Showing posts with label pendidikan anak. Show all posts
Showing posts with label pendidikan anak. Show all posts
Fenomena Tawuran antar Pelajar
Semakin hari, tawuran pelajar tak semakin berkurang. Bahkan, menjelang akhir tahun, berita tawuran hampir setiap hari menghiasi media massa. Kapankah tawuran akan berkesudahan?
Data Komnas PA merilis jumlah tawuran pelajar tahun ini sebanyak 339 kasus dan memakan korban jiwa 82 orang. Tahun sebelumnya, jumlah tawuran antar-pelajar sebanyak 128 kasus.
Data Komnas PA merilis jumlah tawuran pelajar tahun ini sebanyak 339 kasus dan memakan korban jiwa 82 orang. Tahun sebelumnya, jumlah tawuran antar-pelajar sebanyak 128 kasus.
Tak berbeda jauh, data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebutkan, pengaduan kekerasan kepada anak sebanyak 107 kasus, dengan bentuk kekerasan seperti kekerasan fisik, kekerasan psikis, pembunuhan, dan penganiayaan.
Banyak sekali alasan yang bisa menjadikan tawuran antar-pelajar terjadi. Pelajar sering kali tawuran hanya karena masalah sepele, seperti saling ejek, berpapasan di bus, pentas seni, atau pertandingan sepak bola. Bahkan, yang baru terjadi awal bulan ini, tawuran dipicu saling ejek di Facebook, yang kemudian sampai menyebabkan nyawa seorang pelajar melayang. Padahal, jejaring sosial, kan, hanya untuk having fun, bukan untuk menjadi pemicu tawuran.
Selain alasan-alasan yang spontan, ada juga tawuran antar-pelajar yang sudah menjadi tradisi.
Dari jajak pendapat Kompas pada bulan Oktober, dengan responden di 12 kota di Indonesia, diketahui sebanyak 17,5 persen responden mengakui bahwa saat dia bersekolah SMA, sekolahnya pernah terlibat tawuran antar-pelajar. Tidak sedikit pula responden atau keluarga responden yang mengaku pada masa bersekolah terlibat tawuran atau perkelahian massal pelajar. Jumlahnya mencapai 6,6 persen atau sekitar 29 responden.
Di antara pelajar laki-laki, tawuran seperti sudah menjadi tradisi yang harus dilakukan. Kalau enggak tawuran, enggak jantan, enggak keren, enggak mengikuti perkembangan zaman, atau banyak lagi anggapan lain.
Fenomena basis
Dosen Psikologi Universitas Indonesia, Winarini Wilman, dalam diskusi bersama Litbang Kompas, bulan lalu, mengatakan, fenomena tawuran pelajar di Jakarta sudah terjadi selama puluhan tahun. Dari kacamata psikologis, ujar Winarini, tawuran merupakan perilaku kelompok. Ada sejarah, tradisi, dan cap yang lama melekat pada satu sekolah yang lalu terindoktrinasi dari siswa senior kepada yuniornya.
Tawuran lebih sering terjadi di jalanan, jauh dari sekolah. Tawuran juga sering kali terjadi di titik yang sama dan waktu yang sama. Aparat keamanan pun sering berjaga di titik tersebut, tetapi siswa yang hendak tawuran selalu bisa mencari cara untuk tetap tawuran.
Dalam penelitian untuk disertasi berjudul ”Student Involvement in Tawuran: A Social-psychological Interpretation of Intergroup Fighting among Male High School Students in Jakarta”, tahun 1996-1997, Winarini menemukan adanya fenomena barisan siswa (basis) yang terdiri atas 10-40 siswa. Mereka bersama-sama pergi dan pulang sekolah naik bus umum. Basis itu terbentuk berdasarkan keyakinan bahwa mereka akan diserang oleh sekolah musuh bebuyutan mereka (Kompas, 26/11).
Menghilangkan tawuran
Untuk menghilangkan tawuran antar-pelajar yang sudah mengakar, tentu dibutuhkan usaha keras. Banyak usulan yang dilontarkan untuk mengurangi tawuran antar-pelajar. Beberapa di antaranya memindahkan sekolah, memotong generasi di sekolah, atau memotong mata rantai tradisi tawuran.
Salah satu upaya mengurangi tawuran yang juga pernah dilakukan adalah memindahkan letak sekolah karena diduga lingkungan sekolah yang terlalu ramai di tengah kota mengakibatkan tekanan mental lebih berat bagi siswa. Pada periode 1980-an, SMA 7 Gambir, Jakarta, terlibat konflik dengan STM Boedi Oetomo Pejambon. Kemudian, pada awal tahun 1990-an, SMA 7 dipindahkan ke wilayah Karet Pejompongan untuk memutus tawuran dengan STM Boedi Oetomo.
Ketua KPAI Maria Ulfah Anshor mengungkapkan, tradisi tawuran bisa diputus dengan menanamkan nilai-nilai kepada anak-anak di rumah. ”Keluarga mempunyai peranan penting untuk menanamkan nilai menghargai perbedaan, yang nyata dalam kehidupan dan tidak bisa dihindari. Nah, bagaimana menghargai perbedaan itu menjadi sesuatu yang positif,” kata Maria Ulfah.
Untuk itulah, ketika melakukan mediasi antara SMA 6 dan SMA 70 Jakarta, KPAI juga mengundang pihak orangtua. ”Sistem pendidikan kita seharusnya juga ikut mendukung itu. Dulu ada pelajaran budi pekerti, tetapi kurikulum menghilangkannya dengan alasan sudah terintegrasi dengan pelajaran lain. Padahal, kenyataannya, nilai-nilai dari budi pekerti itu memang tidak diajarkan, hilang begitu saja,” ujarnya.
Maria Ulfah juga mengusulkan memotong mata rantai pemicu tawuran. Terkadang kita tidak tahu apa yang menjadi penyebab tawuran, yang kemudian mengakar sampai ke generasi berikutnya. Nah, kata Maria Ulfah, mengapa tidak mengubah paradigma tawuran, permusuhan antar-pelajar tak perlu disikapi dengan perlawanan.
”Harus diputus tradisi senior yang memanas-manasi yuniornya supaya terlibat tawuran. Ada baiknya pula menghidupkan kembali pertandingan persahabatan antarsekolah. Kalau zaman dulu pertandingan olahraga bisa mempererat hubungan antarpelajar, kenapa sekarang tidak?” ungkapnya.
Harapan KPAI tentu menjadi harapan kita semua.
Anda mendapat 1 Pesan
Silakan Buka Pesan Sekarang di Sini
Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Bisnis Pulsa Paling Menguntungkan
@ Cara Bikin Blog Cantik dan Dinamis
@ Kumpulan Tutorial Blog Lengkap
@ Kumpulan Dongeng Anak
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog
Pendidikan Anak: Jangan Kasihan Pada Anak

Jaman sekarang ini,banyak orang tua begitu sayang pada anaknya,namun sayang yang salah..
Yaitu membiarkan anaknya tidak belajar melakukan syariat Islam sejak dini dengan alasan kasihan masih kecil,biarlah menikmati dulu masa mudanya. Akibatnya.. ketika tanpa disadari anaknya tumbuh semakin besar,mengetahui banyak hal,tanpa dasar agama yang cukup terjebaklah anak dalam lingkungan pergaulan yang salah.Dugem di diskotik,miras,narkoba,hamil di luar nikah,kumpul kebo,judi,dan banyak lagi kemaksiatan lainnya yang semuanya berawal dari toleransi dan didikan orang tua yang salah karena menganggap bahwa sayang adalah membiarkan anak dengan kesenangannya.
Seyogyanya kita sebagai orang tua mengajarkan,menteladani sejak dini bagaimana tentang hidup dan tata cara hidup yang sesungguhnya.Terlebih bagi kaum muslim,contoh sederhana saja,banyak orang tua yang membiarkan anaknya mengabaikan sholat, seolah shalat bukan hal penting.Lebih penting belajar tentang ilmu-ilmu dunia,mengikuti perkembangan jaman.Tetapi bukankah menjadikan anak pandai hanya ilmu pengetahuan sedangkan ilmu agama Nol Besar,sama dengan mengajarkan anak hidup tanpa memiliki pondasi yang kuat? meraih dunianya tapi buta akan akherat,sehingga cepat atau lambat akan tersungkur juga. Apakah sebagai orang tua ada yang mau anaknya menderita? Tidak bukan?
Cobalah baca kisah dari tulisan Imam Al-Ghazali di bawah, sebagai orang tua yang sayang pada anak, tegakkan ajaran Islam sejak dini..jangan menunda hanya alasan kasihan terhadap usianya yang masih muda. Camkan ini sebelum kita benar-benar kehilangan anak kesayangan kita.
Syaikh Ibnu Zhafar Al-Maki berkata saya mendapat kabar bahwa Abu Yasid kecil ketika hafal ayat “Hai orang yang berselimut (Muhammad) bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari..” (Al-Muzammil 1-2) ia berkata kepada bapaknya,’Wahai bapakku,bagi siapa ayat ini diperuntukkan oleh Allah?’
Bapaknya menjawab,’Wahai anakku,orang yang disebut dalam ayat itu adalah Nabi Muhammad SAW.’
Abu Yasid kecil berkata,’Wahai bapak,mengapa engkau tidak melakukan sesuatu seperti yang dilakukan oleh Muhammad SAW?’
Bapaknya menjawab,’Sesungguhnya ibadah malam khusus untuk beliau.Baginya adalah fardhu,berbeda dengan umatnya.’
Abu Yasid diam.
Namun ketika ia hafal ayat “Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam,atau seperdua malam,atau sepertiganya segolongan orang-orang yang bersama kamu.” (Al-Muzamil 20)
Ia berkata,’Wahai bapakku,saya mendengar ada sekelompok orang yang melakukan bangun malam,siapakah mereka?’
Bapaknya menjawab,’mereka adalah para sahabat.’
Abu Yazid berkata,’Apakah ada kebaikan meninggalkan yang dikerjakan Nabi dan para sahabatnya?’
Bapaknya menjawab,’engkau benar wahai anakku.’ Sejak itu Bapak Abu Yazid selalu bangun malam dan melakukan shalat.
“Pada suatu malam Abu Yazid kecil bangun sementara bapaknya sedang shalat. Ia berkata kepada bapaknya,’ajarkan kepadaku bagaimana cara bersuci dan melakukan shalat bersamamu?’
Sang bapak menjawab,’sudahlah anakku,kamu tidur saja sebab engkau masih kecil.Nanti saja kalau sudah besar.’
Abu Yazid berkata,’Jika pada hari dimana orang-orang keluar berhamburan untuk melihat amal mereka,saya akan katakan pada Tuhanku,saya bertanya pada bapakku tentang bersuci dan sholat namun bapakkuenggan memberi tahu dan malah berkata: Sudahlah engkau tidur,sebab engkau masih kecil,nanti saja jika sudah besar. Apakah engkau mau jika aku mengatakan itu nanti?’
Bapak Abu Yazid berkata,’Tentu aku tidak mau.Demi Allah saya tidak mau!’ maka sejak itu Abu Yazid diajari oleh Bapaknya cara bersuci dan sholat,sehingga selamanya ia ikut bersama ayahnya melakukan shalat.
Anda mendapat 1 Pesan
Silakan Buka Pesan Sekarang di Sini
Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Bisnis Pulsa Paling Menguntungkan
@ Cara Bikin Blog Cantik dan Dinamis
@ Kumpulan Tutorial Blog Lengkap
@ Kumpulan Dongeng Anak
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog
MENJADIKAN SISWA PINTAR DAN BERKARAKTER
MENJADIKAN SISWA PINTAR DAN BERKARAKTER
Sebagaimana diketahui bahwa anak-anak hanya merekam materi yang masuk, jadi ketika anak belum bersekolah, maka dia akan mempercayai apa yang masuk, apa yang dilihatnya, apa yang dipercayainya dan apa yang disenangi dan dirasakannya dari sekelilingnya terutama dalam keluarga.
Namun, saat anak sudah memasuki dunia sekolah, maka sang anak biasanya lebih percaya pada guru. Oleh karena itu guru perlu berperan aktif dalam membangun karakter (watak terpuji) peserta didik.
Jika peranan guru cukup besar dalam membangun karakter anak/peserta didik, maka dalam proses belajar mengajar bukan semata-mata hanya meningkatkan kegiatan ekstrakulikuler, tetapi guru harus menyadari bahwa dirinya bukan sekadar MENGAJAR tetapi MENDIDIK sehingga ketika mengajar mata pelajaran apapun Guru akan mengkaitkannya dengan pendidikan karakter.
Misalnya, ulangan tidak boleh nyontek, harus jujur pada diri sendiri agar mampu mengukur kemampuan. Menyontek merupakan bibit tumbuhnya minat untuk melakukan kecurangan termasuk dewasa nanti bisa menjadi koruptor dan sebagainya.
Sehingga peranan guru untuk mengingatkan peserta didik tentang semua hal sangatlah penting agar anak termotivasi sejak dini, bahwa mereka takut melakukan perbuatan tidak baik. Apalagi yang masuk ke dalam perbuatan DOSA.
Demikian pula dengan gurunya, harus selalu mengajarkan sikap kejujuran kepada muridnya. Jangan hanya bisa menasehati muridnya agar jujur, tapi diri sendiri selalu berbohong. Apalagi sekarang ini kejujuran di sekolah sudah seperti makhluk langka, di sana sini banyak ketidakjujuran. Kasus bocornya soal UAN, jual beli jawaban via SMS, pengaturan juara kelas, pengaturan kelulusan, dan sebagainya.
Oleh karena itu, guru seharusnya sudah menguasai pendidikan karakter sehingga mereka menyadari bahwa tugasnya mengajar adalah MENDIDIK anak/peserta didik untuk menjadi akhlak mulia bukan sekedar mengajar, sehingga dipahami bahwa kejujuran, kedisiplinan, ketekunan, toleransi merupakan proses menuju akhlak mulia dan hal itu bisa diterapkan secara menyeluruh dalam setiap mata pelajaran, bukan merupakan pendidikan yang terpisah.
Makna pendidikan atau mendidik tidak hanya sebatas mentransfer ilmu saja, namun implementasi dari pengertian mendidik adalah dapat mengubah atau membentuk karakter dan watak seseorang agar menjadi lebih baik, lebih sopan dalam etika maupun perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui pembangunan karakter (watak terpuji) anak/peserta didik diharapkan muncul sinergi pada yang mampu membangun kekuatan lebih besar karena terpadunya antara knowledge, skill dan attitude pada diri sang anak/peserta didik dalam proses belajar mengajar, yang kelak akan menjadikannya sebagai:
1. Peserta didik mengerti mengenai perbuatan baik dan buruk, mengerti tindakan apa yang harus diambil dan mampu memberikan prioritas hal-hal yang baik.
2. Peserta didik mencintai terhadap perbuatan yang baik dan membenci terhadap perbuatan yang buruk;
3. Peserta didik mampu melakukan perbuatan yang baik dan menjadi bagian dari kehidupannya karena sudah terbiasa melakukannya.
Ketiga hal tersebut akan menjadi benteng utama pada karakter (anak/peserta didik sehingga di kemudian hari kelak akan tumbuh sifat-sifat mulia seperti:
1. tumbuhnya rasa cinta pada pencipta alam dan seisinya, memiliki toleransi, cinta damai dan menjunjung tinggi rasa persatuan dan kesatuan bangsa.
