumandangkan azan, Bilal berdiri di depan pintu rumah Rasulullah SAW seraya berseru, “Hayya ‘alashshalaati hayya ‘alashshalaati (Mari melaksanakan shalat, mari meraih keuntungan).” Lalu, ketika Rasulullah SAW keluar dari rumah dan Bilal melihatnya, ia segera melantunkan iqamat sebagai tanda shalat berjamaah akan segera dimulai. Ketika menaklukkan Kota Makkah (Fathu Makkah), Rasulullah SAW berjalan di depan pasukan Muslim bersama Bilal. Saat masuk Ka’bah, beliau hanya ditemani oleh tiga orang sahabat, yaitu Utsman bin Thalhah, Usamah bin Zaid, dan Bilal bin Rabah. Tak lama kemudian, waktu shalat Zuhur pun tiba. Ribuan orang berkumpul di sekitar Rasulullah SAW, termasuk orang-orang kafir Quraisy yang baru masuk Islam saat itu. Pada saat-saat yang sangat bersejarah itu, Rasulullah SAW memanggil Bilal agar naik ke atap Ka’bah untuk mengumandangkan azan. Tanpa menunggu perintah kedua, Bilal segera beranjak dan melaksanakan perintah tersebut dengan senang hati. Ia pun mengumandangkan azan dengan suaranya yang bersih dan jelas. Orang-orang semakin banyak berkumpul. Azan yang dikumandangkan Bilal itu merupakan azan pertama di Makkah. Ribuan pasang mata memandang Bilal dan ribuan lidah mengikuti kalimat azan yang dikumandangkannya. Saat sampai pada kalimat, “Asyhadu anna Muhammadar Rasuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah).” Juwairiyah binti Abu Jahal bergumam, “Sungguh, Allah telah mengangkat kedudukanmu. Memang, kami tetap akan shalat, tapi demi Allah, kami tidak menyukai orang yang telah membunuh orang-orang yang kami sayangi.” Maksud Juwairiyah adalah ayahnya yang tewas dalam Perang Badar. Sejak saat itu, Bilal pun terkenal sebagai muazin Rasul. Bahkan, ia menjadi muazin tetap saat Rasul masih hidup. Tidak ada orang lain yang menggantikan Bilal. Yang lain pun tak keberatan Bilal melakukannya. Namun, saat Rasul SAW wafat dan ketika shalat akan dikumandangkan, Bilal pun segera berdiri untuk melaksanakan kewajibannya. Saat itu, jasad Rasulullah SAW masih terbungkus kain kafan dan belum dikebumikan. Maka, ketika Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna Muhammadar Rasuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah),” tiba-tiba suaranya terhenti. Bilal menangis. Ia tidak sanggup mengangkat suaranya lagi. Bilal merasakan betapa sedihnya ditinggalkan oleh manusia yang paling dicintainya. Tak hanya kaum Muslim, Allah pun mencintai Rasulullah SAW. Seperti dikomando, tangisan Bilal itu diiringi oleh kaum Muslim yang hadir. Mereka semua menangis karena ditinggal pergi sang kekasih. Dalam Shuwar min Hayaatis Shahabah karya Dr Abdurrahman Ra’fat Basya, dipaparkan bahwa sejak kepergian Rasulullah SAW, Bilal hanya sanggup mengumandangkan azan selama tiga hari. Setiap sampai kepada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rasuulullaahi,” ia langsung menangis tersedu-sedu. Begitu pula kaum Muslim yang mendengarnya, larut dalam tangisan pilu. Kemudian, Bilal mendatangi Abu Bakar as-Sidiq, yang menggantikan posisi Rasulullah SAW sebagai pemimpin umat Islam, agar dia diperkenankan untuk tidak mengumandangkan azan lagi. Ia seakan tidak sanggup melakukannya. Permohonan itu pun dikabulkan Abu Bakar. Sejak saat itu, Bilal tak pernah lagi menjadi muazin bagi seseorang. Pernah Bilal melakukannya ketika Khalifah Umar mengunjunginya di Damaskus. Namun, itu pun hanya sampai kalimat, “Asyhadu anna Muhammadar Rasuluullaahi.” Ia lagi-lagi menangis mengingat Rasulullah