2. tumbuhnya kedisiplinan dan kemandirian dan tidak bergantung atau mengandalkan bantuan (charity);
3. bersikap jujur; hormat dan santun kepada siapapun;
4. tumbuhnya rasa kasih sayang, kepedulian terhadap lingkungan sekitar dan terjalinnya network atau kerjasama yang saling mendukung dan menunjang;
5. memiliki rasa percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah tanpa menyalahkan orang atau pihak lain;
6. bersifat baik dan rendah hati tidak sombong, atau sewenang-wenang dalam menduduki jabatan tertentu sehingga ketika menjadi pemimpin dia kan bersikap adil dan bertanggungjawab;
Berikutnya adalah agar setiap sekolah mampu meciptakan budaya untuk memberikan apresiasi kepada peserta didik yang dapat memberikan kontribusi positif di lingkungan sekolah, karena kebiasaan memberikan apresiasi akan membangun lingkungan untuk tumbuhnya semangat para peserta didik untuk berprestasi.
Inti dari budaya memberi apresiasi ini adalah bahwa sekolah harus lebih meng-EKSPOSE peserta didik ketimbang meng-IMPOSE. Di samping itu, perlunya sekolah perlu memadukan antara kegiatan belajar mengajar dengan implementasi dalam kehidupan sosial sehari-hari di sekolah agar anak tidak sekedar pintar tetapi berkarakter. (*)
Anda mendapat 1 Pesan
Silakan Buka Pesan Sekarang di Sini
Penting!! Perlu Anda Baca:@ Bisnis Pulsa Paling Menguntungkan@ Cara Bikin Blog Cantik dan Dinamis@ Kumpulan Tutorial Blog Lengkap@ Kumpulan Dongeng Anak@ Bukan Berita Biasa@ Trik dan rumus matematika@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah@ Tips dan Trik belajar yang efektif@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus@ Pasang Iklan gratis@ Kumpulan widget gratis@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah @ Seputar Koleksi Buku@ Seputar Resensi Buku@ Kumpulan tutorial Blog
Sebagaimana diketahui bahwa anak-anak hanya merekam materi yang masuk, jadi ketika anak belum bersekolah, maka dia akan mempercayai apa yang masuk, apa yang dilihatnya, apa yang dipercayainya dan apa yang disenangi dan dirasakannya dari sekelilingnya terutama dalam keluarga.
Namun, saat anak sudah memasuki dunia sekolah, maka sang anak biasanya lebih percaya pada guru. Oleh karena itu guru perlu berperan aktif dalam membangun karakter (watak terpuji) peserta didik.
Jika peranan guru cukup besar dalam membangun karakter anak/peserta didik, maka dalam proses belajar mengajar bukan semata-mata hanya meningkatkan kegiatan ekstrakulikuler, tetapi guru harus menyadari bahwa dirinya bukan sekadar MENGAJAR tetapi MENDIDIK sehingga ketika mengajar mata pelajaran apapun Guru akan mengkaitkannya dengan pendidikan karakter.
Misalnya, ulangan tidak boleh nyontek, harus jujur pada diri sendiri agar mampu mengukur kemampuan. Menyontek merupakan bibit tumbuhnya minat untuk melakukan kecurangan termasuk dewasa nanti bisa menjadi koruptor dan sebagainya.
Sehingga peranan guru untuk mengingatkan peserta didik tentang semua hal sangatlah penting agar anak termotivasi sejak dini, bahwa mereka takut melakukan perbuatan tidak baik. Apalagi yang masuk ke dalam perbuatan DOSA.
Demikian pula dengan gurunya, harus selalu mengajarkan sikap kejujuran kepada muridnya. Jangan hanya bisa menasehati muridnya agar jujur, tapi diri sendiri selalu berbohong. Apalagi sekarang ini kejujuran di sekolah sudah seperti makhluk langka, di sana sini banyak ketidakjujuran. Kasus bocornya soal UAN, jual beli jawaban via SMS, pengaturan juara kelas, pengaturan kelulusan, dan sebagainya.
Oleh karena itu, guru seharusnya sudah menguasai pendidikan karakter sehingga mereka menyadari bahwa tugasnya mengajar adalah MENDIDIK anak/peserta didik untuk menjadi akhlak mulia bukan sekedar mengajar, sehingga dipahami bahwa kejujuran, kedisiplinan, ketekunan, toleransi merupakan proses menuju akhlak mulia dan hal itu bisa diterapkan secara menyeluruh dalam setiap mata pelajaran, bukan merupakan pendidikan yang terpisah.
Makna pendidikan atau mendidik tidak hanya sebatas mentransfer ilmu saja, namun implementasi dari pengertian mendidik adalah dapat mengubah atau membentuk karakter dan watak seseorang agar menjadi lebih baik, lebih sopan dalam etika maupun perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui pembangunan karakter (watak terpuji) anak/peserta didik diharapkan muncul sinergi pada yang mampu membangun kekuatan lebih besar karena terpadunya antara knowledge, skill dan attitude pada diri sang anak/peserta didik dalam proses belajar mengajar, yang kelak akan menjadikannya sebagai:
1. Peserta didik mengerti mengenai perbuatan baik dan buruk, mengerti tindakan apa yang harus diambil dan mampu memberikan prioritas hal-hal yang baik.
2. Peserta didik mencintai terhadap perbuatan yang baik dan membenci terhadap perbuatan yang buruk;
3. Peserta didik mampu melakukan perbuatan yang baik dan menjadi bagian dari kehidupannya karena sudah terbiasa melakukannya.
Ketiga hal tersebut akan menjadi benteng utama pada karakter (anak/peserta didik sehingga di kemudian hari kelak akan tumbuh sifat-sifat mulia seperti:
1. tumbuhnya rasa cinta pada pencipta alam dan seisinya, memiliki toleransi, cinta damai dan menjunjung tinggi rasa persatuan dan kesatuan bangsa.
2. tumbuhnya kedisiplinan dan kemandirian dan tidak bergantung atau mengandalkan bantuan (charity);
3. bersikap jujur; hormat dan santun kepada siapapun;
4. tumbuhnya rasa kasih sayang, kepedulian terhadap lingkungan sekitar dan terjalinnya network atau kerjasama yang saling mendukung dan menunjang;
5. memiliki rasa percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah tanpa menyalahkan orang atau pihak lain;
6. bersifat baik dan rendah hati tidak sombong, atau sewenang-wenang dalam menduduki jabatan tertentu sehingga ketika menjadi pemimpin dia kan bersikap adil dan bertanggungjawab;
Berikutnya adalah agar setiap sekolah mampu meciptakan budaya untuk memberikan apresiasi kepada peserta didik yang dapat memberikan kontribusi positif di lingkungan sekolah, karena kebiasaan memberikan apresiasi akan membangun lingkungan untuk tumbuhnya semangat para peserta didik untuk berprestasi.
Inti dari budaya memberi apresiasi ini adalah bahwa sekolah harus lebih meng-EKSPOSE peserta didik ketimbang meng-IMPOSE. Di samping itu, perlunya sekolah perlu memadukan antara kegiatan belajar mengajar dengan implementasi dalam kehidupan sosial sehari-hari di sekolah agar anak tidak sekedar pintar tetapi berkarakter. (*)
Anda mendapat 1 Pesan
Silakan Buka Pesan Sekarang di Sini
Penting!! Perlu Anda Baca:@ Bisnis Pulsa Paling Menguntungkan@ Cara Bikin Blog Cantik dan Dinamis@ Kumpulan Tutorial Blog Lengkap@ Kumpulan Dongeng Anak@ Bukan Berita Biasa@ Trik dan rumus matematika@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah@ Tips dan Trik belajar yang efektif@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus@ Pasang Iklan gratis@ Kumpulan widget gratis@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah @ Seputar Koleksi Buku@ Seputar Resensi Buku@ Kumpulan tutorial Blog
Arti sebuah Kejujuran: Apa Kata Dunia?

Jangan sok munafik, karena aku tak mau dimunafiki. Berbuatlah jujur karena aku suka orang jujur. Berbicara dan menyoal kejujuran adalah suatu topik pembicaraan yang mahal. Tak ubahnya ibarat barang langka, namun banyak konsumen yang mengincarnya. Terasa susah sekali mencari orang yang jujur atau yang bisa dipercaya. Tak urung, orang kepercayaan pun bisa jadi musuh dalam selimut.
Seiring dengan kemajuan media informasi dan tehnologi yang semakin canggih, peran kejujuran merupakan modal yang paling urgen (mendasar). Keakuratan dalam memberikan informasi, berita, data, fakta, dan segala yang terkait dengan pernyataan, sikap dan tindakan, itu tergantung kepada faktor kejujuran.
Demi mengejar persaingan bisnis, demi gengsi, demi persaingan posisi (jabatan), kesenjangan sosial, kesulitan ekonomi atau pun kepentingan lainnya tak jarang dapat mengesampingkan prinsip kejujuran. Tak luput juga dalam dunia pendidikan, adanya persaingan pendidikan yang kurang sehat juga dapat mengugurkan akan nilai kejujuran.
Lihatlah kasus bocornya UN (Ujian Nasional) lewat SMS. Lihatlah bagaimana distribusi soal UN harus dijaga ketat aparat kepolisian. Lihatlah nasib Kantin Kejujuran yang pada mulanya bertujuan untuk menerapkan kejujuran siswa, namun pada akhirnya bangkrut tak berbekas. Inilah potret dunia pendidikan di negri ini. Kejujuran merupakan barang langka yang seharusnya menjadi contoh bagi kehidupan di bidang/lembaga lain.
Kalau dalam dunia pendidikan saja sudah terlepas dari prinsip kejujuran, bagaimana lagi bila meningkat pada jenjang berikutnya?
Demikian pula dalam lembaga kecil rumah tangga sangat perlu ditanamkan dan diterapkan prinsip kejujuran yang mulia ini. Betapa menyesalnya orang tua, bila sang anak sudah tidak bisa dipegang kejujurannya lagi? Betapa retaknya hubungan suami istri bila keduanya tidak saling menaruh kepercayaan? Dalam lembaga yang kecil saja ketidakjujuran itu membawa dampak negatif yang luar biasa, bagaimana lagi dampak yang terjadi dalam lembaga yang lebih besar?
Sangat tragis bila image (praduga) “siapa yang jujur ajur”, “siapa yang polos gak lolos”, ini semakin semarak. Apakah wabah ini bisa terobati? Jawabannya, tentu karena Allah subhanahu wata’ala tidak akan menurunkan sebuah penyakit melainkan pasti ada obatnya. Kembali kepada Islam, mempelajari ajaran-ajarannya dan mengamalkannya adalah obat yang tepat.
Jujur adalah Tanda Orang Yang Beriman
Wahai saudaraku kaum muslimin, sesungguhnya agama Islam yang dibawa oleh baginda Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam adalah agama yang menjunjung tinggi prinsip kejujuran. Beliau sendiri adalah seorang yang mendapat gelar al amin (orang yang dapat dipercaya) dimasa itu. Karena beliau shalallahu ‘alaihi wasallam melandasi setiap tindakannya diatas prinsip kejujuran.
Dalam beberapa ayat Al Qur’an, Allah subhanahu wata’ala telah menyeru orang-orang yang beriman agar bersikap jujur. Diantara firman-Nya: (artinya):
“Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur.” (At Taubah: 119)
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah perkataan yang benar (diantara perkataan yang benar adalah jujur -pent).” (Al Ahzab: 70)
Kandungan kedua ayat di atas, Allah subhanahu wata’ala memanggil kepada orang-orang yang beriman, agar mereka bertaqwa dan berjalan bersama orang-orang yang jujur. Mengisyaratkan bahwa konsekuensi orang yang mengikrarkan dirinya beriman kepada Allah subhanahu wata’ala, hendaknya dia bertaqwa. Dan salah satu bentuk taqwa dia kepada Allah subhanahu wata’ala adalah berjalan bersama orang-orang yang jujur. Berpijak diatas pijakan mereka, yaitu melandasi semua perkataan dan perbuatan diatas prinsip kejujuran. Karena kejujuran itu merupakan tanda kesempurnaan iman dan taqwa dia kepada Allah subhanahu wata’ala.
Hal ini juga ditegaskan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah haditsnya yang diriwayatkan dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah subhanahu wata’ala dan hari kiamat, hendaklah dia berkata baik atau hendaknya dia diam (bila tidak bisa berkata baik).” (HR. Al Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 48)
Diantara perkataan yang baik adalah perkataan yang jujur. Bahkan kejujuran itu adalah sumber segala kebaikan.
Arti Sebuah Kejujuran
Para pembaca, setiap yang menabur biji kebaikan pasti ia akan menuai kebaikan dan demikian pula setiap yang menabur biji kejelekan pasti ia akan menuai kejelekan pula. Ini merupakan sunnatullah (ketetapan Allah subhanahu wata’ala) yang sejalan dengan fitrah yang suci.
Al Imam Al Bukhari dan Al Imam Muslim meriwayatkan dari shahabat Abdullah bin Mas’ud, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Sesungguhnya kejujuran itu akan mengantarkan kepada jalan kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan itu akan mengantarkan kedalam al jannah (surga), sesungguhnya orang yang benar-benar jujur akan dicacat disisi Allah sebagai ash shidiq (orang yang jujur). Dan sesungguhnya orang yang dusta akan mengantarkan ke jalan kejelekan, dan sesungguhnya kejelekan itu akan mengantarkan kedalam an naar (neraka), sesungguhnya orang yang benar-benar dusta akan dicatat disisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Al Bukhari no. 6094 dan Muslim no. 2606)
Dalam hadits diatas menunjukkan bahwa jujur merupakan amalan yang amat terpuji. Dari sebuah kejujuran akan tegak kebenaran, keadilan, dan sekian banyak kebaikan dibaliknya. Hati akan menjadi tenang dan tentram. Karena orang yang jujur itu tidak mengurangi atau menzhalimi hak orang lain. Sehingga semakin menambah kepercayaan dari orang lain.
Cobalah perhatikan, bila seseorang berkata atau bertindak jujur, maka orang lain akan merasa dirinya dihormati, diperlakukan adil, tidak dizhalimi atau tidak dikhianati. Sehingga menumbuhkan rasa saling percaya, menambah rajutan ukhuwah (persaudaran), dan mahabbah (kasih sayang). Namun sebaliknya, dari ketidakjujuran akan menyebabkan terjatuh dalam perbuatan zhalim, curang atau berdusta kepada orang lain. Yang berakibat memudarnya sikap saling percaya, bahkan akan timbul kedengkian, permusuhan, dan sikap jelek lainnya.