SAW. Bahkan, Umar pun turut menangis. Azan yang dikumandangkan Bilal mengingatkan Umar ketika bersama-sama dengan Rasulullah SAW, orang yang paling dicintainya. Kini, sang muazin Rasulullah SAW ini sudah berpulang sejak 14 abad silam, tepatnya tahun ke-20 H. Namun, namanya masih harum hingga kini. Bahkan, di sejumlah masjid di Indonesia, mungkin juga di negara lainnya, nama muazin selalu tercantum dengan tulisan bilal. Ini menunjukkan sebagai penghormatan kepada sang muazin Rasulullah, pengumandang azan pertama di dunia. Semoga Allah memberikan tempat yang mulia di sisi-Nya. Tak Pernah Meninggalkan Wudhu Nama Bilal memang kerap dikaitkan dengan azan. Sebab, dia adalah orang pertama yang menjadi muazin pada zaman Rasul SAW. Namun, kemuliaan Bilal tak hanya karena azannya, jejak langkah Bilal pernah didengar Rasulullah SAW di dalam surga. Sebuah penghargaan yang sangat tinggi bagi setiap orang yang beriman. Suatu hari, pada waktu Subuh, Rasulullah SAW berbincang-bincang dengan Bilal bin Rabah. Rasul berkata, “Wahai, Bilal, ceritakanlah kepadaku mengenai amalan yang menurutmu paling besar pahalanya, yang pernah kamu kerjakan dalam Islam. Sesungguhnya, aku pernah mendengar suara telapak langkah (jalan)-mu di hadapanku di surga.” Bilal menjawab, “Wahai, Rasulullah, sesungguhnya aku tidak pernah mengerjakan amalan yang menurutku besar pahalanya, tapi aku tidak wudhu pada waktu malam dan siang, melainkan aku akan menunaikan shalat yang diwajibkan bagiku untuk mengerjakannya.” Jadi, setiap selesai melaksanakan wudhu, Bilal senantiasa melakukan shalat dua rakaat, yakni shalat sunat wudhu. Perbuatan itu senantiasa dilakukannya dalam setiap kesempatan. Selain itu, ia juga termasuk orang yang senantiasa memelihara (dawam) wudhu, yakni setiap batal, dia akan langsung berwudhu. Semasa hidupnya, Bilal telah meriwayatkan 44 hadis dari Nabi SAW. Di antaranya, Rasulullah bersabda, “Hendaklah kalian menunaikan shalat malam (tahajud) karena shalat malam adalah tradisi (kebiasaan) orang-orang saleh sebelum kalian. Sesungguhnya, shalat malam adalah amalan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah, dapat mencegah dari perbuatan dosa, mengampuni dosa-dosa kecil, dan menghilangkan penyakit dari badan.” (HR Tirmidzi). Selain sebagai muazin, Bilal juga pernah menjabat sebagai bendahara Rasulullah di baitul mal. Ia tidak pernah absen mengikuti semua peperangan bersama Rasulullah. Tentang Bilal, Rasulullah SAW mengatakan, “Bilal adalah seorang penunggang kuda yang hebat dari kalangan Habasyah.” (HR Ibnu Abi Syaibah dan Ibn Asakir). Bilal meninggal dunia di Damaskus pada 20 H. Jasadnya dimakamkan di sana. Namun, ada riwayat yang menyebutkan bahwa jasad Bilal dimakamkan di wilayah Halb. Anda mendapat 1 Pesan Silakan Buka Pesan Sekarang di Sini Penting!! Perlu Anda Baca: @ Bisnis Pulsa Paling Menguntungkan @ Cara Bikin Blog Cantik dan Dinamis @ Kumpulan Tutorial Blog Lengkap @ Kumpulan Dongeng Anak @ Bukan Berita Biasa @ Trik dan rumus matematika @ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah @ Tips dan Trik belajar yang efektif @ Review dan Ulasan pertandingan Juventus @ Pasang Iklan gratis @ Kumpulan widget gratis @ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah @ Seputar Koleksi Buku @ Seputar Resensi Buku @ Kumpulan tutorial Blog

Ummu ‘Umarah Pejuang wanita sejati