Sehingga jujur itu benar-benar akan mendatangkan kebaikan dan sebaliknya dibalik ketidakjujuran itu terdapat sekian malapetaka. Demikianlah janji Allah subhanahu wata’ala dalam firman-Nya (artinya):
“… Tetapi jikalau mereka jujur terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (Muhammad: 21)
Sebenarnya segala perbuatan itu bisa dinilai sendiri, apakah perbuatan itu didasari dengan jujur ataukah tidak? Bila perbuatan itu didasari dengan kejujuran maka hati itu akan menjadi tentram dan tenang. Berbeda dengan perbuatan yang didasari dengan ketidakjujuran maka hati itu akan selalu gundah gulana dan bimbang. Maka sesuatu yang masih ragu atau bimbang hendaknya ditinggalkan. Sebagaimana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Tinggalkan sesuatu yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu. Karena kejujuran itu adalah sesuatu yang menenangkan sedangkan dusta itu adalah sesuatu yang membimbangkan.” (HR. At Tirmidzi no. 2518, An Nasa’i 8/327-328, dan Ahmad 1/200, dari shahabat Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib)
Para pembaca, sehingga image bahwa “jujur itu ajur” itu tidaklah benar. Bahkan sikap jujur itu pasti berakibat “mujur” (baik) dan “ma’jur” (mendapat pahala dari Allah subhanahu wata’ala). Diantara dampak yang baik dari perbutan jujur adalah:
1. Sebab mendapat barakah dari Allah subhanahu wata’ala.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Penjual dan pembeli itu memiliki hak untuk meneruskan atau membatalkan akad jual belinya selama keduanya belum berpisah. Jika keduanya jujur menjelaskan keadaan barangnya maka akan diberkahi jual belinya dan jika keduanya dusta maka akan dihapus keberkahan dalam jual belinya.”
Ini adalah suatu gambaran dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam tentang usaha dagang (bisnis) yang didasari dengan prinsip kejujuran. Jujur dalam memberikan sifat barang, jujur dalam timbangan, atau jujur dalam segala hal yang terkait dengan jual beli. Maka bisnis itu akan diberkahi oleh Allah subhanahu wata’ala. Sebaliknya bila berlaku culas (menipu) dalam bisnisnya maka akan menjauhkan dia dari barakah-Nya ?, bahkan Allah subhanahu wata’ala akan mendatangkan siksaan baginya. Seperti curang dalam timbangan maka Allah subhanahu wata’ala mengancam dengan ancaman yang keras, sebagaimana firman-Nya (artinya):
“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang (yaitu curang dalam menakar dan menimbang).” (Al Muthaffifin: 1)
2. Jujur sebagai sebab akan diperbaiki dan diterima amalan-amalan lainnya oleh Allah subhanahu wata’ala.
3. Jujur sebagai sebab datangnya maghfirah (ampunan) Allah subhanahu wata’ala.
Sebagaimana Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah perkataan yang benar (jujur), niscaya Allah akan memperbaiki amalan-amalanmu dan akan mengampuni dosa-dosamu, …” (Al Ahzab: 70-71)
4. Mendapat pahala yang besar.
Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):
“(Sesungguhnya), … laki-laki dan perempuan yang benar (jujur), … maka Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al Ahzab: 35)
Diantara pahala yang besar yang Allah subhanahu wata’ala janjikan, yaitu barangsiapa yang memohon derajat syahid disisi Allah subhanahu wata’ala dengan jujur, niscaya Allah subhanahu wata’ala akan memenuhi permohanannya, meskipun ia mati diatas ranjangnya. Sebagaiamana hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam
“Barangsiapa memohon kepada Allah derajat syahid dengan jujur niscaya Allah akan menyampaikannya ke derajat para syuhada’, meskipun ia meninggal diatas ranjangnya.” (HR. Muslim no. 1909)
Demikian pula, pedagang (bisnisman) yang jujur akan diberikan pahala tinggal bersama para nabi, orang-orang yang jujur, dan para syuhada’ (orang-orang yang mati di medan jihad). Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda
“Pedagang yang jujur lagi dapat dipercaya bersama para nabi, ash shiddiqi, dan asy syuhada’.” (At Tiermidzi: 1130)
Akhir kata, semoga kajian yang ringkas ini sebagai koreksi bagi kita semua. Tiada seorang pun yang bersih dari noda dosa dan kesalahan. Namun seyogyanya kita selalu berusaha untuk berjalan diatas prinsip kejujuran, bila ada kelalain dari kita, hendaknya segera kita bertaubat kepada Allah subhanahu wata’ala. Semoga Allah subhanahu wata’ala menggolongkan kita termasuk hamba-hambanya yang jujur. Amien, ya Rabbal ‘alamin.
MUTIARA HADITS
Do’a Berlindung Dari Empat Perkara Sebelum Salam
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bila salah seorang diantara kalian selesai dari tasyahud akhir hendaklah berlindung kepada Allah dari empat perkara:
“Ya, Allah sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari adzab neraka jahannam, adzab kubur, fitnah kehidupan dan kematian, dari jeleknya fitnah Dajjal.” (HR. Al Bukhari no. 1377, Muslim no. 588, Abu Dawud no. 833, At Tirmidzi no. 3528, An Nasa’i no. 1293, Ibnu Majah no. 899, Ahmad no. 7110, dan Ad Darimi no. 1310)
Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Cara Bikin Blog Cantik dan Dinamis
@ Kumpulan Tutorial Blog Lengkap
@ Kumpulan Dongeng Anak
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog
Pendidikan Keluarga: Bermain dengan Ayah
Bermain dengan Ayah
"Sering orang mencoba menjalani hidup secara terbalik; mereka mencoba memiliki lebih banyak barang, lebih banyak uang, agar dapat mengerjakan hal yang mereka inginkan lebih banyak, agar mereka lebih bahagia. Sebenarnya, jalan yang benar adalah kebalikannya. Engkau pertama-tama harus menjadi dirimu yang sesungguhnya, lalu melakukan apa yang perlu kau lakukan, agar dapat lebih banyak memiliki hal-hal yang kau inginkan." (Margaret Young).
Sore itu, cuaca begitu cerah. Pak Zaenal seperti biasa setelah shalat Ashar, baru pulang dari kantor. Begitu sampai di rumah, Pak Zaenal mengucapkan salam dan membuka pintu rumah. Di sana, didapati putri kesayangannya, Alifia (5 th), yang sedang menunggu dan menyambut dengan antusias atas kehadiran ayahnya. Anak ini, seakan-akan tidak mempedulikan kondisi ayahnya. Biar kondisi ayahnya capek, lelah, dan perlu istirahat. Pokoknya dalam pikirannya hanya ada satu kata, yaitu "bermain dengan ayah". Dalam pikirannya, bermain dengan ayah adalah sesuatu yang paling menyenangkan. Dalam keadaan itulah, biasanya hati Pak Zaenal luluh untuk menuruti kemauan anaknya.
Dan Pak Zaenal menghibur dirinya dalam hati dengan ucapan, "Bukankah saya selaku orang tua harus mampu memposisikan pikirannya dengan pikiran si anak. Lagi pula kita selaku orang tua harus mampu memformulasikan rasa lelah, bijaksana, emosi anak, mendidik, dan hiburan menjadi satu bentuk amal keikhlasan," ucap hatinya. Akhirnya, terciptalah kebersamaan Pak Zaenal dengan anaknya. Keduanya bermain-main naik sepeda keliling rumahnya. Hilang sudah "rasa lelah" Pak Zaenal, berganti keceriaan yang tiada tara, baik dirinya maupun anaknya. Dan seperti biasanya, saat bermain itulah Pak Zaenal tidak lupa menyelipkan tarbiyah tentang kehidupan kepada anaknya. Hiburan merupakan kebutuhan tambahan yang cukup memberi andil dalam perkembangan anak.
Dari aktivitas hiburan ini, akan terbentuk penyegaran pikiran dan fisik. Ialah obat dari kejenuhan rutinitas hidup seseorang. Baik bagi suami, istri, maupun anak. Dalam koridor seperti itu, biasanya emosional orang tua menjadi luluh. Orang tua memenuhi keinginan seorang anak untuk mendapat hiburan. Hiburan apa? Seperti yang terjadi pada Pak Zaenal, ternyata di luar dugaannya. Sang anak hanya ingin naik sepeda. Dengan naik sepeda keliling lingkungan RT, wajah sang anak begitu terlihat bahagia. Begitu juga pada keluarga lain, anak-anak itu sebenarnya tidak menuntut banyak tentang jenis hiburannya.
Tapi, dirinya ingin bermain dengan kemampuan orang tuanya. Bisa dikatakan langkah Pak Zaenal itu, adalah sesuatu yang menjadi ikon pribadi seorang ayah yang bijaksana. Karena menurut Margaret Young, sering orang mencoba menjalani hidup secara terbalik; mereka mencoba memiliki lebih banyak barang, lebih banyak uang, agar dapat mengerjakan hal yang mereka inginkan lebih banyak, agar mereka lebih bahagia. Sebenarnya, jalan yang benar adalah kebalikannya. Engkau pertama-tama harus menjadi dirimu yang sesungguhnya, lalu melakukan apa yang perlu kaulakukan, agar dapat lebih banyak memiliki hal-hal yang kau inginkan. Naik sepeda, begitu sederhana. Tak perlu biaya banyak dan relatif setiap orang tua mampu melakukannya.
Tapi, hal sederhana itu, justru subhanallah, besar manfaatnya. Di antaranya, bagaimana kita bisa mengajarkan rasa syukur nikmat, menghormati orang lain, aktivitas amaliah di dunia, dan lainnya. Tarbiyah itu, tentu masih dalam jangkauan pikiran dan bahasa anak-anak seusianya. Salah satu kesan menghibur anak dengan naik sepeda itu adalah proses mendidik anak untuk mensyukuri nikmat. Aktualisasi rasa syukur nikmat itu secara sederhana, kita bisa mencontohkan misalnya bagimana seorang manusia yang diberi anggota tubuh yang sempurna dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya; terciptanya hewan, tumbuhan; adanya matahari, bintang, langit, awan, dan lainnya.
Atau berupa nikmat non materi seperti nikmat sehat dan adanya waktu senggang, sehingga kita bisa bermain. Pokoknya, pemberian kebutuhan hiburan kepada keluarga, lebih-lebih pada anak, adalah lebih utama dari yang lainnya. Rasulullah SAW bersabda, "Pemberian tambahan seseorang kepada keluarganya lebih utama daripada pemberian tambahan kepada orang lain, seperti kelebihan seseorang shalat berjamaah dibanding seseorang shalat sendiri." (HR. Ibnu Abu Syaibah). Wallahu a'lam.
Suatu Hari di Sebuah Angkot
Sebuah angkot, selebor jalannya. Cepat tidak, lambat pun tidak. Di pinggir tidak, di tengah pun tidak. Jika berhenti sesuka hati. Terhadap bunyi klakson yang marah ia seperti tuli. Terhadap akibat atas ulahnya ia tak peduli.
Saya pernah menjadi bagian dari orang yang jengkel itu. Tak cuma jengkel tapi marah. Betapa menyenangkan membayangkan sopir semacam ini diseret untuk kita caci-maki. Kepadanya harus diberi kuliah dan sumpah serapah betapa memakai jalan seenaknya adalah kejahatan.
Pertama ialah karena ia menganggap jalanan umum itu sebagai milik bapaknya. Kedua karena ulahnya bisa menimbulkan kemacetan. Ketiga karena kecerobohannya bisa menimbulkan kecelakaan. Tiga kejahatan sekaligus. Tapi paling menyedihkan adalah kejahatan keempat: bagaimana mungkin orang yang sudah begini jahat sama sekali tidak menyadari kejahatannya.
Maka adalah lebih menyenangkan lagi membayangkan orang itu diseret tidak sekadar untuk dicaci maki, tapi sudah layak dikeroyok ramai-ramai. Dihajar hingga kapok, dipaksa minta ampun dan meratapi dosanya. Membayangkan wajahnya yang takut dan kalah tentu akan menjadi kegembiraan. Maka untuk bisa membuat bayangan itu lebih nyata, angkot yang tengah berhenti sembarangan untuk mencari penumpang itu harus disalip, wajah sopir itu harus dilihat seutuhnya.
Hanya setelah wajah itu tertangkap, sejarah terpaksa harus berubah. Sopir itu ternyata tak lebih dari lelaki kecil, hitam, kusut dan kosong pula pandang matanya. Klakson yang hiruk-pikuk menghardiknya, bahkan tak sanggup mengatupkan mulutnya yang menganga. Sikap mulut yang menggambarkan betapa otak lelaki ini memang sedang kosong, terbang entah kemana.
Wajah itu pula yang memaksa saya menengok angkot tuanya dengan penumpang seorang saja. Dari jumlah penumpangnya, lalu terbayang berapa anak di rumahnya, berapa biaya sekolahnya dan apakah pendapatannya sebagai sopir cukup untuk menutup itu semua.
Imajinasi ini lalu bereskalasi, membesar sendiri. Pastilah di kampungnya, sopir ini juga sering diundang kondangan sambil menyumbang tatangga serta kolega. Dan undangan itu pasti tidak cuma satu atau dua, tapi bisa tiga, empat, lima... dan seterusnya. Dan ia pun pasti menyumbang dengan kepantasan. Bisa berlebih tapi jangan berkurang dari ukuran kewajaran.
Di sekolah, anak-anaknya pastilah juga anak-anak seperti pada umumnya yang harus bersepatu dengan merek seperti yang lazim dipakai teman sebaya. Sekolahnya pun pasti sekolah pada umumnya yang harus mengenal beli buku, bayar SPP dan uang saku. Karena Indonesia memang negeri umum. Artinya, keadaan orang tua boleh berbeda tapi anak-anak mereka harus menghadapi beban dan godaan yang sama.
Jadi yang boleh berbeda hanya soal status dan pendapatan orang tua saja. Bahwa jika sopir ini cuma mendapat sebegini adalah lumrah adanya. Bahwa jika pejabat itu mendapat sebegitu adalah cocok dengan ketinggian jabatannya. Engkau memang boleh berbeda tapi anak-anakmu tidak. Karena mereka bisa bertemu di sekolah yang sama dan menghadapi dunia yang sama. Apapun jenis penghasilanmu tak bisa mencegah laju pengaruh bagi anak-anakmu. Tak peduli apapun pebedaan statusmu, anak-anakmu bisa melihat iklan gaya hidup di televisi bersama, bisa sama-sama menonton sinetron Opera SMU yang ngetop tapi dituduh jiplakan itu.
Jadi, pantas saja jika sopir angkot itu kosong tatap matanya. Pantas saja jika hujan klakson tak dia dengar dan kemarahan itu tak ia rasa. Karena tekanan jalan raya itu ternyata pasti kecil saja dibanding tekanan hidupnya. Yang keliru akhirnya kita juga yang kerap menuntut orang-orang tertekan itu agar berbuat mulia. Sebagai penonton dari kejauhan, tuntutan kita kadang memang sering keterlaluan.
Kakek dan Cucu yang Menangis Bersama
Penertiban sebuah pasar menyisakan sebuah foto: seorang kakek memeluk cucu dan menangis bersama saat melihat tempat dagangan mereka digusur paksa. Kita tidak mengenal siapa cucu itu, tapi kita mengenal perasaannya. Ia pasti cucu yang tengah berduka demi melihat kakeknya menderita. Cucu yang demikian pasti cucu yang dekat dengan kakeknya. Kedekatan itu pasti bukti kalau mereka saling cinta.
Sejumlah ''kepastian'' berikutnya bisa dibangun lebih jauh. Karena kakek itu hanya pedagang buah kecil, cintanya pada sang cucu pasti juga diekspresikan dengan cara-cara yang kecil. Jika membawa oleh-oleh pun pasti dari kelas yang kecil saja. Karena semua sumber kasih sayang si kakek juga cuma berasal dari dagangan buahnya yang kecil. Kini sumber yang kecil itu telah porak poranda.