Tinta sejarah menjadi saksi, bahwa tidak sedikit wanita mukminah yang terjun kemedanpertempuran, jihad fii sabilillah. Mereka menyelinap di antara lemparan-lemparan lembing, kilatan-kilatan pedang dan jatuhan anak-anak panah. Mereka menyampaikan makanan, minuman dan obat-obatan bagi prajurit mukmin yang berjuang mempertahanakan Islam. Bahkan jika keadaan memintanya untuk menyandang pedang, mereka tidak gentar justru makin berkobar semangatnya. Diantara wanita-wanita pejuang itu adalah Nusaibah binti Ka’af Al-Anshariyah yang terkenal dengan Ummu ‘Umarah. Sesungguhnya Ummu ‘Umarah merupakan salah satu contoh keberanian dan ketegaran. Ia merupakan sosok kepahlawanan yang tidak pernah absen melaksanakan kewajiban bilamana memanggilnya. Ia adalah shahabiyah yang utama ….. Ia termasuk salah satu dari dua wanita yang bergabung dengan tujuh laki-laki anshar yang berbai’at kepada Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam pada bai’at Aqabah kedua. Pada waktu itu ia bersama suaminya, Zaid bin Ashim dan dua orang putranya, Hubaid bin Zaid dan Abdullah bin Zaid. Dan wanita yang satu lagi adalah saudara perempuannya. Ibnu Sa’ad dalam Thalaqatnya menyatakan (yang terjemahannya): “Hunain, Perang Yamamah dan terpotong tangannya, dan mendengar beberapa hadits dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.” Sedangkan Imam Adz Dzahabi menyatakan (yang terjemahannya): “Ia (Ummu ‘Umarah) adalah wanita yang utama dan wanita dari kalangan anshar, Khazraj, Najjar, Mazin dan juga sebagai orang madinah. Saudaranya Abdullah bin Ka’ab termasuk orang yang ikut Perang Badar, dan saudaranya Abdurrahman termasuk orang yang suka menangis. Ummu ‘Umarah menghadiri malam perjanjian Aqabah. Ia juga ikut dalam Perang Uhud, Perdamaian Hudaibiyah, Perang Hunain, Perang Yamamah dan aktif melakukan beberapa kegiatan.” Dalam perang Uhud, Ummu ‘Umarah Nusaibah berjuang bersama suaminya dan dua orang putranya. Ia keluar untuk memberi minum dengan membawa qirbah (tempat air). Namun ketika keadaan pasukan Muslimin berubah menjadi terdesak, ia ikut terjun langsung dalam pertempuran sehingga terluka dengan luka-luka sebanyak dua belas (dalam riwayat lain tiga belas. wallaahu a’lam). Tentang peristiwa ini Ummu ‘Umarah mengisahkan (yang terjemahannya): “Keadaan pasukan kaum Muslimin benar-benar berantakan. Banyak orang meninggalkan Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam, tinggal tersisa beberapa orang yang melindungi beliau, termasuk aku, suamiku, serta kedua anakku. Sementara di depanku, banyak orang sedang melarikan diri untuk mundur. Saat itu aku tidak bersenjata. Dan ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melihat seorang laki-laki yang mengundurkan diri sambil membawa perisai, beliau lalu bersabda : “Berikanlah perisaimu kepada orang yang sedang berperang !” Orang tersebut segerea melemparkannya, dan aku segera memungutnya lalu aku gunakan untuk melindungi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Pasukan yang menyerang saat itu adalah pasukan berkuda. Kami yakin, apabila bukan pasukan berkuda pasti kami sudah bisa mengatasinya. Tiba-tiba datang seorang penunggan kuda menyerangku dengan pedang, serangan itu dapat aku tangkis. Ketika dia akan lari aku hantam kaki kudanya dan dia pun jatuh tertelungkup. Saat itu aku dengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berteriak : “Wahai putra Ummu ‘Umarah bantulah ibunya !” Lantas datanglah anakku dan bersama-sama kami habiskan orang itu.” Ummu ‘Umarah terus bertempur tanpa mengenal lelah, sambil sesekali membantu merawat mereka yang luka. Begitu sibuknya Ummu ‘Umarah, sampai-sampai ia tidak mengetahui kalau putranya Abdullah bin Zaid terluka parah. Ia baru mengetahuinya setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berteriak (yang terjemahannya): “Hai Abdullah ! Kau ikat lukamu dulu baru kau teruskan bertempur lagi !” Ummu ‘Umarah terkejut mendengar teriakan itu dan segera sadar putranya dalam bahaya. Segera ia mendekati dan mengobati luka putranya yang ternyata memang parah. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengawasi keduanya dan setelah selesai, Ummu ‘Umarah berkata (yang terjemahannya): “Nah … sekarang bangkitlah dan perangilah kaum itu !” Melihat kejadian tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda (yang terjemahannya): “Siapakah yang sanggup melakukan sebagaimana yang kau lakukan ini ya … Ummu ‘Umarah ?” Kemudian datanglah orang yang memukul putranya tadi lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda (yang terjemahannya): “Ya …. Ummu ‘Umarah ! Itu orang yang memukul anakmu datang !” Tanpa banyak berbicara Ummu ‘Umarah menghadang orang yang ditunjukkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan menghantam kakinya sehingga orang tersebut terduduk di tanah. Sambil tersenyum Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang melihat hal itu bersabda (yang terjemahannya): “Engkau telah membalasnya ya Ummu ‘Umarah !” Tak lama kemudian beberapa orang datang dan bersama-sama membunuh orang tersebut, lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda lagi (yang terjemahannya): “Alhamdulillah ….. ! Allah memberikan kesempatan kepadamu untuk membalas musuhmu dan menyaksikan pembalasan itu sendiri.” Imam Adz Dzahabi meriwayatkan dari Abdullah bin Zaid bin Ashim, ia berkata (yang terjemahannya): “Saya mengikuti perang Uhud, maka ketika orang-orang meninggalkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, saya dan ibu mendekati beliau untuk melindungi. Lalu beliau bertanya : “Mana Ummu ‘Umarah ?” Ibu menjawab : “Ya … wahai Rasulullah” Beliau bersabda : “Lemparilah !” Lalu ibu melempari seorang laki-laki yang sedang naik kuda di depan beliau dengan batu dan mengenai mata kudanya. Kemudian kudanya itu berguncang-guncang keras lantas jatuh bersama penunggangnya, lalu saya tindih orang itu dengan batu dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melihat sambil tersenyum. Kemudian beliau luka ibu di pundaknya, lalu beliau berseru : “Ibumu ! Ibumu ! Balutlah lukanya ! Ya Allah, jadikanlah mereka shahabat saya di dalam syurga” Mendengar itu ibu berkata : “Aku tidak menghiraukan lagi apa yang menimpaku dari urusan dunia ini !” Allahu Akbar ! Betapa tegarnya engkau wahai Ummu ‘Umarah. Tak lagi engkau menghiraukan lukamu setelah doa yang menggembirakan hatimu ! Begitulah Ummu ‘umarah melewati hari-harinya dengan terus berjuang di jalan Allah ‘Azza wa Jalla. Maka tatkala Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah wafat muncullah si pendusta Musailamah al Kadzdzab ia mengaku sebagai Nabi sehingga kaum Musliminpun memeranginya. Taqdir Allah menentukan bahwa Hubaib putra Ummu ‘Umarah ditawan Musailamah, kemudian disiksa dengan berbagai siksaan. Namun Allah ‘Azza wa Jalla memberikan keteguhan dan ketegaran kepada putra Ummu ‘Umarah ini, meskipun teramat berat siksaan dirasakannya. Akhirnya Allah mentaqdirkan Hubaib mati di tangan Musailamah dengan sangat mengenaskan. Semoga Allah menempatkannya di jannah yang penuh dengan kenikmatan. Al Waqidi