Cucu itu, perempuan, berkulit hitam, keriting dan sekitar 5 tahun usianya. Ia adalah anak-anak pada umumnya, yang selalu bisa mengingatkan setiap orang tua pada anaknya, setiap kakek-nenek pada cucunya. Anak-anak adalah sebuah melankoli, yang bisa membuat kita menangis tanpa harus menunggu mereka menjadi korban tragedi.
Ada jenis orang tua yang tak henti mengutuk diri sendiri setelah usai menghukum anaknya. Gara-gara rengekan panjang si anak, orang tua ini kalap. Dia ambil handuk, disabetnya punggung si anak bertubi-tubi. Tidak cukup menyakiti, tapi cukup membuat si anak menggigil ngeri. Bukan oleh kesakitan, tapi oleh ketakutan. Takut demi melihat orangtuanya bisa berubah garang secara tiba-tiba, sebuah kelakuan yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
Si anak ini pun mengkerut dan hampir pingsan oleh luka di hatinya. Si orang tua sendiri menjadi kaget ketika kemarahannya reda. Sejak itu, ia selalu menangis setiap terbayang wajah anaknya yang kaget dan ngeri itu. Setiap bepergian ia selalu kepingin buru-buru pulang hanya untuk segera memeluknya.
Orang tua yang lain lagi malah dilanda kecengengan yang lebih tidak bermutu. Hanya karena si anak telah bisa menari di pentas Agustusan, orang tua ini bisa sesenggukan di belakang panggung. Sementara penonton tergelak ketika melihat si anak melakukan kesalahan, sang orang tua malah makin keras tangisnya. Geli, haru, takjub dan iba mengharu-biru hatinya.
Jenis orang tua yang lain lagi malah punya cara menangis yang lebih sederhana: berfantasi. Melihat anak-anak bersekolah dengan membonceng sepeda onthel bapaknya, tergencet lalu lintas yang ganas, diguyur debu, disembur asap knalpot dan dipanggang terik, menangislah dia. Melihat anak-anaknya lelap tidur di malam sepi, menangislah dia. Membayangkan ia gagal memberi pendidikan terbaik, membayangkan anaknya menjadi korban keganasan jalan raya, menderita karena hidup di zaman yang korup dan rusak, berurailah airmatanya.
Sungguh, untuk terharu pada anak-aak, manusia tak perlu menunggu mereka menjadi korban musibah. Padahal bangsa ini tak henti-hentinya menyiapkan musibahnya. Kita bisa membangun supermaket tapi tak becus menata lahan parkirnya dan ruwetlah akibatnya. Pemerintah bisa menetapkan seorang tersangka tapi ada saja ''anggota'' pemerintah yang selalu sibuk membela, menjenguk jika ia dipenjara, membezuk jika ia sakit. ''Silaturahmi sebagai sesama umat beragama.'' katanya. Maka kacaulah rakyat dibuatnya.
Padahal jika suatu bangsa telah memiliki dua hal: pemimpin yang egois dan pemerintah yang terpecah-belah, maka lengkaplah bakat bangsa itu sebagai biang musibah.
Jadi, masih akan banyak lagi anak-anak yang bersiap menjadi korban musibah. Padahal melihat mereka, kita akan selalu terkenang anak-anak kita sendiri.
Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Cara Bikin Blog Cantik dan Dinamis
@ Kumpulan Tutorial Blog Lengkap
@ Kumpulan Dongeng Anak
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog
"Sering orang mencoba menjalani hidup secara terbalik; mereka mencoba memiliki lebih banyak barang, lebih banyak uang, agar dapat mengerjakan hal yang mereka inginkan lebih banyak, agar mereka lebih bahagia. Sebenarnya, jalan yang benar adalah kebalikannya. Engkau pertama-tama harus menjadi dirimu yang sesungguhnya, lalu melakukan apa yang perlu kau lakukan, agar dapat lebih banyak memiliki hal-hal yang kau inginkan." (Margaret Young).
Sore itu, cuaca begitu cerah. Pak Zaenal seperti biasa setelah shalat Ashar, baru pulang dari kantor. Begitu sampai di rumah, Pak Zaenal mengucapkan salam dan membuka pintu rumah. Di sana, didapati putri kesayangannya, Alifia (5 th), yang sedang menunggu dan menyambut dengan antusias atas kehadiran ayahnya. Anak ini, seakan-akan tidak mempedulikan kondisi ayahnya. Biar kondisi ayahnya capek, lelah, dan perlu istirahat. Pokoknya dalam pikirannya hanya ada satu kata, yaitu "bermain dengan ayah". Dalam pikirannya, bermain dengan ayah adalah sesuatu yang paling menyenangkan. Dalam keadaan itulah, biasanya hati Pak Zaenal luluh untuk menuruti kemauan anaknya.
Dan Pak Zaenal menghibur dirinya dalam hati dengan ucapan, "Bukankah saya selaku orang tua harus mampu memposisikan pikirannya dengan pikiran si anak. Lagi pula kita selaku orang tua harus mampu memformulasikan rasa lelah, bijaksana, emosi anak, mendidik, dan hiburan menjadi satu bentuk amal keikhlasan," ucap hatinya. Akhirnya, terciptalah kebersamaan Pak Zaenal dengan anaknya. Keduanya bermain-main naik sepeda keliling rumahnya. Hilang sudah "rasa lelah" Pak Zaenal, berganti keceriaan yang tiada tara, baik dirinya maupun anaknya. Dan seperti biasanya, saat bermain itulah Pak Zaenal tidak lupa menyelipkan tarbiyah tentang kehidupan kepada anaknya. Hiburan merupakan kebutuhan tambahan yang cukup memberi andil dalam perkembangan anak.
Dari aktivitas hiburan ini, akan terbentuk penyegaran pikiran dan fisik. Ialah obat dari kejenuhan rutinitas hidup seseorang. Baik bagi suami, istri, maupun anak. Dalam koridor seperti itu, biasanya emosional orang tua menjadi luluh. Orang tua memenuhi keinginan seorang anak untuk mendapat hiburan. Hiburan apa? Seperti yang terjadi pada Pak Zaenal, ternyata di luar dugaannya. Sang anak hanya ingin naik sepeda. Dengan naik sepeda keliling lingkungan RT, wajah sang anak begitu terlihat bahagia. Begitu juga pada keluarga lain, anak-anak itu sebenarnya tidak menuntut banyak tentang jenis hiburannya.
Tapi, dirinya ingin bermain dengan kemampuan orang tuanya. Bisa dikatakan langkah Pak Zaenal itu, adalah sesuatu yang menjadi ikon pribadi seorang ayah yang bijaksana. Karena menurut Margaret Young, sering orang mencoba menjalani hidup secara terbalik; mereka mencoba memiliki lebih banyak barang, lebih banyak uang, agar dapat mengerjakan hal yang mereka inginkan lebih banyak, agar mereka lebih bahagia. Sebenarnya, jalan yang benar adalah kebalikannya. Engkau pertama-tama harus menjadi dirimu yang sesungguhnya, lalu melakukan apa yang perlu kaulakukan, agar dapat lebih banyak memiliki hal-hal yang kau inginkan. Naik sepeda, begitu sederhana. Tak perlu biaya banyak dan relatif setiap orang tua mampu melakukannya.
Tapi, hal sederhana itu, justru subhanallah, besar manfaatnya. Di antaranya, bagaimana kita bisa mengajarkan rasa syukur nikmat, menghormati orang lain, aktivitas amaliah di dunia, dan lainnya. Tarbiyah itu, tentu masih dalam jangkauan pikiran dan bahasa anak-anak seusianya. Salah satu kesan menghibur anak dengan naik sepeda itu adalah proses mendidik anak untuk mensyukuri nikmat. Aktualisasi rasa syukur nikmat itu secara sederhana, kita bisa mencontohkan misalnya bagimana seorang manusia yang diberi anggota tubuh yang sempurna dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya; terciptanya hewan, tumbuhan; adanya matahari, bintang, langit, awan, dan lainnya.
Atau berupa nikmat non materi seperti nikmat sehat dan adanya waktu senggang, sehingga kita bisa bermain. Pokoknya, pemberian kebutuhan hiburan kepada keluarga, lebih-lebih pada anak, adalah lebih utama dari yang lainnya. Rasulullah SAW bersabda, "Pemberian tambahan seseorang kepada keluarganya lebih utama daripada pemberian tambahan kepada orang lain, seperti kelebihan seseorang shalat berjamaah dibanding seseorang shalat sendiri." (HR. Ibnu Abu Syaibah). Wallahu a'lam.
Suatu Hari di Sebuah Angkot
Sebuah angkot, selebor jalannya. Cepat tidak, lambat pun tidak. Di pinggir tidak, di tengah pun tidak. Jika berhenti sesuka hati. Terhadap bunyi klakson yang marah ia seperti tuli. Terhadap akibat atas ulahnya ia tak peduli.
Saya pernah menjadi bagian dari orang yang jengkel itu. Tak cuma jengkel tapi marah. Betapa menyenangkan membayangkan sopir semacam ini diseret untuk kita caci-maki. Kepadanya harus diberi kuliah dan sumpah serapah betapa memakai jalan seenaknya adalah kejahatan.
Pertama ialah karena ia menganggap jalanan umum itu sebagai milik bapaknya. Kedua karena ulahnya bisa menimbulkan kemacetan. Ketiga karena kecerobohannya bisa menimbulkan kecelakaan. Tiga kejahatan sekaligus. Tapi paling menyedihkan adalah kejahatan keempat: bagaimana mungkin orang yang sudah begini jahat sama sekali tidak menyadari kejahatannya.
Maka adalah lebih menyenangkan lagi membayangkan orang itu diseret tidak sekadar untuk dicaci maki, tapi sudah layak dikeroyok ramai-ramai. Dihajar hingga kapok, dipaksa minta ampun dan meratapi dosanya. Membayangkan wajahnya yang takut dan kalah tentu akan menjadi kegembiraan. Maka untuk bisa membuat bayangan itu lebih nyata, angkot yang tengah berhenti sembarangan untuk mencari penumpang itu harus disalip, wajah sopir itu harus dilihat seutuhnya.
Hanya setelah wajah itu tertangkap, sejarah terpaksa harus berubah. Sopir itu ternyata tak lebih dari lelaki kecil, hitam, kusut dan kosong pula pandang matanya. Klakson yang hiruk-pikuk menghardiknya, bahkan tak sanggup mengatupkan mulutnya yang menganga. Sikap mulut yang menggambarkan betapa otak lelaki ini memang sedang kosong, terbang entah kemana.
Wajah itu pula yang memaksa saya menengok angkot tuanya dengan penumpang seorang saja. Dari jumlah penumpangnya, lalu terbayang berapa anak di rumahnya, berapa biaya sekolahnya dan apakah pendapatannya sebagai sopir cukup untuk menutup itu semua.
Imajinasi ini lalu bereskalasi, membesar sendiri. Pastilah di kampungnya, sopir ini juga sering diundang kondangan sambil menyumbang tatangga serta kolega. Dan undangan itu pasti tidak cuma satu atau dua, tapi bisa tiga, empat, lima... dan seterusnya. Dan ia pun pasti menyumbang dengan kepantasan. Bisa berlebih tapi jangan berkurang dari ukuran kewajaran.
Di sekolah, anak-anaknya pastilah juga anak-anak seperti pada umumnya yang harus bersepatu dengan merek seperti yang lazim dipakai teman sebaya. Sekolahnya pun pasti sekolah pada umumnya yang harus mengenal beli buku, bayar SPP dan uang saku. Karena Indonesia memang negeri umum. Artinya, keadaan orang tua boleh berbeda tapi anak-anak mereka harus menghadapi beban dan godaan yang sama.
Jadi yang boleh berbeda hanya soal status dan pendapatan orang tua saja. Bahwa jika sopir ini cuma mendapat sebegini adalah lumrah adanya. Bahwa jika pejabat itu mendapat sebegitu adalah cocok dengan ketinggian jabatannya. Engkau memang boleh berbeda tapi anak-anakmu tidak. Karena mereka bisa bertemu di sekolah yang sama dan menghadapi dunia yang sama. Apapun jenis penghasilanmu tak bisa mencegah laju pengaruh bagi anak-anakmu. Tak peduli apapun pebedaan statusmu, anak-anakmu bisa melihat iklan gaya hidup di televisi bersama, bisa sama-sama menonton sinetron Opera SMU yang ngetop tapi dituduh jiplakan itu.
Jadi, pantas saja jika sopir angkot itu kosong tatap matanya. Pantas saja jika hujan klakson tak dia dengar dan kemarahan itu tak ia rasa. Karena tekanan jalan raya itu ternyata pasti kecil saja dibanding tekanan hidupnya. Yang keliru akhirnya kita juga yang kerap menuntut orang-orang tertekan itu agar berbuat mulia. Sebagai penonton dari kejauhan, tuntutan kita kadang memang sering keterlaluan.
Kakek dan Cucu yang Menangis Bersama
Penertiban sebuah pasar menyisakan sebuah foto: seorang kakek memeluk cucu dan menangis bersama saat melihat tempat dagangan mereka digusur paksa. Kita tidak mengenal siapa cucu itu, tapi kita mengenal perasaannya. Ia pasti cucu yang tengah berduka demi melihat kakeknya menderita. Cucu yang demikian pasti cucu yang dekat dengan kakeknya. Kedekatan itu pasti bukti kalau mereka saling cinta.
Sejumlah ''kepastian'' berikutnya bisa dibangun lebih jauh. Karena kakek itu hanya pedagang buah kecil, cintanya pada sang cucu pasti juga diekspresikan dengan cara-cara yang kecil. Jika membawa oleh-oleh pun pasti dari kelas yang kecil saja. Karena semua sumber kasih sayang si kakek juga cuma berasal dari dagangan buahnya yang kecil. Kini sumber yang kecil itu telah porak poranda.
Cucu itu, perempuan, berkulit hitam, keriting dan sekitar 5 tahun usianya. Ia adalah anak-anak pada umumnya, yang selalu bisa mengingatkan setiap orang tua pada anaknya, setiap kakek-nenek pada cucunya. Anak-anak adalah sebuah melankoli, yang bisa membuat kita menangis tanpa harus menunggu mereka menjadi korban tragedi.
Ada jenis orang tua yang tak henti mengutuk diri sendiri setelah usai menghukum anaknya. Gara-gara rengekan panjang si anak, orang tua ini kalap. Dia ambil handuk, disabetnya punggung si anak bertubi-tubi. Tidak cukup menyakiti, tapi cukup membuat si anak menggigil ngeri. Bukan oleh kesakitan, tapi oleh ketakutan. Takut demi melihat orangtuanya bisa berubah garang secara tiba-tiba, sebuah kelakuan yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
Si anak ini pun mengkerut dan hampir pingsan oleh luka di hatinya. Si orang tua sendiri menjadi kaget ketika kemarahannya reda. Sejak itu, ia selalu menangis setiap terbayang wajah anaknya yang kaget dan ngeri itu. Setiap bepergian ia selalu kepingin buru-buru pulang hanya untuk segera memeluknya.