menceritakan (yang terjemahannya): “Ketika sampai kepada Ummu ‘Umarah berita kematian anaknya di tangan Musailamah, maka ia berjanji kepada Allah dan memohon kepada-Nya agar ia juga mati di tangan Musailamah atau ia yang membunuh Musailamah. Maka Ummu ‘Umarah ikut perang Yamamah bersama Khalid bin Walid, lalu Musailamah terbunuh dan tangan Nusaibah terpotong dalam perang tersebut.” Ummu ‘Umarah berkata (yang terjemahannya): “Tanganku terpotong pada hari perang Yamamah padahal aku sangat berkeinginan membunuh Musailamah. Tidak ada yang dapat melarangku hingga aku melihat orang jahat itu mati terkapar. Dan tiba-tiba aku lihat anakku Abdullah bin Zaid mengusap pedangnya dengan pakaiannya, lalu bertanya kepadanya : “Engkaukah yang membunuhnya ?” Ia menjawab : “Ya” Kemudian aku sujud syukur kepada Allah.” Itulah sepenggal kisah Ummu ‘Umarah, Nusaibah binti Ka’ab Al Anshariyah, sehingga seorang pejuang wanita yang berjuang dalam hidupnya untuk kejayaan Islam hingga akhir hayatnya, semoga Alllah meridhainya dan menjadikannya ridha. Dan semoga Allah menyambut dengan Rahmat-Nya yang luas dan menempatkannya ke dalam jannah yang penuh dengan ketenangan dan ketentraman yang hakiki. Wallaahu A’lam Bishashawab. Anda mendapat 1 Pesan Silakan Buka Pesan Sekarang di Sini Penting!! Perlu Anda Baca: @ Bisnis Pulsa Paling Menguntungkan @ Cara Bikin Blog Cantik dan Dinamis @ Kumpulan Tutorial Blog Lengkap @ Kumpulan Dongeng Anak @ Bukan Berita Biasa @ Trik dan rumus matematika @ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah @ Tips dan Trik belajar yang efektif @ Review dan Ulasan pertandingan Juventus @ Pasang Iklan gratis @ Kumpulan widget gratis @ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah @ Seputar Koleksi Buku @ Seputar Resensi Buku @ Kumpulan tutorial Blog

Mengenal Bahaya Takabbur

Imam As-Suyuthi mengeluarkan sebuah hadits dengan sanad yang shahih, Allah SWT ber¬firman, "Kesombongan adalah pakaian kebesaran-Ku. Barang siapa mengambil pakaian kebesaran itu dari¬Ku, niscaya Aku binasakan." Apakah engkau melihat ada satu bahaya yang lebih besar dari ini? Seseorang yang menempatkan diri¬nya di atas kesombongan dan berdiam diri serta menganggap perkara ini se¬suatu yang sepele, sesungguhnya ba¬haya yang pertama baginya adalah bah¬wa ia telah mempertunjukkan dirinya un¬tuk melakukan perang terhadap Allah SWT. Apa sebab ia dikatakan telah me¬nabuh genderang peperangan terhadap Allah SWT? Karena perbuatan tersebut merupakan puncak dari permusuhan yang sesungguhnya. Mengapa dikatakan permusuhan? Karena engkau menyatakan sesuatu yang bukan milikmu. Engkau merebut hak Allah SWT di dalam sifat-sifat-Nya, karena hanya milik-Nya-lah segala ben¬tuk kesombongan dan kebesaran. Kata al-kibriya' diambil dari kata akbar, sesuatu yang paling besar. Dia¬lah Yang Mahabesar. Ini beraiti engkau menantang Yang Mahabesar SWT. Di dalam shalat engkau ucapkan, "Allah Mahabesar." Lalu bagaimana mungkin engkau merasa besar dan menyom¬bongkan diri? Sungguh ini sosuatu yang sangat berbahaya. Para ulama mengatakan, sesung¬guhnya Allah SWT memiliki sifat Jala¬liyah (Keagungan), Kamaliyah (Kesem¬purnaan), dan sifat Jamaliyah (Keindah¬an). Dan ibadah kita kepada Allah SWT adalah bahwa di hadapan sifat keagung¬an-Nya kita harus berbuat dengan apa¬apa yang menjadi lawanannya. Allah memiliki sifat kesombongan, apa yang semestinya kita miliki? Yang mesti kita miliki adalah kerendahan hati (at-tawadhu’). Allah memiliki sifat