Orang tua yang lain lagi malah dilanda kecengengan yang lebih tidak bermutu. Hanya karena si anak telah bisa menari di pentas Agustusan, orang tua ini bisa sesenggukan di belakang panggung. Sementara penonton tergelak ketika melihat si anak melakukan kesalahan, sang orang tua malah makin keras tangisnya. Geli, haru, takjub dan iba mengharu-biru hatinya.
Jenis orang tua yang lain lagi malah punya cara menangis yang lebih sederhana: berfantasi. Melihat anak-anak bersekolah dengan membonceng sepeda onthel bapaknya, tergencet lalu lintas yang ganas, diguyur debu, disembur asap knalpot dan dipanggang terik, menangislah dia. Melihat anak-anaknya lelap tidur di malam sepi, menangislah dia. Membayangkan ia gagal memberi pendidikan terbaik, membayangkan anaknya menjadi korban keganasan jalan raya, menderita karena hidup di zaman yang korup dan rusak, berurailah airmatanya.
Sungguh, untuk terharu pada anak-aak, manusia tak perlu menunggu mereka menjadi korban musibah. Padahal bangsa ini tak henti-hentinya menyiapkan musibahnya. Kita bisa membangun supermaket tapi tak becus menata lahan parkirnya dan ruwetlah akibatnya. Pemerintah bisa menetapkan seorang tersangka tapi ada saja ''anggota'' pemerintah yang selalu sibuk membela, menjenguk jika ia dipenjara, membezuk jika ia sakit. ''Silaturahmi sebagai sesama umat beragama.'' katanya. Maka kacaulah rakyat dibuatnya.
Padahal jika suatu bangsa telah memiliki dua hal: pemimpin yang egois dan pemerintah yang terpecah-belah, maka lengkaplah bakat bangsa itu sebagai biang musibah.
Jadi, masih akan banyak lagi anak-anak yang bersiap menjadi korban musibah. Padahal melihat mereka, kita akan selalu terkenang anak-anak kita sendiri.
Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Cara Bikin Blog Cantik dan Dinamis
@ Kumpulan Tutorial Blog Lengkap
@ Kumpulan Dongeng Anak
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog
Untaian Kata Mutiara: Pendidikan Keluarga
Untaian Kata Mutiara
"Semulia-mulianya manusia adalah siapa yang mempunyai adab, merendahkan diri ketika berkedudukan tinggi, memaafkan ketika berdaya membalas dan bersikap adil ketika kuat" (Khalifah Abdul Malik bin Marwan).
"Jangan mengukur kebijaksanaan seseorang hanya karena kepandaiannya berkata-kata, tetapi juga perlu dinilai buah fikiran serta tingkah lakunya"
"Jembatan menjadi penghubung antara dua buah kampung, perkawinan menjadi penghubung antara dua insan dan anak menjadi penghubung antara ibu dan ayah"
"kehidupan kita di dunia ini tidak menjanjikan suatu jaminan yang kekal. Apa yang ada hanyalah percobaan, kesabaran dan pelbagai peluang. Jaminan yang kekal abadi hanya dapat ditemui apabila kita kembali semula kepada Ilahi"
"Menjadi manusia merdeka bukan menjadi manusia yang tahu segala, tetapi menjadi manusia yang ketertundukannya kepada semua yang fana tidak melebihi ketertundukan kepada Allah Subhanahu Wata'ala, Laa Ilaha Illallah…"
Hidup sederhana bukanlah hidup dalam kemiskinan
Saudaraku yang dikasihi Allah hidup sederhana adalah hidup yang diajarkan Rasulullah SAW. Sudah seharusnya dalam kehidupan kita sehari – hari untuk selalu meneladani gaya hidup ala Rasulullah tercinta. Rasulullah makhluk yang paling mulia dimuka bumi ini adalah sebaik – baik contoh bagi umatnya.
Wahai saudaraku yang selalu rindu akan cinta Allah, pemilik jiwa – jiwa yang suci, hidup sederhana bukanlah berarti hidup susah dan senang menderita, tapi hidup yang mengerti mana kebutuhan dan mana keinginan, bukan berarti juga meninggalkan kesenangan dunia, bukan saudaraku…., tapi sadar bahwa setiap kesenangan pasti akan dimintai pertanggung jawaban, kita sering kali lupa bahwa kita akan mempertanggung jawabkan nikmat yang kita terima, seperti :
“ Kemudian sungguh, pada hari itu kamu akan ditanya tentang kenikmatan yang kamu peroleh hari ini ( yang kamu megah – megahkan di dunia itu )". ( QS. Al-Takatsur 102:8)
“ Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemewahannya berkatalah orang – orang yang menghendaki kehidupan dunia : “ moga – moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun .Sesungguhnya ia benar – benar mempunyai keberuntungan yang besar.”
Berkatalah orang – orang yang di anugerahi ilmu : “ kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang – orang yang beriman dan beramal saleh “. ( QS. Al- Qashash 28 : 79- 80 ).
“ Maka datanglah sesudah mereka, pengganti yang menyia – nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan, kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal shaleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya sedikitpun”. (QS. Maryam 19 : 59-60).
Ayat diatas menerangkan keadaan orang yang bermegah – megahan dan di sibukkan oleh harta benda dan orang – orang yang mempunyai sifat selalu menuruti hawa nafsunya padahal Allah telah dengan tegas mengatakan :
“ Sesungguhnya manusia itu benar – benar dalam kerugian “. ( QS. Al – Ashr 103 : 2 )
Seperti umar Ibnu Khattab semasa menjabat menjadi khalifah, beliau lebih memilih menyisakan kesenangan untuk hari akhir dari pada kesenangannya sekarang. Umar berlaku demikian karena mencontoh sunah Rasulullah SAW. Ia bercerita: “ Aku pernah minta izin menemui Rasulullah, aku mendapatkan beliau sedang berbaring diatas tikar yang sangat kasar, sebagian tubuh beliau berada diatas tanah, beliau hanya berbantal pelepah kurma yang keras. Aku ucapkan salam kepadanya dan duduk di dekatnya, aku tidak sanggup menahan tangisku.
“ Mengapa engkau menangis, hai putra Khattab?” Rasulullah bertanya.
Aku berkata, “ Bagaimana aku tidak menangis, tikar ini telah menimbulkan bekas pada tubuh engkau. Engkau ini nabi Allah, kekasih-Nya, kekayaanmu hanya yang aku lihat sekarang ini. Padahal di tempat sana, Kisra dan Kaisar duduk diatas kastil emas, berbantalkan sutra”.
Nabi yang mulia berkata, “ mereka telah menyegerakan kesenangannya sekarang juga, kesenangan yang akan cepat berakhir. Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita unutk hari akhir kita. Perumpamaanku dengan dunia sepaerti seseorang yang bepergian pada musim panas, ia berlindung sejenak dibawah pohon, kemudian berangkat dan meninggalkannya”.( Hayat al- Shahabah 2: 352).
Ingatlah saudaraku, hidup dengan bermegah – megahan hanya akan membuat hati kita menjadi keras, sombong dan akan lebih menjauhkan diri kita dari cinta dan kasih Allah. Kondisi seperti ini adalah seburuk – buruk hati, bukankah Allah sangat membenci sesuatu yang serba berlebih – lebihan?
Al Muhasibi berbisik parau : Kesederhanaan adalah kemuliaan, kesederhanaan baru bisa terwujud kala kita menyadari bahwa hidup di dunia hanyalah persinggahan dari perjalanan panjang manusia menuju Tuhan.
Wanita Lain (The Other Woman)
Setelah menikah selama dua puluh satu tahun akhirnya kutemukan cara untuk menjaga agar cahaya cinta tetap bersinar.
Beberapa waktu yang lalu, aku keluar bersama wanita yang lain dari biasanya. Gagasan itu justru dari istriku sendiri.
"Aku yakin kau akan mencintainya," kata istriku.
"Tapi aku mencintaimu," protesku.
"Aku tahu itu, tapi kau juga akan mencintainya."
Sebenarnya wanita yang dimaksud istriku tidak lain adalah ibuku sendiri yang telah menjanda selama 19 tahun. Tuntutan pekerjaan dan tiga anakku membuatku jarang mengunjunginya.
Malam itu aku menelepon untuk mengajaknya kencan makan malam dan nonton bioskop.
"Ada apa? Kau baik-baik saja, kan?" ibuku balik bertanya.
Ibuku termasuk tipe orang yang beranggapan bahwa telepon di larut malam dan undangan mendadak adalah pertanda berita buruk.
"Kupikir akan sangat menyenangkan melewatkan waktu bersama Ibu," jelasku. "Hanya kita berdua saja."
Dia berpikir sejenak lalu berkata, "Aku setuju dengan rencanamu itu."
Jumat itu, setelah kerja, aku meluncur ke rumahnya untuk menjemput. Aku sedikit gelisah. Sesampainya di sana, kuperhatikan dia juga agak salah tingkah. Dia memakai mantel, menunggu di depan pintu. Rambutnya dikeriting dan memakai baju yang dikenakannya di ulang tahun perkawinannya yang terakhir. Dia tersenyum dengan wajah seberseri
bidadari.
"Aku bercerita kepada teman-temanku bahwa aku kencan dengan anakku. Mereka terkesan," katanya sambil memasuki mobil. "Mereka tidak sabar menunggu cerita pertemuan kita ini."
Kami pergi ke restoran yang cukup baik dan nyaman. Ibuku menggandeng tanganku seakan-akan ia adalah istri seorang presiden. Setelah kami duduk, kubaca menu. Mata ibuku hanya bisa melihat tulisan yang tercetak dengan huruf besar.
Selama makan kuperhatikan ibu selalu menatapku. Senyuman nostalgia tersungging di bibirnya.
"Biasanya, aku yang selalu membacakan menu ketika kau masih kecil," kata ibu.
"Sekarang santailah, biar aku yang ganti membaca untuk membalas kebaikan ibu," jawabku.
Selama makan malam, kami terlibat dalam pembicaraan yg mengasyikkan. Tidak ada yang istimewa, hanya tentang kejadian-kejadian terakhir dalam kehidupan kami berdua. Kami bicara banyak sampai lupa acara nonton film. Kemudian aku mengantarnya pulang.
"Aku akan keluar lagi bersamamu, tapi atas undanganku," kata ibuku.
"Kalau kau setuju?"
Aku segera menyatakan persetujuanku.
Sesampainya di rumah, istriku bertanya, "Bagaimana acara makan malammu?"
"Sangat menyenangkan. Jauh lebih menyenangkan dari yang kubayangkan," jawabku.
Beberapa hari kemudian ibuku meninggal dunia karena serangan jantung. Kejadian itu begitu mendadak sehingga aku tidak sempat berbuat apa-apa.
Kemudian aku menerima amplop ibuku yang berisi kwitansi tanda lunas dari sebuah rumah makan yang rencananya akan kami kunjungi berdua. Amplop itu juga berisi secarik surat yang berbunyi:
"Telah kubayar lunas. Mungkin aku tidak bisa ke sana bersamamu, tapi aku tetap membayar untuk dua orang: untukmu dan istrimu. Kau takkan pernah tahu arti malam itu bagiku. Aku mencintaimu."
Saat itu aku baru menyadari betapa pentingnya mengucapkan: "Aku Mencintaimu" dan memberi orang yang kita cintai waktu yang layak diterimanya.
Dalam hidup ini tak ada yang lebih penting dari Tuhan dan keluargamu.
Luangkan waktu yang layak bagi mereka karena hal itu tak dapat ditunda sampai waktu lain.
Perbaiki Persahabatan Yang Retak
Kesalahanpahaman dapat menganggu dan memutuskan hubungan persahabatan sekalipun persahabatan telah terjalin kuat. Kita semua butuh teman. Teman menjadi orang yang dapat diajak bicara dikala kita punya masalah dengan pasangan, ketika kita memiliki masalah di tempat kerja atau bahkan masalah di rumah sendiri. Teman dapat membantu kita melewati masa-masa sulit, menawarkan kita nasehat, memberikan kenyaman dan mendukung disaat kita lagi dirundung kesedihan.
Tetapi memiliki teman yang saling mengerti tidaklah muda dan terkadang kita lupa sebuah persahabatan membutuhkan beberapa perhatian dan kalau tidak, persahabatan bisa memudar dan kadang persahabatan mengalami ketidakseimbangan. Misalnya, satu teman anda hanya bisa berbicara saja atau hanya ingin selalu diperhatikan, dan anda menemukan perasan tidak aman, marah atau terabaikan.
Jika anda tidak mampu mengatasi, perasaan ini dapat merusak dan mengancam persahabatan. Tumbuh menjadi kekecewaan dan suatu saat bisa meledak atau anda menghindari dan akhirnya anda akan kehilangan teman baik.
Berikut beberapa tips untuk membantu anda mengatur dan memperbaiki hubungan persahabatan yang retak:
Berbicara
Jika anda tidak senang dengan sesuatu yang seorang teman katakan atau lakukan, katakan padanya dengan jelas. Anda harus tahu bahwa reaksi atau kata-katanya memiliki pengaruh pada anda. Ia mungkin akan defensif ketika anda mengatakan tetapi ada juga kemungkinan hal itu menjadi pembuka mata bagi dirinya setidaknya mengerti ketidaksenangan.
Ketika anda bertengkar
Jika anda berargumen dengan teman sampai terjadi ketegangan, berikan waktu untuk mendinginkan suasana tetapi jangan terlalu lama sebelum anda mengusulkan untuk bertemu minum kopi, nonton film atau aktivitas lain misalnya.
Tetap berhubungan
Anda harus selalu berhubungan dengan teman jika anda ingin menjaga persahabatan tetap hidup. Dan berikut beberapa cara yang perlu dilakukan:
- Sering kirim e-mail pada teman-teman anda, sekalipun hanya sebuah catatan singkat lebih baik daripada tidak.
- Telepon dan chat minimal sekali seminggu. Percakapan yang singkat lebih baik dari pada tidak sama sekali.
- Pergi ke tempat senam, olahraga bersama-sama, atau pergi ke supermarket atau ke pusat kecantikan bersama-sama.
- Bertemu dan makan siang bersama atau setidaknya minum kopi minimal sekali dalam satu minggu.
Berpikir dan Bertindak Demi Hari Esok
Jika Anda lebih menginginkan keberhasilan, Anda dapat memilikinya. Masa depan Anda dapat menjadi lebih cerah daripada semua yang Anda inginkan. Karena cara berpikir Anda mencerminkan cara Anda bertindak. Dan cara Anda bertindak menentukan bagaimana masa depan yang akan terbentang di depan Anda.
(Vernon Howard).
Pada suatu hari Bahlul sedang berjalan-jalan di sebuah jalan di kota Basrah. Tiba-tiba, ia melihat anak-anak tengah bermain dengan buah kemiri dan pala. Namun, di sana ada seorang anak yang hanya menonton teman-temannya sambil menangis. Bahlul menghampirinya dan berkata dalam hati, "Anak ini bersedih karena tidak memiliki mainan seperti yang dimiliki oleh anak-anak yang lain." Kemudian Bahlul berkata kepadanya, "Anakku, mengapa kamu menangis? Maukah aku belikan buah kemiri dan pala, sehingga kamu dapat bermain dengan teman-temanmu?"
Anak itu menatap Bahlul, lalu menjawab: "Hai orang yang kurang cerdas, kita diciptakan bukan untuk bermain-main." "Lalu untuk apa kita diciptakan?" tanya Bahlul.