ketinggian dan kemuliaan, apa yang seharusnya kita mi¬liki? Kita semestinya memiliki sifat me¬rendahkan diri dan merasa hina. Allah memiliki sifat Mahakaya, kita semestinya memiliki sifat faqir dan ter¬amat bergantung. Bagi Allah kemaha¬kuasaan, bagi kita adalah kelemahan. Bila Allah SWT memadang kepada¬mu sedangkan engkau berakhlaq de¬ngan akhlaq yang patut dan semestinya untukmu, yakni berakhlaq dengan akh¬laq yang menjadi kebalikan dari sifat-sifat keagungan dan akhlaq-akhlaq ketuhan¬an, niscaya Allah pun akan ridha ke¬padamu. Adapun sifat-sifat kemahaindahan ketuhanan Allah SWT, kita mengikutinya dan berakhlaq dengan sifat-sifat ke¬mahaindahan-Nya tersebut. Allah bersi¬fat Maha Pengasih, jadilah engkau se¬orang pengasih. Allah Maha Dermawan, jadilah engkau seorang dermawan. Allah Mahabijaksana, jadilah engkau seorang yang bijaksana. Sifat-sifat ini keseluruh¬annya adalah sifat-sifat yang disukai Allah untuk ditiru dan diikuti. Di sana terdapat sifat-sifat kesem¬purnaan Allah SWT. Apabila engkau te¬lah dapat mewujudkan kebalikan dari si¬fat-sifat keagungan-Nya, kesombongan dengan kerendahan hati, kebesaran dan kemuliaan dengan kerendahan diri, ke¬mahakayaan dengan kefaqiran dan ter¬amat butuh terhadap Allah SWT, dan engkau pun telah pula mewujudkan sifat¬sifat keindahan Allah SWT dalam dirimu, Allah bersifat Maha Pengasih, engkau menjadi seorang pengasih, Allah Maha Dermawan, engkau menjadi seorang dermawan, Allah Mahabijaksana, eng¬kau menjadi seorang yang bijak... Allah SWT akan bertajalli terhadap dirimu dengan sifat-sifat kemahasempurnaan¬Nya. Engkau lemah, Allah akan memberi¬kan kekuatan kepada-Mu dari kekuatan¬Nya, Allah akan memberikan ketegaran dari kekuatan-Nya. Engkau bodoh, Allah akan memberikan pengetahuan dan hik¬mah dari ilmu dan hikmah-Nya. "Dan Kami telah mengajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami." - QS AI-Kahfi (18): 65. Allah SWT memberikan ilmu kepadamu, karena engkau telah melakukan muama¬lah yang baik dengan asma-asma Allah SWT dan sifat-sifat-Nya. Hamba yang sombong adalah sebab dari kerusakan yang terjadi di atas muka bumi ini. Bagaimana mungkin engkau berjalan menuju Allah SWT sedangkan engkau berbuat kerusakan di atas muka bumi, yang Allah amanahkan kepadamu agar engkau menjadi khalifah Allah di atasnya? "Sesungguhnya Aku hendak men¬jadikan khalifah di muka bumi." - QS Al-Baqarah (2): 30. Peliharalah bumi ini, dan jangan me¬rusaknya. Apa maknanya? Sesungguhnya sebagian besar dari segala kesulitan yang ada di muka bumi ini sumbernya adalah dari kesombongan (al-kibr). Segala apa yang engkau lihat dan saksikan dari berbagai pertumpahan darah, perampasan hak orang lain, dan tindakan anarkis, penipuan, suap-me¬nyuap, pencurian, pemutusan silatura¬him, kebencian dan tidak saling menya¬pa, dan sebagainya, awalnya tidak lain adalah tunduknya jiwa terhadap kesom-bongan. Dalam hal ini berarti kita sedang ber¬bicara tentang sesuatu yang berkaitan dengan bagaimana menyelesaikan ber¬bagai masalah yang melingkupi kita di dunia ini. Akan tetapi dari manakah dimulainya jalan keluar dari berbagai masalah yang ada di dunia ini? Jalan keluar dari semua masalah itu sesungguhnya tidaklah dapat dimulai dengan seseorang di antara kita mem¬busungkan dadanya, menghentakkan napasnya, dan memandang bahwa hanya dirinyalah orang shalih yang akan membenahi bumi ini dari kerusakan, se¬kalipun itu dengan nama Islam. Melain¬kan hal itu dimulai dengan kembalinya setiap