Anak kecil itu menjawab, "Untuk belajar dan beribadah." Bahlul bertanya lagi, "Dari mana kamu memperoleh jawaban itu? Kiranya Allah memberkatimu".
Dia menjawab, "Dari firman Allah dalam QS Al-Mu'minun ayat 116, Apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakanmu untuk bermain-main dan bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?"
Kisah antara Bahlul dan seorang anak itu, memberikan pelajaran bagi siapa pun. Bahwa manusia diciptakan untuk belajar dan beribadah. Demikian pula halnya dengan kehidupan berkeluarga. Kita tentu semata-mata harus membangunnya di atas dasar koridor belajar dan beribadah kepada Allah.
Betul, kalau setiap anak itu butuh bermain dalam hidupnya. Namun, tentu bermain yang mengandung dan mengarahkan si anak kepada proses belajar membangun aktivitas beribadah kepada Allah SWT. Apalagi, saat ini di sekitar kita begitu banyak tersebar aneka fasilitas dan informasi bermain yang ditawarkan pada anak-anak. Yang kadangkala kalau orang tua tidak hati-hati, permainan itu tidak islami dan bisa merusak akidah anak kita.
Di sinilah, barangkali perlunya peran serta dan kemampuan pola kebijakan orang tua dalam memilih teman bermain anak-anaknya. Dan sebenarnya, inti dari belajar itu adalah berpikir dan bertindak. Bukankah, perilaku yang diperbuat oleh tiap manusia, semata-mata diawali dari sebuah niat dan pola pikir dalam hati dan akalnya. Untuk itu, tiap orang tua dituntut agar niat dan akal anak-anaknya harus ditata dan dibina dengan baik agar melahirkan perbuatan yang dapat menjadi bekal dan penyelamat dalam menyongsong masa depannya.
Jadi, berpikir dan bertindak ini jelas-jelas akan menjadi kunci keberhasilan dari apa-apa yang kita inginkan, termasuk dalam pembentukan keluarga sakinah. Dalam hal ini, Vernon Howard mengungkapkan, jika Anda lebih menginginkan keberhasilan, Anda dapat memilikinya. Masa depan Anda dapat menjadi lebih cerah daripada semua yang Anda inginkan. Karena cara berpikir Anda mencerminkan cara Anda bertindak. Dan cara Anda bertindak menentukan bagaimana masa depan yang akan terbentang di depan Anda.
Untuk itu, bangunlah setiap saat pola pikir dan tindakan anak-anak kita sesuai etika dan perilaku islami. Karena menurut John Kehoe, melalui pengulangan, pikiran menjadi terpusat dan terarah serta kemampuannya dapat berlipat ganda setiap saat. Semakin sering diulang, semakin banyak tenaga dan kekuatan yang terkumpul dan semakin siap untuk diwujudkan.
Akhirnya, tidak ada jalan lain untuk menyongsong hari esok, selain setiap anggota keluarga Muslim harus betul-betul menyadari bahwa dalam hidup ini, kita harus memperhatikan bekal-bekal apa saja yang telah dipersiapkan dan diperbuat bagi kehidupan di hari esok. Allah berfirman, "dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)" (QS. Al-Hasyr: 18). Wallahu a'lam.
Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Cara Bikin Blog Cantik dan Dinamis
@ Kumpulan Tutorial Blog Lengkap
@ Kumpulan Dongeng Anak
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog
"Semulia-mulianya manusia adalah siapa yang mempunyai adab, merendahkan diri ketika berkedudukan tinggi, memaafkan ketika berdaya membalas dan bersikap adil ketika kuat" (Khalifah Abdul Malik bin Marwan).
"Jangan mengukur kebijaksanaan seseorang hanya karena kepandaiannya berkata-kata, tetapi juga perlu dinilai buah fikiran serta tingkah lakunya"
"Jembatan menjadi penghubung antara dua buah kampung, perkawinan menjadi penghubung antara dua insan dan anak menjadi penghubung antara ibu dan ayah"
"kehidupan kita di dunia ini tidak menjanjikan suatu jaminan yang kekal. Apa yang ada hanyalah percobaan, kesabaran dan pelbagai peluang. Jaminan yang kekal abadi hanya dapat ditemui apabila kita kembali semula kepada Ilahi"
"Menjadi manusia merdeka bukan menjadi manusia yang tahu segala, tetapi menjadi manusia yang ketertundukannya kepada semua yang fana tidak melebihi ketertundukan kepada Allah Subhanahu Wata'ala, Laa Ilaha Illallah…"
Hidup sederhana bukanlah hidup dalam kemiskinan
Saudaraku yang dikasihi Allah hidup sederhana adalah hidup yang diajarkan Rasulullah SAW. Sudah seharusnya dalam kehidupan kita sehari – hari untuk selalu meneladani gaya hidup ala Rasulullah tercinta. Rasulullah makhluk yang paling mulia dimuka bumi ini adalah sebaik – baik contoh bagi umatnya.
Wahai saudaraku yang selalu rindu akan cinta Allah, pemilik jiwa – jiwa yang suci, hidup sederhana bukanlah berarti hidup susah dan senang menderita, tapi hidup yang mengerti mana kebutuhan dan mana keinginan, bukan berarti juga meninggalkan kesenangan dunia, bukan saudaraku…., tapi sadar bahwa setiap kesenangan pasti akan dimintai pertanggung jawaban, kita sering kali lupa bahwa kita akan mempertanggung jawabkan nikmat yang kita terima, seperti :
“ Kemudian sungguh, pada hari itu kamu akan ditanya tentang kenikmatan yang kamu peroleh hari ini ( yang kamu megah – megahkan di dunia itu )". ( QS. Al-Takatsur 102:8)
“ Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemewahannya berkatalah orang – orang yang menghendaki kehidupan dunia : “ moga – moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun .Sesungguhnya ia benar – benar mempunyai keberuntungan yang besar.”
Berkatalah orang – orang yang di anugerahi ilmu : “ kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang – orang yang beriman dan beramal saleh “. ( QS. Al- Qashash 28 : 79- 80 ).
“ Maka datanglah sesudah mereka, pengganti yang menyia – nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan, kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal shaleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya sedikitpun”. (QS. Maryam 19 : 59-60).
Ayat diatas menerangkan keadaan orang yang bermegah – megahan dan di sibukkan oleh harta benda dan orang – orang yang mempunyai sifat selalu menuruti hawa nafsunya padahal Allah telah dengan tegas mengatakan :
“ Sesungguhnya manusia itu benar – benar dalam kerugian “. ( QS. Al – Ashr 103 : 2 )
Seperti umar Ibnu Khattab semasa menjabat menjadi khalifah, beliau lebih memilih menyisakan kesenangan untuk hari akhir dari pada kesenangannya sekarang. Umar berlaku demikian karena mencontoh sunah Rasulullah SAW. Ia bercerita: “ Aku pernah minta izin menemui Rasulullah, aku mendapatkan beliau sedang berbaring diatas tikar yang sangat kasar, sebagian tubuh beliau berada diatas tanah, beliau hanya berbantal pelepah kurma yang keras. Aku ucapkan salam kepadanya dan duduk di dekatnya, aku tidak sanggup menahan tangisku.
“ Mengapa engkau menangis, hai putra Khattab?” Rasulullah bertanya.
Aku berkata, “ Bagaimana aku tidak menangis, tikar ini telah menimbulkan bekas pada tubuh engkau. Engkau ini nabi Allah, kekasih-Nya, kekayaanmu hanya yang aku lihat sekarang ini. Padahal di tempat sana, Kisra dan Kaisar duduk diatas kastil emas, berbantalkan sutra”.
Nabi yang mulia berkata, “ mereka telah menyegerakan kesenangannya sekarang juga, kesenangan yang akan cepat berakhir. Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita unutk hari akhir kita. Perumpamaanku dengan dunia sepaerti seseorang yang bepergian pada musim panas, ia berlindung sejenak dibawah pohon, kemudian berangkat dan meninggalkannya”.( Hayat al- Shahabah 2: 352).
Ingatlah saudaraku, hidup dengan bermegah – megahan hanya akan membuat hati kita menjadi keras, sombong dan akan lebih menjauhkan diri kita dari cinta dan kasih Allah. Kondisi seperti ini adalah seburuk – buruk hati, bukankah Allah sangat membenci sesuatu yang serba berlebih – lebihan?
Al Muhasibi berbisik parau : Kesederhanaan adalah kemuliaan, kesederhanaan baru bisa terwujud kala kita menyadari bahwa hidup di dunia hanyalah persinggahan dari perjalanan panjang manusia menuju Tuhan.
Wanita Lain (The Other Woman)
Setelah menikah selama dua puluh satu tahun akhirnya kutemukan cara untuk menjaga agar cahaya cinta tetap bersinar.
Beberapa waktu yang lalu, aku keluar bersama wanita yang lain dari biasanya. Gagasan itu justru dari istriku sendiri.
"Aku yakin kau akan mencintainya," kata istriku.
"Tapi aku mencintaimu," protesku.
"Aku tahu itu, tapi kau juga akan mencintainya."
Sebenarnya wanita yang dimaksud istriku tidak lain adalah ibuku sendiri yang telah menjanda selama 19 tahun. Tuntutan pekerjaan dan tiga anakku membuatku jarang mengunjunginya.
Malam itu aku menelepon untuk mengajaknya kencan makan malam dan nonton bioskop.
"Ada apa? Kau baik-baik saja, kan?" ibuku balik bertanya.
Ibuku termasuk tipe orang yang beranggapan bahwa telepon di larut malam dan undangan mendadak adalah pertanda berita buruk.
"Kupikir akan sangat menyenangkan melewatkan waktu bersama Ibu," jelasku. "Hanya kita berdua saja."
Dia berpikir sejenak lalu berkata, "Aku setuju dengan rencanamu itu."
Jumat itu, setelah kerja, aku meluncur ke rumahnya untuk menjemput. Aku sedikit gelisah. Sesampainya di sana, kuperhatikan dia juga agak salah tingkah. Dia memakai mantel, menunggu di depan pintu. Rambutnya dikeriting dan memakai baju yang dikenakannya di ulang tahun perkawinannya yang terakhir. Dia tersenyum dengan wajah seberseri
bidadari.
"Aku bercerita kepada teman-temanku bahwa aku kencan dengan anakku. Mereka terkesan," katanya sambil memasuki mobil. "Mereka tidak sabar menunggu cerita pertemuan kita ini."
Kami pergi ke restoran yang cukup baik dan nyaman. Ibuku menggandeng tanganku seakan-akan ia adalah istri seorang presiden. Setelah kami duduk, kubaca menu. Mata ibuku hanya bisa melihat tulisan yang tercetak dengan huruf besar.
Selama makan kuperhatikan ibu selalu menatapku. Senyuman nostalgia tersungging di bibirnya.
"Biasanya, aku yang selalu membacakan menu ketika kau masih kecil," kata ibu.
"Sekarang santailah, biar aku yang ganti membaca untuk membalas kebaikan ibu," jawabku.
Selama makan malam, kami terlibat dalam pembicaraan yg mengasyikkan. Tidak ada yang istimewa, hanya tentang kejadian-kejadian terakhir dalam kehidupan kami berdua. Kami bicara banyak sampai lupa acara nonton film. Kemudian aku mengantarnya pulang.
"Aku akan keluar lagi bersamamu, tapi atas undanganku," kata ibuku.
"Kalau kau setuju?"
Aku segera menyatakan persetujuanku.
Sesampainya di rumah, istriku bertanya, "Bagaimana acara makan malammu?"
"Sangat menyenangkan. Jauh lebih menyenangkan dari yang kubayangkan," jawabku.
Beberapa hari kemudian ibuku meninggal dunia karena serangan jantung. Kejadian itu begitu mendadak sehingga aku tidak sempat berbuat apa-apa.
Kemudian aku menerima amplop ibuku yang berisi kwitansi tanda lunas dari sebuah rumah makan yang rencananya akan kami kunjungi berdua. Amplop itu juga berisi secarik surat yang berbunyi:
"Telah kubayar lunas. Mungkin aku tidak bisa ke sana bersamamu, tapi aku tetap membayar untuk dua orang: untukmu dan istrimu. Kau takkan pernah tahu arti malam itu bagiku. Aku mencintaimu."
Saat itu aku baru menyadari betapa pentingnya mengucapkan: "Aku Mencintaimu" dan memberi orang yang kita cintai waktu yang layak diterimanya.
Dalam hidup ini tak ada yang lebih penting dari Tuhan dan keluargamu.
Luangkan waktu yang layak bagi mereka karena hal itu tak dapat ditunda sampai waktu lain.
Perbaiki Persahabatan Yang Retak
Kesalahanpahaman dapat menganggu dan memutuskan hubungan persahabatan sekalipun persahabatan telah terjalin kuat. Kita semua butuh teman. Teman menjadi orang yang dapat diajak bicara dikala kita punya masalah dengan pasangan, ketika kita memiliki masalah di tempat kerja atau bahkan masalah di rumah sendiri. Teman dapat membantu kita melewati masa-masa sulit, menawarkan kita nasehat, memberikan kenyaman dan mendukung disaat kita lagi dirundung kesedihan.
Tetapi memiliki teman yang saling mengerti tidaklah muda dan terkadang kita lupa sebuah persahabatan membutuhkan beberapa perhatian dan kalau tidak, persahabatan bisa memudar dan kadang persahabatan mengalami ketidakseimbangan. Misalnya, satu teman anda hanya bisa berbicara saja atau hanya ingin selalu diperhatikan, dan anda menemukan perasan tidak aman, marah atau terabaikan.
Jika anda tidak mampu mengatasi, perasaan ini dapat merusak dan mengancam persahabatan. Tumbuh menjadi kekecewaan dan suatu saat bisa meledak atau anda menghindari dan akhirnya anda akan kehilangan teman baik.
Berikut beberapa tips untuk membantu anda mengatur dan memperbaiki hubungan persahabatan yang retak:
Berbicara
Jika anda tidak senang dengan sesuatu yang seorang teman katakan atau lakukan, katakan padanya dengan jelas. Anda harus tahu bahwa reaksi atau kata-katanya memiliki pengaruh pada anda. Ia mungkin akan defensif ketika anda mengatakan tetapi ada juga kemungkinan hal itu menjadi pembuka mata bagi dirinya setidaknya mengerti ketidaksenangan.
Ketika anda bertengkar
Jika anda berargumen dengan teman sampai terjadi ketegangan, berikan waktu untuk mendinginkan suasana tetapi jangan terlalu lama sebelum anda mengusulkan untuk bertemu minum kopi, nonton film atau aktivitas lain misalnya.
Tetap berhubungan
Anda harus selalu berhubungan dengan teman jika anda ingin menjaga persahabatan tetap hidup. Dan berikut beberapa cara yang perlu dilakukan:
- Sering kirim e-mail pada teman-teman anda, sekalipun hanya sebuah catatan singkat lebih baik daripada tidak.
- Telepon dan chat minimal sekali seminggu. Percakapan yang singkat lebih baik dari pada tidak sama sekali.
- Pergi ke tempat senam, olahraga bersama-sama, atau pergi ke supermarket atau ke pusat kecantikan bersama-sama.