manusia'kepada hatinya untuk membersihkannya dari segala penyakit yang ada di dalamnya. Mengobati Penyakit Takabbur Ada dua cara mengobati penyakit takabur, yaitu ilmu dan amal. Pertama, ilmu. Yakni hendaklah eng¬kau mengetahui siapa dirimu? Coba ingatlah, renungkanlah, baca, pelajari, dan cari tahu siapa dirimu sesungguh¬nya? Awalmu adalah setetes air mani dan akhirmu adalah bangkai yang kotor dan di antara keduanya itu engkau mem¬bawa kotoran. Apa sesungguhnya dirimu? Dari apa engkau diciptakan? Dan apa kelak akhir dari dirimu? Engkau adalah si lemah yang teramat rapuh hanya oleh lapar dan letih yang menderamu! Imam Ali bin Abi Thalib RA pernah berkata, "Sungguh aku heran terhadap orang yang berlaku sombong padahal ia hanyalah si lemah yang bau tak sedap karena keringatnya, dapat terbunuh bila mencuri, dan tak dapat tidur hanya ka¬rena kuman kecil yang menggerogoti tu¬buhnya." Hakikatnya memang engkau adalah makhluk yang lemah, yang tiada ber¬daya. Akan tetapi kekuatan akan datang kepadamu dengan penyandaranmu ke¬pada Allah SWT. Bila engkau telah memahami per¬kara ini dan kemudian ilmu ini telah ber¬ubah menjadi sesuatu yang mengkristal di dalam dirimu, ia membutuhkan se¬suatu yang lain di sampingnya, yakni obat yang kedua bagi takabur, yaitu amal perbuatan. Maka, cara mengobati penyakit ta¬kabur yang kedua adalah amal perbuat¬an. Dalam hal ini ada dua perkara yang hendaknya dilakukan. Pertama, hauslah akan perbuatan¬perbuatan yang dapat menumbuhkan sifat tawadhu', sifat rendah hati. Untuk berbuat lebih dulu dalam perbuatan-per¬ buatan itu. Setiap kali engkau berjumpa dengan siapa pun, lakukanlah lebih da¬hulu untuk menyapa mereka. Ucapkan¬lah salam kepadanya, dan jabatlah ta¬ngannya, siapa pun orangnya, kecil ataupun begar, teman, atau bahkan musuh. Engkau yang harus terlebih dahulu memulainya. Jangan biarkan bisikan¬hisikan nafsumu mendiktemu. Wahai murid pencari ridha Allah, hati-hatilah! Jangan sampai nafsumu menertawakanmu dan berkata kepada¬mu, "Lakukanlah sesuatu dari sifat ke¬sombongan, karena kesombongan ada¬lah keutamaan!" Tinggalkan bisikan itu. Mulailah terlebih dahulu untuk meng¬ucapkan salam dan berjabat tangan kepada siapo pun yang engkau jumpai. Kedua, bersegeralah untuk melaku¬kan perbuatan-perbuatan yang memiliki keutamaan dan dapat mengalahkan nafsu. Engkau masuk ke dalam masjid, mi¬salnya, dan engkau dapati ada sesuatu yang kotor di dalamnya, ambil dan ber¬sihkanlah. Syaikh Muhammad Mutawalli Asy-Sya'rawi adalah salah seorang pembesar ulama ahli hati. Di waktu-wak¬tu tertentu beliau tidak terlihat di kediam¬annya. Murid-murid beliau pun mencari¬nya ke sana-kemari dan tidak menemu¬kannya. Ternyata beliau sedang berada di dalam WC masjid. Beliau menutup pintu WC dan membersihkan kotoran¬kotorang yang ada di kloset dan sekitar¬nya. Ketika orang-orang dekatnya berta¬nya kepada beliau tentang hal itu, beliau menjawab, "Aku takut terhadap takabur atas diriku... aku takut kalau-kalau aku merasa ujub atas diriku... di saat orang¬-orang memanggilku, `Syaikh Sya’rawi... Syaikh Sya'rawi... ', insan televisi, men¬teri, para pembantu, sanak keluargaku, dan semua kepercayaan orang terha¬dapku. Aku takut semua itu menjadi ru¬sak. Karenanya aku bermaksud meng¬ingatkan diriku dengan sesuatu dari pe¬kerjaanku ini." Itulah sebabnya, engkau akan men¬dapati bahwa, bagi orang yang hatinya telah takluk oleh sifat takabur, sulit bagi¬nya untuk menerima hal semacam ini. Jika engkau katakan