- Bertemu dan makan siang bersama atau setidaknya minum kopi minimal sekali dalam satu minggu.
Berpikir dan Bertindak Demi Hari Esok
Jika Anda lebih menginginkan keberhasilan, Anda dapat memilikinya. Masa depan Anda dapat menjadi lebih cerah daripada semua yang Anda inginkan. Karena cara berpikir Anda mencerminkan cara Anda bertindak. Dan cara Anda bertindak menentukan bagaimana masa depan yang akan terbentang di depan Anda.
(Vernon Howard).
Pada suatu hari Bahlul sedang berjalan-jalan di sebuah jalan di kota Basrah. Tiba-tiba, ia melihat anak-anak tengah bermain dengan buah kemiri dan pala. Namun, di sana ada seorang anak yang hanya menonton teman-temannya sambil menangis. Bahlul menghampirinya dan berkata dalam hati, "Anak ini bersedih karena tidak memiliki mainan seperti yang dimiliki oleh anak-anak yang lain." Kemudian Bahlul berkata kepadanya, "Anakku, mengapa kamu menangis? Maukah aku belikan buah kemiri dan pala, sehingga kamu dapat bermain dengan teman-temanmu?"
Anak itu menatap Bahlul, lalu menjawab: "Hai orang yang kurang cerdas, kita diciptakan bukan untuk bermain-main." "Lalu untuk apa kita diciptakan?" tanya Bahlul.
Anak kecil itu menjawab, "Untuk belajar dan beribadah." Bahlul bertanya lagi, "Dari mana kamu memperoleh jawaban itu? Kiranya Allah memberkatimu".
Dia menjawab, "Dari firman Allah dalam QS Al-Mu'minun ayat 116, Apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakanmu untuk bermain-main dan bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?"
Kisah antara Bahlul dan seorang anak itu, memberikan pelajaran bagi siapa pun. Bahwa manusia diciptakan untuk belajar dan beribadah. Demikian pula halnya dengan kehidupan berkeluarga. Kita tentu semata-mata harus membangunnya di atas dasar koridor belajar dan beribadah kepada Allah.
Betul, kalau setiap anak itu butuh bermain dalam hidupnya. Namun, tentu bermain yang mengandung dan mengarahkan si anak kepada proses belajar membangun aktivitas beribadah kepada Allah SWT. Apalagi, saat ini di sekitar kita begitu banyak tersebar aneka fasilitas dan informasi bermain yang ditawarkan pada anak-anak. Yang kadangkala kalau orang tua tidak hati-hati, permainan itu tidak islami dan bisa merusak akidah anak kita.
Di sinilah, barangkali perlunya peran serta dan kemampuan pola kebijakan orang tua dalam memilih teman bermain anak-anaknya. Dan sebenarnya, inti dari belajar itu adalah berpikir dan bertindak. Bukankah, perilaku yang diperbuat oleh tiap manusia, semata-mata diawali dari sebuah niat dan pola pikir dalam hati dan akalnya. Untuk itu, tiap orang tua dituntut agar niat dan akal anak-anaknya harus ditata dan dibina dengan baik agar melahirkan perbuatan yang dapat menjadi bekal dan penyelamat dalam menyongsong masa depannya.
Jadi, berpikir dan bertindak ini jelas-jelas akan menjadi kunci keberhasilan dari apa-apa yang kita inginkan, termasuk dalam pembentukan keluarga sakinah. Dalam hal ini, Vernon Howard mengungkapkan, jika Anda lebih menginginkan keberhasilan, Anda dapat memilikinya. Masa depan Anda dapat menjadi lebih cerah daripada semua yang Anda inginkan. Karena cara berpikir Anda mencerminkan cara Anda bertindak. Dan cara Anda bertindak menentukan bagaimana masa depan yang akan terbentang di depan Anda.
Untuk itu, bangunlah setiap saat pola pikir dan tindakan anak-anak kita sesuai etika dan perilaku islami. Karena menurut John Kehoe, melalui pengulangan, pikiran menjadi terpusat dan terarah serta kemampuannya dapat berlipat ganda setiap saat. Semakin sering diulang, semakin banyak tenaga dan kekuatan yang terkumpul dan semakin siap untuk diwujudkan.
Akhirnya, tidak ada jalan lain untuk menyongsong hari esok, selain setiap anggota keluarga Muslim harus betul-betul menyadari bahwa dalam hidup ini, kita harus memperhatikan bekal-bekal apa saja yang telah dipersiapkan dan diperbuat bagi kehidupan di hari esok. Allah berfirman, "dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)" (QS. Al-Hasyr: 18). Wallahu a'lam.
Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Cara Bikin Blog Cantik dan Dinamis
@ Kumpulan Tutorial Blog Lengkap
@ Kumpulan Dongeng Anak
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog
Pendidikan Anak: Apa Yang Dibutuhkan Anak Dari Orang Tua?
Apa Yang Dibutuhkan Anak Dari Orang Tua?
Salah satu ketakutan anak-anak saat ini dari orang tua mereka adalah menjadikan urusan anak sebagi pekerjaan temporer. Saat ini semakin jarang orang tua yang mau menghabiskan wakunya bersama-sama keluarga sebagai akibat kesibukan pekerjaan, misalnya.
Akibatnya kita seringkali terfokus pada perilaku anak-anak dan tidak pada perilaku yang kita miliki.Mengapa tidak melihat perilaku anda dari persfektif anak-anak? Dalam sebuah survei yang dilakukan terhadap 100.000 anak-anak, apa yang mereka paling inginkan dari orang tua mereka?
Berikut 10 jawaban yang dapat dijadikan evaluasi bagi para orang tua:
- Anak-anak ingin orang tua mereka tidak bertengkar didepan mereka
Anak-anak cenderung melakukan apa yang orang tuanya lakukan, tidak pada apa yang mereka katakan. Bagaimana anda mengatasi perbedaan ini? Apakah anda tidak setuju anak melihat pertengkaran anda menyerang oranglain atau mempertahankan diri sendiri? Hati-hati apabila orang tua melakukannya, kemudian anak-anak akan belajar bagaimana mengatur marah dan menyelesaikan konflik dengan cara yang orang tua contohkan.
- Anak-anak ingin orang tua memperlakukan setiap anggota keluarga sama
Memperlakukan anak sama bukan berarti memperlakukan mereka sama rata. Setiap anak memiliki keunikan dan masing-masing membutuhkan kasih sayang dan pengertian yang sama. Evaluasi hubungan orang tua dengan setiap anak.
- Orang tua yang jujur
Pernah anda para orang tua mengatakan sesuatu yang tidak jujur pada anak-anak? Orang tua mungkin tidak menyadari apa yang ia tengah contohkan pada anak-anaknya. Apakah orang tua mengatakan apa yang ia maksud adalah apa yang ia katakan?
- Orang tua yang toleran pada orang lain
Ketika orang tua toleran pada orang lain, anak-anak akan belajar sabar dengan siapa aja yang berbeda dengan mereka. Dalam cara apa orang memberi contoh toleransi pada anak?
- Orang tua yang ramah pada teman-teman mereka ketika berkunjung ke rumah
Jika pengelompokan terjadi di rumah, kemudian orang tua akan tahu dimana anak-anak berada. Pererat kebijakan pintu terbuka dan mengenal teman-teman mereka.
- Orang tua yang membangun semangat bersama dengan anak-anak
Ketika anak-anak masuk dalam usia remaja, orang tua yang memperat semangat bersama akan memiliki pengaruh lebih besar pada anak mereka.
- Orang tua yang mau menjawab pertanyaan anak
Pernahkah orang tua merasa bersalah ketika mengatakan, "sekarang ayah/ibu sibuk, kita bicaranya nanti saja." Kemudian nanti juga tidak pernah. Sisihkan waktu untuk menjawab pertanyaan anak dan ketika orang tua tidak mengetahui jawaban, akui dan menawarkan untuk mencari jawabannya.
- Orang tua yang menanamkan disiplin ketika dibutuhkan tetapi tidak dihadapan orang lain
Jangan menanamkan disiplin dihadapan orang lain terutama teman-temannya. Anak-anak menginginkan batasan tetapi jorang tua harus tahu kepan dan dimana menanamkan disiplin.
- Orang tua yang konsentrasi pada hal yang baik alih-alih sesuatu yang lemah
Lihat anak-anak sebagai puzzle potongan gambar yang tidak komplit dan konsentrasi pada membangun menjadi gambar yang indah alih-alih menghilangakn potongan gambar tersebut. Buat daftar kelebihan-kelibihan anak anda dan cari waktu yang tepat untuk menunjukkanya pada mereka.
- Orang tua yang konsisten
Orang tua seringkali tidak konsisten tetapi berusahalah untuk konsisten. Keadaan tidak konsisten dapat merusak anak-anak. Anak-anak harus tahu cinta dan batasan anda konsisten sehingga akan muncul rasa percaya pada orang tua.
Nakalnya Anak - Anak
Suatu hari seisi rumah dikejutkan oleh suara teriakan nyaring dari mulut seorang anak yg paling kecil di rumah itu
Anak : "aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.."teriaknya yg tanpa dosa sudah membuat onar seisi rumah
Mama : "ade..! kenapa kamu teriak-teriak..?!" tegur mama yg sudah berlari ke luar dari kamar ingin melihat ada apa dengan buah hatinya.
Anak : "Ade teriak pake mulut ade sendiri, ade enggak pinjam mulut mama..?!" bantahnya sambil memonyongkan mulut kecilnya
Mama : "ooohh..gitu..?ya sudah..kamu teriak lagi yg keras, tapi awas..?!mama nda mau suara kerasmu itu masuk ketelinga mama..?! gangguin telinga mama aja..?!" mulai mama berargumen dengan anaknya yg selalu cari perhatian
Anak : " mama punya tangan..?!tutup aja telinga mama sama tangan mama sendiri, kalau enggak mau denger teriakan ade..?!" mulai anak mencari gara2
Mama : "Enak aja..kamu buat kerjaan mama lagi ya..?kamu nda lihat..tangan mama lagi dipake nulis sama mama..?atau kamu yg tutupin telinga mama sama tangan kamu, karena kamu yg pingin teriak kan..?tapi awas..kalau sampai teriakan kamu masih masuk ke telinga mama..?!" jawab mama mulai masuk ke logika anaknya dan langsung buat anak terdiam
--------------------
Hampir tiap hari sang mama selalu mendengar cerita2 dari sekolah anak2nya
Anak : "Ma..kayanya pak Ramli guruku itu banci dech ma..?" cerita anaknya yg tertua
Mama : "Emang..kamu tahu dari mana kalau pak Ramli itu banci..?" Tanya mama sambil merhatiin wajah anaknya dgn menyelidik
Anak : "hmm..itu mah..kalau lagi ngomong..tangannya pasti begini-begitu dech..?" ceritanya lagi sambil menirukan gaya banci yg biasa dilihat di TV
Mama : "ooohh..emang kalau banci.tangannya begini-begini ya..?" jawab mama sambil mengikuti gaya anak sebelumnya
Anak : "hehehe..enggak juga sich..ma..?tapi aneh aja lihat gayanya kaya tessy..?" jawab anak sambil tersenyum2 merhatiin mamanya yg sudah melotot
Mama : "lagi pula..kalau pak ramli banci, apa dia rugiin kamu..?" Tanya mama yg mulai berargumen sama anaknya yg besar
Anak : "nda sich ma..?" jawab anak yg mulai tertunduk sambil menahan senyum2
Mama : "masih mending pak ramli..walau disangka banci, dia masih bisa jadi guru..?lha kamu apa..?" Tanya mama lagi dan membuat anak terdiam
--------------------
Tiba2 mama dikejutkan oleh anaknya yg lari masuk kamar memanggil mamanya
Anak : "mama..beliin ade mainan di tukang mainan itu dong..?!" rengek anaknya yg kecil
Mama : "hari ini mama nda punya uang lebih untuk beliin mainan baru..nanti aja kalau mama sudah punya uang lebih ya..?" jawab mama sambil perhatikan anaknya yg suka protes
Anak : "pokoknya ade enggak mau tahu..?!ade mau mainan itu sekarang..!!" rengek anak lagi yg mulai dengan senjata tangisannya
Mama : "ya..udah beli aja sana..?" jawab mama santai
Anak : "mana uangnya, cepet ma..nanti abangnya keburu pergi..?!" pinta anak yg sudah mulai menarik baju mamanya
Mama : "Lho..emang yg mau beli mainan itu sekarang siapa..?" Tanya mama santai
Anak : "ya..ade lah.."
Mama : "ya..udah pake uang ade dong..?kan yg mau mainan ade dan bukan mama..?"
Anak : "ade kan enggak punya uang..?!pake uang mama dong..?!" jawab anak polos
Mama : "hehe..sama dong..?!mama juga nda punya uang sekarang..?kalau mau pake uang mama..tunggu sampe mama punya uang lagi ya..?" jawab mama sambil senyum2..
Anak : "mama jelek.!!" Protes anak yg memancing mama untuk menggodanya
Mama : "jelekkan ade dong..?kan ade keluar dari perut mama campur sama kotoran..?" goda mama yg melihat anaknya kesal
Anak : "jelek mama dari nenek..?! mama juga keluar dari perut nenek campur sama kotoran.?!" Teriak anak yg mulai kesal dan hanya membuat mamanya tersenyum2 sendiri
Mama : "yeee..mama kan nda katain nenek jelek..?" jawab mama sambil tertawa2 melihat anaknya yg mulai bingung
--------------------
Spt biasa pulang sekolah, pasti ada aja cerita yg disampaikan oleh anaknya yg tertua
Anak : "ma..aku kesal banget sama sherly tadi..?" cerita anak yg terlihat sekali wajah kesalnya
Mama : "hmm..memang si sherly buat apa sama kamu..?" Tanya mama datar
Anak : "tadi si sherly lempar uang untuk pengemis ke comberan..?!mentang2 dia pengemis, emang boleh apa lempar uang begitu..?!mending enggak usah ikasih aja kalau dilempar begitu..?!" kesal anak yg terlihat hampir
menangis.
Mama : "lalu..kamu bilang apa sama sherly..?" Tanya mama yg mulai merhatiin wajah anaknya yg mulai ingin menangis
Anak : "aku bilang..sherly kenapa kamu lempar uang itu ke comberan..?! terus jawab sherly..biarin aja, toch.dia Cuma pengemis..?" cerita anak yg akhirnya menangis
Mama : "terus.." Tanya mama yg serius merhatiin anaknya cerita
Anak : "akhirnya uang jajanku aku kasih ke sherly untuk gantiin uang yg dikasih ke pengemis itu..kasihan pengemis itu ma..dia turun ke comberan ambil uang itu..? aku bilang ke sherly..ini uangnya aku gantiin, baru kasih segitu aja pake dilempar..?!" cerita anak sambil terisak karena tangis
Mama : "hmm..harusnya kamu larang pengemis itu untuk ambil uang yg dicomberan, dan uang kamu itu yg kamu kasihkan ke pengemis dan biarkan si sherly yg ambil uang itu ke comberan..?" usul mama sambil menghapus air mata anaknya
Anak : "aku lupa ma..?" isak anak yg menyesali dirinya dan wajahnya sudah dipenuhi oleh air matanya
--------------------
Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Cara Bikin Blog Cantik dan Dinamis
@ Kumpulan Tutorial Blog Lengkap
@ Kumpulan Dongeng Anak
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog
Salah satu ketakutan anak-anak saat ini dari orang tua mereka adalah menjadikan urusan anak sebagi pekerjaan temporer. Saat ini semakin jarang orang tua yang mau menghabiskan wakunya bersama-sama keluarga sebagai akibat kesibukan pekerjaan, misalnya.