kepadanya "Bang¬kitlah dan bersihkan kotoran itu", ia akan berkata, "Apa urusanku dengan kotoran ini? Engkau ingin aku membersihkan¬nya?" Mari kita mengingat riwayat tentang Uwis Al-Qarni - semoga Allah merah-matinya. Suatu hari ia mengumpulkan sisa-sisa makanan dari tempat-tempat sampah, mengaisnya dan membersih¬kannya. Setelah itu makanan-makanan itu ia bagi-bagikan kepada para faqir miskin yang sangat membutuhkan, yang tidak menemukan makanan di hari itu. Dan dalam munajatnya, ia selalu ber¬kata, "Ya Allah, janganlah Engkau adzab diriku karena orang-orang yang tidur da¬lam keadaan lapar dari umat Nabi Muhammad." Dengarlah, wahai saudara-saudara¬ku pengusaha, yang dikaruniai harta yang berlimpah. Beliau yang tiada ber¬harta dan tidak pula memiliki makanan ini telah mengais sisa-sisa makanan dari tempat-tempat sampah, membersihkan¬nya, dan membagi-bagikannya kepada orang-orang faqir yang membutuhkan dan berkata dalam munajatnya, "Ya Allah, janganlah Engkau adzab diriku karena orang-orang yang tidur dalam ke¬adaan lapar dari umat Nabi Muham¬mad." Suatu hari seekor anjing yang tengah lapar mendekati Uwais Al-Qarni yang tengah mengais sisa-sisa makanan di tempat sampah dan menggonggong di hadapannya karena merasa terganggu terhadap kehadiran Uwis di tempat itu. Uwais pun berkata kepada anjing itu, "Wahai anjing, janganlah engkau me¬nyakitiku, karena aku pun tidak akan me-nyakitimu. Aku hanya mengambil yang layak untukku dan engkau pun meng¬ambil yang layak untukmu. Jika kelak aku dapat melewati shirath dan masuk ke dalam surga, sungguh keadaanku le¬bih baik darimu. Namun jika aku terge¬lincir dari shirath dan jatuh ke dalam ne¬raka, sungguh engkau lebih baik dariku." Benar, di hari Kiamat nanti anjing akan kembali menjadi debu. Dan sese¬orang dari kita - nauzhu billahi min dzalik - bila masuk ke dalam neraka, apa yang dapat berguna baginya? Maka sungguh anjing lebih baik baginya. Kisah ini tidaklah dimaksudkan agar engkau memberi makan orang-orang faqir dari tempat sampah. Sama sekali tidak! Melainkan yang kami inginkan adalah agar sifat takabur yang ada di dalam hati kita keluar dan pergi. Kita hendak mengobati penyakit-penyakit yang ada di dalam hati kita. Hendaklah kita haus untuk melaku¬kan perbuatan-perbuatan itu. Dan di an¬tara perbuatan-perbuatan tersebut ada¬lah berkhidmah kepada para faqir mis¬kin. Carilah anak yatim piatu, orang¬orang faqir, atau mereka yang telah jom¬po. Bantulah untuk mencucikan pakaian mereka atau membantu menuntun me¬reka masuk ke kamar mandi untuk mem-bantu mereka mandi, karena dalam se¬tiap pekerjaan ini terdapat makna meng¬alahkan sifat takabur dalam jiwa. Berat memang terasa bagi nafsu, akan tetapi padanya terdapat pengekangan bagi nafsu dan pendidikan terhadapnya. Bila kedua langkah ini, ilmu dan amal, sudah dilakukan, mengobatinya haruslah disertai dengan kesungguhan doa kepada Allah SWT. Anda mendapat 1 Pesan Silakan Buka Pesan Sekarang di Sini Penting!! Perlu Anda Baca: @ Bisnis Pulsa Paling Menguntungkan @ Cara Bikin Blog Cantik dan Dinamis @ Kumpulan Tutorial Blog Lengkap @ Kumpulan Dongeng Anak @ Bukan Berita Biasa @ Trik dan rumus matematika @ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah @ Tips dan Trik belajar yang efektif @ Review dan Ulasan pertandingan Juventus @ Pasang Iklan gratis @ Kumpulan widget gratis @ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah @ Seputar Koleksi Buku @ Seputar Resensi Buku @ Kumpulan tutorial Blog