Akibatnya kita seringkali terfokus pada perilaku anak-anak dan tidak pada perilaku yang kita miliki.Mengapa tidak melihat perilaku anda dari persfektif anak-anak? Dalam sebuah survei yang dilakukan terhadap 100.000 anak-anak, apa yang mereka paling inginkan dari orang tua mereka?
Berikut 10 jawaban yang dapat dijadikan evaluasi bagi para orang tua:
- Anak-anak ingin orang tua mereka tidak bertengkar didepan mereka
Anak-anak cenderung melakukan apa yang orang tuanya lakukan, tidak pada apa yang mereka katakan. Bagaimana anda mengatasi perbedaan ini? Apakah anda tidak setuju anak melihat pertengkaran anda menyerang oranglain atau mempertahankan diri sendiri? Hati-hati apabila orang tua melakukannya, kemudian anak-anak akan belajar bagaimana mengatur marah dan menyelesaikan konflik dengan cara yang orang tua contohkan.
- Anak-anak ingin orang tua memperlakukan setiap anggota keluarga sama
Memperlakukan anak sama bukan berarti memperlakukan mereka sama rata. Setiap anak memiliki keunikan dan masing-masing membutuhkan kasih sayang dan pengertian yang sama. Evaluasi hubungan orang tua dengan setiap anak.
- Orang tua yang jujur
Pernah anda para orang tua mengatakan sesuatu yang tidak jujur pada anak-anak? Orang tua mungkin tidak menyadari apa yang ia tengah contohkan pada anak-anaknya. Apakah orang tua mengatakan apa yang ia maksud adalah apa yang ia katakan?
- Orang tua yang toleran pada orang lain
Ketika orang tua toleran pada orang lain, anak-anak akan belajar sabar dengan siapa aja yang berbeda dengan mereka. Dalam cara apa orang memberi contoh toleransi pada anak?
- Orang tua yang ramah pada teman-teman mereka ketika berkunjung ke rumah
Jika pengelompokan terjadi di rumah, kemudian orang tua akan tahu dimana anak-anak berada. Pererat kebijakan pintu terbuka dan mengenal teman-teman mereka.
- Orang tua yang membangun semangat bersama dengan anak-anak
Ketika anak-anak masuk dalam usia remaja, orang tua yang memperat semangat bersama akan memiliki pengaruh lebih besar pada anak mereka.
- Orang tua yang mau menjawab pertanyaan anak
Pernahkah orang tua merasa bersalah ketika mengatakan, "sekarang ayah/ibu sibuk, kita bicaranya nanti saja." Kemudian nanti juga tidak pernah. Sisihkan waktu untuk menjawab pertanyaan anak dan ketika orang tua tidak mengetahui jawaban, akui dan menawarkan untuk mencari jawabannya.
- Orang tua yang menanamkan disiplin ketika dibutuhkan tetapi tidak dihadapan orang lain
Jangan menanamkan disiplin dihadapan orang lain terutama teman-temannya. Anak-anak menginginkan batasan tetapi jorang tua harus tahu kepan dan dimana menanamkan disiplin.
- Orang tua yang konsentrasi pada hal yang baik alih-alih sesuatu yang lemah
Lihat anak-anak sebagai puzzle potongan gambar yang tidak komplit dan konsentrasi pada membangun menjadi gambar yang indah alih-alih menghilangakn potongan gambar tersebut. Buat daftar kelebihan-kelibihan anak anda dan cari waktu yang tepat untuk menunjukkanya pada mereka.
- Orang tua yang konsisten
Orang tua seringkali tidak konsisten tetapi berusahalah untuk konsisten. Keadaan tidak konsisten dapat merusak anak-anak. Anak-anak harus tahu cinta dan batasan anda konsisten sehingga akan muncul rasa percaya pada orang tua.
Nakalnya Anak - Anak
Suatu hari seisi rumah dikejutkan oleh suara teriakan nyaring dari mulut seorang anak yg paling kecil di rumah itu
Anak : "aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.."teriaknya yg tanpa dosa sudah membuat onar seisi rumah
Mama : "ade..! kenapa kamu teriak-teriak..?!" tegur mama yg sudah berlari ke luar dari kamar ingin melihat ada apa dengan buah hatinya.
Anak : "Ade teriak pake mulut ade sendiri, ade enggak pinjam mulut mama..?!" bantahnya sambil memonyongkan mulut kecilnya
Mama : "ooohh..gitu..?ya sudah..kamu teriak lagi yg keras, tapi awas..?!mama nda mau suara kerasmu itu masuk ketelinga mama..?! gangguin telinga mama aja..?!" mulai mama berargumen dengan anaknya yg selalu cari perhatian
Anak : " mama punya tangan..?!tutup aja telinga mama sama tangan mama sendiri, kalau enggak mau denger teriakan ade..?!" mulai anak mencari gara2
Mama : "Enak aja..kamu buat kerjaan mama lagi ya..?kamu nda lihat..tangan mama lagi dipake nulis sama mama..?atau kamu yg tutupin telinga mama sama tangan kamu, karena kamu yg pingin teriak kan..?tapi awas..kalau sampai teriakan kamu masih masuk ke telinga mama..?!" jawab mama mulai masuk ke logika anaknya dan langsung buat anak terdiam
--------------------
Hampir tiap hari sang mama selalu mendengar cerita2 dari sekolah anak2nya
Anak : "Ma..kayanya pak Ramli guruku itu banci dech ma..?" cerita anaknya yg tertua
Mama : "Emang..kamu tahu dari mana kalau pak Ramli itu banci..?" Tanya mama sambil merhatiin wajah anaknya dgn menyelidik
Anak : "hmm..itu mah..kalau lagi ngomong..tangannya pasti begini-begitu dech..?" ceritanya lagi sambil menirukan gaya banci yg biasa dilihat di TV
Mama : "ooohh..emang kalau banci.tangannya begini-begini ya..?" jawab mama sambil mengikuti gaya anak sebelumnya
Anak : "hehehe..enggak juga sich..ma..?tapi aneh aja lihat gayanya kaya tessy..?" jawab anak sambil tersenyum2 merhatiin mamanya yg sudah melotot
Mama : "lagi pula..kalau pak ramli banci, apa dia rugiin kamu..?" Tanya mama yg mulai berargumen sama anaknya yg besar
Anak : "nda sich ma..?" jawab anak yg mulai tertunduk sambil menahan senyum2
Mama : "masih mending pak ramli..walau disangka banci, dia masih bisa jadi guru..?lha kamu apa..?" Tanya mama lagi dan membuat anak terdiam
--------------------
Tiba2 mama dikejutkan oleh anaknya yg lari masuk kamar memanggil mamanya
Anak : "mama..beliin ade mainan di tukang mainan itu dong..?!" rengek anaknya yg kecil
Mama : "hari ini mama nda punya uang lebih untuk beliin mainan baru..nanti aja kalau mama sudah punya uang lebih ya..?" jawab mama sambil perhatikan anaknya yg suka protes
Anak : "pokoknya ade enggak mau tahu..?!ade mau mainan itu sekarang..!!" rengek anak lagi yg mulai dengan senjata tangisannya
Mama : "ya..udah beli aja sana..?" jawab mama santai
Anak : "mana uangnya, cepet ma..nanti abangnya keburu pergi..?!" pinta anak yg sudah mulai menarik baju mamanya
Mama : "Lho..emang yg mau beli mainan itu sekarang siapa..?" Tanya mama santai
Anak : "ya..ade lah.."
Mama : "ya..udah pake uang ade dong..?kan yg mau mainan ade dan bukan mama..?"
Anak : "ade kan enggak punya uang..?!pake uang mama dong..?!" jawab anak polos
Mama : "hehe..sama dong..?!mama juga nda punya uang sekarang..?kalau mau pake uang mama..tunggu sampe mama punya uang lagi ya..?" jawab mama sambil senyum2..
Anak : "mama jelek.!!" Protes anak yg memancing mama untuk menggodanya
Mama : "jelekkan ade dong..?kan ade keluar dari perut mama campur sama kotoran..?" goda mama yg melihat anaknya kesal
Anak : "jelek mama dari nenek..?! mama juga keluar dari perut nenek campur sama kotoran.?!" Teriak anak yg mulai kesal dan hanya membuat mamanya tersenyum2 sendiri
Mama : "yeee..mama kan nda katain nenek jelek..?" jawab mama sambil tertawa2 melihat anaknya yg mulai bingung
--------------------
Spt biasa pulang sekolah, pasti ada aja cerita yg disampaikan oleh anaknya yg tertua
Anak : "ma..aku kesal banget sama sherly tadi..?" cerita anak yg terlihat sekali wajah kesalnya
Mama : "hmm..memang si sherly buat apa sama kamu..?" Tanya mama datar
Anak : "tadi si sherly lempar uang untuk pengemis ke comberan..?!mentang2 dia pengemis, emang boleh apa lempar uang begitu..?!mending enggak usah ikasih aja kalau dilempar begitu..?!" kesal anak yg terlihat hampir
menangis.
Mama : "lalu..kamu bilang apa sama sherly..?" Tanya mama yg mulai merhatiin wajah anaknya yg mulai ingin menangis
Anak : "aku bilang..sherly kenapa kamu lempar uang itu ke comberan..?! terus jawab sherly..biarin aja, toch.dia Cuma pengemis..?" cerita anak yg akhirnya menangis
Mama : "terus.." Tanya mama yg serius merhatiin anaknya cerita
Anak : "akhirnya uang jajanku aku kasih ke sherly untuk gantiin uang yg dikasih ke pengemis itu..kasihan pengemis itu ma..dia turun ke comberan ambil uang itu..? aku bilang ke sherly..ini uangnya aku gantiin, baru kasih segitu aja pake dilempar..?!" cerita anak sambil terisak karena tangis
Mama : "hmm..harusnya kamu larang pengemis itu untuk ambil uang yg dicomberan, dan uang kamu itu yg kamu kasihkan ke pengemis dan biarkan si sherly yg ambil uang itu ke comberan..?" usul mama sambil menghapus air mata anaknya
Anak : "aku lupa ma..?" isak anak yg menyesali dirinya dan wajahnya sudah dipenuhi oleh air matanya
--------------------
Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Cara Bikin Blog Cantik dan Dinamis
@ Kumpulan Tutorial Blog Lengkap
@ Kumpulan Dongeng Anak
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog
Fartheless Country, Peran Seorang Bapak dalam Keluarga

“Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada ayah yang menolong anaknya untuk berbakti kepadaNya”. (H.R. Abu Syaih dalam ats Tsawab)
Saya barusan membaca sebuah artikel di majalah Wanita edisi terbaru yang membahas tentang peran seorang ayah. Disebutkan dalam artikel tersebut bahwa masyarakat kita sudah bukan rahasia lagi menganut pepatah “ ayah bekerja dan ibu di rumah”. Ini artinya peran ayah sebagai pencari nafkah sedang ibu di rumah mengasuh anak.
Fenonema ini menjadikan anak tidak banyak merasakan peran seorang ayah atau ‘Ayah ada, tapi tiada”. Ini sering disebut sebagai pola pengasuhan dominan keibuan. Di mana seorang anak dari mulali bangun tidur hingga tertidur kembali lebih banyak bersama ibunya. Bahkan Indonesia mendapat julukan Negara tak berayah (fartheless country). Memprihatinkan ya...
Ketika anak bangun dari tidur yang pertama kali dicari adalah ibu. Ketika anak mengalami kesulitan didalam pelajaran yang diharapkan bantuan untuk pertama adalah ibu. Ketika anak sakit yang mendekap hangat adalah ibu. Ketika hendak tidur nyanyian ibu jugalah yang mengiringi kealam mimpinya?
Di mana peran ayah ketika anak-anak sedang membutuhkan? Kapan ayah ada waktu mendampingi anak menyelesaikan pekerjaan rumah? Pernahkah ayah menelon sekedar mengucap ‘I love u atau ayah kangen kamu kepada buah hati tercinta? Saya sibuk , saya cape banting tulang mencari nafkah untuk keluarga. Saya perlu istirahat di rumah. Itu jawaban yang banyak saya dengar dari peneropongan saya. Tidak salah dan saya juga sedang tak ingin menyalahkan para ayah. Karena ini realita yang banyak terjadi di masyarakat.
Tulisan ini tidak ingin memojokkan peran ayah. Saya juga tidak ingin menghakimi seorang ayah. Tapi dari selintas pengamatan dan hasil peneropongan hasil ngobrol ngalor ngidul sesama kaumku..peran ayah memang lebih dominan sekedar memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.
Berangkat pagi pulang sore hari. Giliran lepas dari rutinitas kerja, ayah nampak bingung memanfaatkan waktu berharganya bersama buah hati. Alhasil tak ada interaksi. Waktu di rumahpun lebih banyak untuk hobi / kesenangan pribadinya Untuk ngotak-ngatik motor / mobil, sibuk hewan piaraan Atau ayah sibuk membaca Koran , buku. atau dihabiskan di depan televisi. Sementara anak juga asyik dengan aktivitasnya sendiri.
Dampak tidak optimalnya peran ayah mulai banyak kita rasakan. Contoh banyaknya anak-anak kita yang terjerat pergaulan bebas, terjerat narkoba dan jarum-jarum neraka dll. Fenomena kekerasan yang terjadi pada anak mungkin juga terjadi karena kelengahan seorang ayah. Penyiksaan dan penganiayaan yang dilakukan oleh ibu kandung terhadap anak yang terjadi di ibu kota pekan yang lalu yang ramai di beritakan di televisi, tokoh suami atau sang sang ayah luput dari perhatian.
Ya, di mana peran ayah, hingga seorang ibu kandung tega menganiaya balitanya yang masih berusia 5 bulan hingga tulang di sekujur tubuhnya remuk? Di mana peran ayah ketika seorang ibu kandung menganiaya dua anaknya yang masih balita? Di mana peran ayah hingga dia tega bersama istrinya pergi menelantarkan buah hatinya? Where have their Farthers gone?
Akibat tuntutan dan persaingan ekonomi pergeseran paradigma parenting menjadi motherhood sepertinya tidak bisa dihindarkan, “ Untuk memenuhi kebutuhan spiritual dan pendidikan Al-Qur’an kepada anak, yang semestinya menjadi tugas ayah dilemparkan ke TPA”. Para ayah mungkin lupa atau bahkan tidak tahu kelak di akhirat Allah SWT akan menghisab anak berdasarkan nasab. Kelak Allah akan bertanya pada setiap ayah, apa yang telah mereka lakukan pada anaknya. Wallahu a’lam Bish-Shawab..
Semoga manfaat..
Orang-orang besar di dunia bukanlah orang-orang yang berasal dari sekolah hebat, tapi berasal dari keluarga-keluarga hebat!
Sumber: www.griya-anita.blogspot.com
Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Cara Bikin Blog Cantik dan Dinamis
@ Kumpulan Tutorial Blog Lengkap
@ Kumpulan Dongeng Anak
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog








