Aneka Perlengkapan Sholat

Izzah Store menjual aneka Perlengkapan Sholat, seperti Mukena, Sajadah, Sarung, Peci, dll tersedia untuk anak dan dewasa

Aneka Parfum Alrehab

Izzah Store menjual parfum Alrehab original Jeddah Arab Saudi dengan berbagai varian aroma, seperti Soft, Lovely, Dalal, Fruit, Kholiji, Blanc, Sabaya, Aseel, Tooty Musk, dll

Aneka Pelengkapan Sholat untuk Anak

Izzah Store menjual aneka Perlengkapan Sholat, seperti Mukena, Sajadah, Sarung, Peci, dll tersedia untuk anak dan dewasa

Mari Membaca Alquran

Mari kita membaca Alquran, karena di Hari Kiamat nanti Alquran akan memberi syafaat kepada siapa saja yang gemar membacanya apalagi menghafalnya. Bacalah secara tartil dan perlahan-lahan. Jangan lewatkan hari-hari anda tanpa membaca Alquran..

Kumpulan Dongeng Anak

Anda hobi membaca dongeng-dongeng anak, di sini anda akan menemukannya. Mulai dari dongeng si kancil, si belalang, si kerbau, si kambing dan sebagainya. Cobalah dongengkan kepada buah hati anda menjelang tidur agar anak menjadi cerdas dan pandai bertutur.

Kumpulan Cerita Pendek

Anda penggemar Cerita Pendek atau Cerita panjang, di sini disajikan beberapa cerita islami yang sarat dengan pelajaran kehidupan. Cerita yang kadang memberi inspirasi kita dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.

Kisah Humor para Sufi

Anda kenal tokoh-tokoh sufi zaman dulu, di sini kami sajikan banyak sekali kisah-kisah lucu dan cerdik tokoh sufi dari Zaman dulu itu. Kisah kocak yang kadang menyindir diri kita yang membacanya.

Kisah Abu Nawas

Anda kenal Abunawas atau Nasrudin Hoja, di sini kami sajikan banyak sekali kisah-kisah lucu dan cerdik tokoh dari Zaman dulu itu. Kisah kocak yang kadang menyindir diri kita yang membacanya.

Cintailah Allah Melebihi Segalanya

Seberapa besar cinta kita kepada Allah, silakan tanya pada diri sendiri. Kita kadang lebih menghargai atasan kita daripada mendahulukan Allah. Sholat kadang ditunda ketika kita diundang oleh boss kita. Sholat kadang ditinggalkan karena asyik nonton Final Sepak Bola di televisi.

Aneka Sirwal dan baju gamis

Izzah Store Menjual aneka Sirwal dan gamis serta Jubah seperti Atasan Pakistan, Jubah Arab, Gamis Yaman, dll Juga Menyediakan baju Koko

Aneka Accessories

Izzah Store Menjual aneka Acessories seperti Sabuk Bonceng Anak, Sepatu Boots, Sorban, Siwak, dll

Aneka Gamis Pakistan dan Jubah Arab

Izzah Store Menjual aneka gamis dan Jubah seperti Atasan Pakistan, Jubah Arab, Gamis Yaman, dll Juga Menyediakan baju Koko

Aneka Sirwal, Celana Pangsi dan Cingkrang

Izzah Store Menjual aneka celana sirwal dan baju pangsi khas Sunda. Ada Sirwal biasa, Sirwal Loreng, Sirwal Boxer, Sirwal 3/4, dll

Keranda Kendaraan Masa Depan

Inilah yang namanya KERANDA yaitu kendaraan istimewa tanpa bensin (karena harganya selalu naik) yang. akan membawa kita ke tempat peristirahatan terakhir. Kendaraan sederhana tanpa AC, tanpa Pemutar Musik, dan akan berjalan dengan digotong kerabat kita.

Mari Mengingat Kematian

Berapapun lamanya kita hidup di dunia suatu saat nanti pasti akan berakhir. Dan akhir dari kehidupan dunia adalah datangnya kematian. Suka atau tidak suka kita akan tetap menemuinya. Oleh karena itu ingatlah selalu akan pemutus kenikmatan dunia yaitu MATI.

Kultum: Jangan Pernah Tinggalkan Shalat !!!!!

Suatu siang saat aku hendak menunaikan shalat dzuhur di mesjid yang berlokasi di pasar tempat usaha yang dikelola istriku, aku melihat seorang pedagang mainan anak yang sedang tidur lelap di beranda mesjid. Saking lelapnya, ia tidak mengetahui bahwa sepeda yang digunakannya untuk menjajakan barang dagangannya roboh diterpa angin yang hari itu bertiup cukup kencang.

Sejenak aku merasa iba pada keaadaan bapak yang terlihat sangat lelah dan lusuh itu. Betapa, untuk mengais rezeki yang hendak ia gunakan untuk menafkahi keluarganya, ia harus menguras tenaganya dengan mengayuh sepeda tua ke sana ke mari untuk mencari pembeli. Sungguh tidak terbayangkan jika aku harus menjalani usaha dengan cara seperti itu.

Akan tetapi, hatiku menjadi miris manakala aku mengetahui bahwa bapak pedagang mainan itu mampir ke mesjid hanya untuk melepaskan rasa lelah. Begitu bangun, ia segera berlalu tanpa menunaikan shalat dzuhur terlebih dahulu.

Sungguh sedih rasanya melihat fenomena seperti itu. Banyak sekali umat islam semacam bapak pedagang mainan itu yang mau bersusah payah untuk mencari rezeki walaupun menurut hitungan matematis tidak juga membuat ia dapat hidup dengan layak tetapi dengan mudahnya meninggalkan shalat.

Pantas saja Imam Al Ghazali berpendapat bahwa hal yang paling ringan di dunia adalah meninggalkan shalat seperti terlihat dalam kutipan percakapan beliau dengan muridnya yang pernah dimuat dalam postingan sebelumnya (link). Kutipan percakapan tersebut bunyinya kurang lebih sebagai berikut.
Imam Ghazali = “Apa yang paling ringan di dunia ini ?”
Murid 1 = ” Kapas”
Murid 2 = ” Angin “
Murid 3 = ” Debu “
Murid 4 = ” Daun-daun”
Imam Ghazali = ”Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali di dunia ini adalah MENINGGALKAN SHALAT. Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan shalat “

Mungkin zaman sekarang sudah dipenuhi generasi yang suka menyia-nyiakan shalat seperti yang difirmankan ALLAH SWT dalam QS. Maryam: 58-60.
"Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi dari keturunan Adam, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.

Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan. Kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun."


Ibnu Katsir menjelaskan, generasi “adhoo’ush sholaat” yang dijelaskan dalam ayat di atas adalah orang yang jauh dari agama. Untuk urusan shalat saja mereka sudah menyia-nyiakan, apalagi untuk kewajiban-kewajiban lainnya. Karena shalat itu merupakan tiang agama dan pilarnya serta sebaik-baik perbuatan seorang hamba, maka pastilah kualitas beragama orang yang menyia-nyiakan shalat pastilah sangat rendah.

Tambah lagi (keburukan mereka) dengan mengikuti syahwat dunia dan kelezatannya, senang dengan kehidupan dan kenikmatan dunia, maka pastilah mereka itu akan menemui kesesatan yang artinya mereka pasti akan menemukan kerugian di hari qiyamat.
Orang yang meninggalkan shalat itu sangatlah merugi. Bahkan status keimanan seseorang sangat diragukan sebagaimana tercermin dalam hadits :

“(Perbedaan) antara hamba dan kemusyrikan itu adalah meninggalkan sholat.” (HR Muslim dalam kitab Shohihnya nomor 82 dari hadits Jabir).

Dalam QS. Maryam: 58-60 di atas diceritakan mengenai orang-orang saleh, terpilih, dan nabi-nabi yang sangat patuh kepada Allah SWT. Ketaatan itu ditunjukkan dengan cara mereka bersujud dan menangis ketika dibacakan ayat-ayat Allah. Namun dalam ayat selanjutnya, Allah SWT memberitakan bahwa setelah generasi itu datanglah generasi pengganti yang memiliki sifat-sifat yang jauh berbeda dengan sifat generasi pendahulunya, yakni suka menyia-nyiakan shalat dan mengumbar hawa nafsu.

Dari penjelasan di atas dapat kita lihat bahwa peringatan Allah SWT terhadap orang yang meninggalkan shalat itu sangatlah keras. Oleh karena itu marilah kita menjaga diri kita untuk menunaikan ibadah shalat secara kontinyu.

Jangan lagi menganggap shalat sebagai urusan yang remeh sebagaimana kita saksikan para selebritis di TV yang dengan entengnya mengatakan bahwa dirinya mengerjalan shalat tapi shalatnya masih bolong-bolong tanpa merasa takut sedikitpun bahwa perilakunya yang kadang-kadang meninggalkan shalat adalah bentuk menyia-nyiakan shalat. Jangan lupa pula ingatkan orang-orang di sekitar kita, terutama keluarga, sahabat, karyawan dan lain sebagainya untuk menunaikan shalat.

Media Dakwah

Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Cara Bikin Blog Cantik dan Dinamis
@ Kumpulan Tutorial Blog Lengkap
@ Kumpulan Dongeng Anak
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog

Kultum: Ketika Iblis Membentangkan Sajadah

Siang menjelang dzuhur. Salah satu Iblis ada di Masjid. Kebetulan hari itu Jum'at, saat berkumpulnya orang. Iblis sudah ada dalam Masjid. Ia tampak begitu khusyuk. Orang mulai berdatangan. Iblis menjelma menjadi ratusan bentuk & masuk dari segala penjuru, lewat jendela, pintu, ventilasi, atau masuk lewat lubang pembuangan air.

Pada setiap orang, Iblis juga masuk lewat telinga, ke dalam syaraf mata, ke dalam urat nadi, lalu menggerakkan denyut jantung setiap para jamaah yang hadir. Iblis juga menempel di setiap sajadah. "Hai, Blis!", panggil Kiai, ketika baru masuk ke Masjid itu. Iblis merasa terusik : "Kau kerjakan saja tugasmu, Kiai. Tidak perlu kau larang-larang saya. Ini hak saya untuk menganggu setiap orang dalam Masjid ini!", jawab Iblis ketus.

"Ini rumah Tuhan, Blis! Tempat yang suci,Kalau kau mau ganggu, kau bisa diluar nanti!", Kiai mencoba mengusir.
"Kiai, hari ini, adalah hari uji coba sistem baru". Kiai tercenung. "Saya sedang menerapkan cara baru, untuk menjerat kaummu". "Dengan apa?"
"Dengan sajadah!"
"Apa yang bisa kau lakukan dengan sajadah, Blis?"
"Pertama, saya akan masuk ke setiap pemilik saham industri sajadah. Mereka akan saya jebak dengan mimpi untung besar. Sehingga, mereka akan tega memeras buruh untuk bekerja dengan upah di bawah UMR, demi keuntungan besar!"

"Ah, itu kan memang cara lama yang sering kau pakai. Tidak ada yang baru,Blis?"
"Bukan itu saja Kiai..."
"Lalu?"
"Saya juga akan masuk pada setiap desainer sajadah. Saya akan menumbuhkan gagasan, agar para desainer itu membuat sajadah yang lebar-lebar"
"Untuk apa?"
"Supaya, saya lebih berpeluang untuk menanamkan rasa egois di setiap kaum yang Kau pimpin, Kiai! Selain itu, Saya akan lebih leluasa, masuk dalam barisan sholat. Dengan sajadah yang lebar maka barisan shaf akan renggang. Dan saya ada dalam kerenganggan itu. Di situ Saya bisa ikut membentangkan sajadah".

Dialog Iblis dan Kiai sesaat terputus. Dua orang datang, dan keduanya membentangkan sajadah. Keduanya berdampingan. Salah satunya, memiliki sajadah yang lebar. Sementara, satu lagi, sajadahnya lebih kecil. Orang yang punya sajadah lebar seenaknya saja membentangkan sajadahnya, tanpa melihat kanan-kirinya. Sementara, orang yang punya sajadah lebih kecil, tidak enak hati jika harus mendesak jamaah lain yang sudah lebih dulu datang. Tanpa berpikir panjang, pemilik sajadah kecil membentangkan saja sajadahnya, sehingga sebagian sajadah yang lebar tertutupi sepertiganya.
Keduanya masih melakukan sholat sunnah.
"Nah, lihat itu Kiai!", Iblis memulai dialog lagi.
"Yang mana?"
"Ada dua orang yang sedang sholat sunnah itu. Mereka punya sajadah yang berbeda ukuran. Lihat sekarang, aku akan masuk diantara mereka".

Iblis lenyap.
Ia sudah masuk ke dalam barisan shaf.
Kiai hanya memperhatikan kedua orang yang sedang melakukan sholat sunah. Kiai akan melihat kebenaran rencana yang dikatakan Iblis sebelumnya. Pemilik sajadah lebar, rukuk. Kemudian sujud. Tetapi, sembari bangun dari sujud, ia membuka sajadahya yang tertumpuk, lalu meletakkan sajadahnya di atas sajadah yang kecil. Hingga sajadah yang kecil kembali berada di bawahnya. Ia kemudian berdiri. Sementara, pemilik sajadah yang lebih kecil, melakukan hal serupa.

Ia juga membuka sajadahnya, karena sajadahnya ditumpuk oleh sajadah yang lebar. Itu berjalan sampai akhir sholat. Bahkan, pada saat sholat wajib juga, kejadian-kejadian itu beberapa kali terihat di beberapa masjid. Orang lebih memilih menjadi di atas, ketimbang menerima di bawah. Di atas sajadah, orang sudah berebut kekuasaan atas lainnya. Siapa yang memiliki sajadah lebar, maka, ia akan meletakkan sajadahnya diatas sajadah yang kecil. Sajadah sudah dijadikan Iblis sebagai pembedaan kelas.

Pemilik sajadah lebar, diindentikan sebagai para pemilik kekayaan, yang setiap saat harus lebih di atas dari pada yang lain. Dan pemilik sajadah kecil, adalah kelas bawah yang setiap saat akan selalu menjadi sub-ordinat dari orang yang berkuasa.

Di atas sajadah, Iblis telah mengajari orang supaya selalu menguasai orang lain.
"Astaghfirullahal adziiiim ", ujar sang Kiai pelan.


Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Cara Bikin Blog Cantik dan Dinamis
@ Kumpulan Tutorial Blog Lengkap
@ Kumpulan Dongeng Anak
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog

Kultum: “Penyakit” Sebuah Pesan Dari Allah Untuk Manusia.

Dalam kehidupan sehari-hari sering kita temui orang yang menderita suatu penyakit menahun seperti jantung, kanker, darah tinggi dan sebagainya berusaha berobat ke sana kemari demi mendapatkan kesembuhan. Ada kalanya sebagian dari mereka sadar bahwa musibah tersebut adalah pemberian dari Allah dan kemudian bersabar dan bertawakal kepada Allah kemudian akhirnya Allah bimbing kepada suatu jalan keluar yang menjadi sebab kesembuhan penyakitnya. Bahkan ada yang sembuh dari penyakit-penyakit tersebut hanya dengan memperbanyak sodaqah, mendirikan shalat malam atau melakukan ibadah-ibadah yang selama ini tidak pernah mereka kerjakan.
Hal itu bisa terjadi karena bagi orang mukmin musibah yang menimpa adalah ujian dari Allah yang dimaksudkan untuk meningkatkan derajatnya atau untuk menjadi kiparat atas dosa yang pernah dibuatnya.
Rasulullah bersabda: “Tidaklah seorang mukmin ditimpa sebuah kesedihan, nestapa, bencana, derita, penyakit, hingga duri yang mengenai dirinya, kecuali Allah, dengannya akan mengampuni kesalahan-kesalahannya.” Tentu saja ini bagi orang yang bersabar, yang mengharapkan ridha Allah dan sadar bahwa dirinya sedang berhadapan dengan Yang Maha Tunggal dan Maha Pemberi.

Sementara sebagian yang lain hanya mengandalkan akalnya dengan terus berobat ke sana kemari dan kemudian mereka terjebak pada keadaan di mana mereka harus selalu mengeluarkan uang untuk beli obat agar tubuhnya terasa sehat, tensinya terkendali, gula darahnya dalam batas normal, kolesterolnya tidak melewati ambang batas dan lain sebagainya. Mereka rela mengeluarkan uang dalam jumlah besar bahkan berobat sampai ke luar negeri demi untuk mendapatkan kesembuhan, padahal kalau untuk menolong orang lain, uang sepeser pun sulit untuk mereka berikan, kalupun diberikan, pemberian diikuti dengan perkataan yang menyakitkan. Sungguh mereka lupa bahwa jiwa mereka berada di tangan Allah yang Maha kuasa atas segala sesuatu. Mereka sungguh ketakutan bahwa sakit yang mereka derita akan membawa kepada kematian yang datang tiba-tiba, padahal umur manusia sudah ditentukan oleh Allah ketika mereka masih di dalam perut ibunya seperti hadits yang diriwayatkan oleh Anas r.a. bahwa Nabi saw. bersabda : Sesungguhnya Allah azza wa jalla memerintah Malaikat menjaga rahim, maka ia tanya: Ya Rabbi, masih berupa nuthfah (mani), ya Rabbi sudah berupa alaqah (darah beku), ya Rabbi berupa mudhghah (segumpal daging), maka apabila akan dijadikan, ditanyakan laki-laki atau wanita, nasib baik atau jelek, apakah rezekinya, ajalnya. Maka tulis semuanya ketika berada dalam perut ibunya. (Bukhari, Muslim).

Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; Maka apabila Telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya. (QS. Al A’raaf : 34)

Saat ini manusia banyak yang mengagung-agungkan ilmu pengetahuan, bahkan menjadikan ilmu pengetahuan sebagai ”Tuhan” mereka. Mereka berpendapat bahwa segala persoalan hanya bisa selesai dengan ilmu pengetahuan padahal akan tiba saatnya di mana ilmu pengetahuan tidak dapat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Ada kisah nyata di mana seorang pasien darah tinggi berobat kepada dokter ahli jantung dan pembuluh darah. Dokter itu meyarankan agar si pasien melakukan tes laboratorium untuk mengetahui kadar kolesterol, gula darah, koagulasi, ureum dan kreatinin untuk mengetahui apakah ginjal masih berfungsi baik atau tidak. Selain itu si pasien juga disarankan untuk melakukan USG ginjal dan jantung serta menjalani tes treadmill untuk mengetahui kondisi jantung si pasien. Dari serangkaian tes itu ternyata keadaan si pasien baik-baik saja akan tetapi tensinya tetap tinggi. Mengetahui semua hasilnya baik si pasien bertanya kepada sang dokter,”saya kenapa dok?”. Si dokter pun menjawab ”tidak tahu, kita sudah melakukan semua tes dan tidak ditemukan ada kondisi yang mengkhawatirkan” lalu si pasien bertanya lagi ”kenapa tensi saya bisa tinggi” sang dokter menjawab ”ya, pembuluh darahnya aja maunya begitu. Sudah anda minum saja obat penurun tensi seumur hidup.” Sepulangnya dari dokter tersebut si pasien kemudian terpaksa minum obat setiap hari untuk menjaga agar tekanan darahnya tetap normal. Seiring perjalanan waktu si pasien pun kemudian menyadari bahwa segala persoalannya harus dikembalikan kepada Sang Pemilik segala urusan yaitu Allah. Puasa sunah Senin Kamis, sodaqah dan sholat malam pun dijalaninya, dan akhirnya tekanan darahnya pun terkendali tanpa harus minum obat dokter dengan izin Allah.
Dalam kasus tersebut, dalam memecahkan suatu masalah, manusia sering hanya mengandalkan akalnya. Ketika tekanan darah seseorang naik, dokter menyelidiki penyebabnya apakah karena kolesterol atau gula darahnya tinggi, atau fungsi ginjalnya terganggu kemudian dokter memberikan resep untuk mengatasi masalah tersebut. Ketika penyakitnya tidak juga sembuh dokter terus menyelidiki penyebab dari kondisi yang yang dianggap sebagai masalah kemudian menulis resep, sampai tiba pada titik tertentu misalnya fungsi ginjalnya tidak berfungsi dokter tidak dapat lagi mengidentifikasi penyebab dari akar permasalahan timbulnya penyakit si pasien dan biasanya dokter menyarankan untuk tranplantasi ginjal. Itulah yang disebut dengan causa prima yaitu ketika manusia terus bertanya tentang sebab primer dari suatu kejadian yang ada di muka bumi ini, maka kesadaran yang benar akan membawa manusia pada kesimpulan bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan. Maka tidak jarang kita menemukan seseorang yang menderita suatu penyakit yang menurut vonis dokter sudah sangat kronis dan tidak mungkin diobati namun dapat sembuh dengan cara yang kadang-kadang tidak bisa dijelaskan dengan ilmu kedokteran yang paling modern sekalipun.
Oleh karena itu, ketika manusia sadar bahwa masalah sebenarnya di balik semua keadaan yang terjadi pada dirinya adalah karena dia menyimpang dari jalur Ilahi, maka obat dari penyakit sebenarnya adalah kembali kepada jalan yang lurus yang telah digariskan oleh Allah. Maka tak heran jika hanya dengan beristigfar, kemudian memperbaiki diri dengan memperbanyak amalan seperti sadaqah atau shalat malam, maka penyakit yang di deritanya bisa sembuh tanpa obat dari dokter.

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangannya sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (QS. Asy-Syura:30).

Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, Maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, Maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu. (QS. Al An’am : 17)


Kita sering melihat fenomena bahwa untuk penyakit yang sama, ada orang yang sembuh dengan obat herbal yang bisa di dapat dengan harga murah, ada juga yang sembuh dengan obat yang harganya murah (generik), ada juga yang baru bisa sembuh kalau dengan obat paten. Ada seseorang yang divonis oleh dokter mengalami gagal ginjal dan harus melakukan cuci darah, namun sebelum berangkat haji orang tersebut berikhtiyar dengan minum jus kurma+kismis+air zam dan alhasil penyakitnya sembuh dan dapat menjalankan ibadah haji tanpa halangan. Itu semua karena segala sesuatu hanya terjadi jika Allah mengizinkan sesuatu itu terjadi dan hal tersebut berhubungan dengan spiritual (spirit = roh) seseorang atau menurut pendapat pandangan psikologi islam karena roh adalah pusat orientasi dari berfungsinya jiwa, akal, raga, atau perilaku dan roh menjadi media penghubung antara Sang Pencipta dan makhluknya. Roh pada manusia – memerankan fungsi istimewa – melampaui fungsi raga, akal dan jiwa, dalam melakukan dialog dengan Allah sang pencipta.

Dan, barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit. (QS. Thaha:124).

Dan bahwasannya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak). (QS. Al-Jin:16).

Pada dasamya sifat asal manusia adalah baik dan selalu ingin kembali kepada Kebenaran Sejati (Allah). Namun, ketika potensi luhur itu tidak dikelola dengan baik, manusia terjerembap dalam kegelapan yang destruktif. Jadi segala bentuk perilaku menyimpang sebenarnya akibat dari tidak berfungsi secara maksimalnya potensi luhur manusia tersebut. Sifat asli manusia yang pada dasarnya baik dan dalam psikologi Islam disebut sebagai fitrah.

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku Ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)", (QS. Al A’raaf :172)

Menurut Prof. Dr. Achmad Mubarok, M.A. dalam menyelesaikan persoalan seyogyanya manusia mengandalkan Kecerdasan Spiritual (SQ). Kecerdasan tersebut ditandai dengan kemampuan memandang masalah secara batin sebagai lawan dari pandanqan mata kepala. Jika pandangan mata kepala terhalang sekat ruang dan waktu. Orang yang memiliki kecerdasan spitual bukan saja bisa melihat hal-hal di balik ruang tetapi juga bisa berkomunikasi dengan siapa saja di masa lalu dan yang akan akan bermain di masa depan.
Demikianlah, segala persoalan yang terjadi sebenarnya sudah Allah tetapkan bahkan sebelum manusia itu diciptakan. Oleh karena itu seyogyanya manusia mengembalikan segalanya hanya kepada Allah dengan tetap berikhtiyar karena hal tersebut adalah hikmah yang Allah tetapkan karena Allah itu Maha Bijaksana (Hakiim) yang mempertautkan sebab-sebab dengan akibat-akibatnya. Manusia dilarang hanya bersandar kepada cara yang ditempuh karena akan menyebabkan tawakalnya kepada Allah semakin berkurang. Hal ini membuatnya secara tidak langsung mencela kekuasaan Allah untuk bisa mengatasi segala problema. Yaitu tatkala seorang hamba menjadikan seolah-olah hanya cara itulah yang menjadi inti keberhasilan, agar apa yang diinginkan tercapai dan apa yang tidak disukai hilang (baca juga ”bertawakallah jika engkau beriman”).

Sumber: Blogdakwahislam.blogspot.com

Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Cara Bikin Blog Cantik dan Dinamis
@ Kumpulan Tutorial Blog Lengkap
@ Kumpulan Dongeng Anak
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog

Betapa Allah Sayang Terhadap Wanita



Banyak wanita yang mengatakan bahwa betapa susah menjadi wanita, lihat saja aturan-aturannya :
1. Wanita auratnya lebih susah di jaga di banding lelaki.
2.Wanita perlu minta ijin dari suami apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya.
3.Wanita saksinya (apabila bersaksi) kurang kuat di banding lelaki
4. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki.
5. Wanita menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak.
6. Wanita wajib taat kepada suaminya sementara suami tidak perlu taat kepada istri.
7. Talak terletak di tangan suami dan bukan istri.


8. Wanita kurang nyaman dalam beribadat karena adanya masa haid dan nifas
9. dll, etc, dst...

Tetapi, tahukah wahai saudariku...Kenyataan yang sebenarnya adalah.... :

1. Benda yang mahal harganya akan di jaga dengan 'superketat' dan di simpan ditempat yang teraman dan terbaik. Sudah pasti itulah intan permata perumpamaan untuk seorang wanita.
2. Wanita perlu taat kepada suami, tetapi tahukah....lelaki lebih wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama daripada kepada ayahnya...?
3. Wanita menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki, tetapi tahukah..... bahwa harta itu akan menjadi miliknya dan tidak perlu diserahkan kepada suami. Sementara suami apabila menerima warisan ia wajib juga menggunakan hartanya untuk istri dan anak-anaknya...?
4. Wanita bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, tetapi tahukah.......bahwa setiap saat dia di doakan oleh seluruh makhluk, malaikat dan seluruh makhluk Allah di muka bumi ini, dan tahukah jika ia meninggal karena melahirkan adalah syahid dan surga menantinya...?
5. Di akhirat kelak, seorang lelaki akan diminta tanggung jawabnya terhadap 4 wanita ; istrinya, ibunya, anak perempuannya, dan saudara perempuannya. Artinya, bagi seorang wanita tanggung jawab terhadapnya ditanggung oleh 4 orang lelaki, suaminya, ayahnya, anak lelakinya, dan saudara lelakinya.

6. Seorang wanita boleh memasuki surga melalui pintu mana yang disukainya cukup dengan 4 syarat saja yaitu; sholat 5 waktu, puasa di bulan ramadhan, taat kepada suaminya dan menjaga kehormatannya.
7. Seorang lelaki wajib berjihad di jalan Allah sementara bagi wanita jika taat kepada suami serta menunaikan tanggung jawabnya kepada Allah SWT, maka ia akan menerima pahala setara seperti pahala orang yang pergi berjihad di jalan Allah tanpa perlu mengangkat senjata.....?

Masya Allah.....demikian sayangnya Allah SWT kepada wanita...

Maka..nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan......(Q.S. Ar-Rahman)

Dan, akhirnya semoga shalawat serta salam dilimpahkan kepada Nabi kita, Muhammad saw dan seluruh para nabi yang telah mendahuluinya. Dan segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Sumber: www.griya-anita.blogspot.com

Anda Mendapat 1 Pesan

Buka Pesan Sekarang

Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Cara Bikin Blog Cantik dan Dinamis
@ Kumpulan Tutorial Blog Lengkap
@ Kumpulan Dongeng Anak
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog

Kultum: Bertawakallah Jika Engkau Beriman

“Dan bertawakallah hanya kepada Alloh jika engkau beriman.” (QS Al Maaidah: 23)

Tawakal adalah bersandar kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala dalam rangka meraih apa yang diinginkan dan menolak hal-hal yang tidak disukai dengan dilandasi rasa percaya sepenuhnya kepada Alloh, serta dengan menempuh cara-cara yang diperbolehkan oleh syariat dalam rangka mewujudkannya. Untuk bisa mewujudkannya diperlukan dua hal, yaitu:
1. Bersandar kepada Alloh dengan sungguh-sungguh. 2. Menempuh cara-cara yang diperbolehkan untuk melaksanakan keinginannya.Barang siapa yang terlalu banyak bersandar kepada cara yang ditempuh maka tawakalnya kepada Alloh semakin berkurang. Sehingga hal ini membuatnya secara tidak langsung mencela kekuasaan Alloh untuk bisa mengatasi segala problema. Yaitu tatkala seorang hamba menjadikan seolah-olah hanya cara itulah yang menjadi inti keberhasilan, agar apa yang diinginkan tercapai dan apa yang tidak disukai hilang. Dan barang siapa yang membuat tawakalnya kepada Alloh menyebabkan dirinya melalaikan cara maka sesungguhnya ia telah mencela hikmah Alloh. Karena Alloh menciptakan segala sesuatu memiliki sebab musabab. Sehingga orang yang semata-mata bersandar kepada Alloh tanpa mau menjalani sebab maka tindakan tersebut merupakan bentuk celaan terhadap hikmah yang Alloh tetapkan. Padahal Alloh itu Maha Bijaksana (Hakiim) yang mempertautkan sebab-sebab dengan akibat-akibatnya. Seperti contohnya orang yang menyandarkan dirinya kepada Alloh demi mendapatkan anak tapi tidak mau menikah.

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling hebat tawakalnya. Meskipun demikian beliau juga tetap menjalani sebab. Beliau membawa perbekalan apabila hendak bepergian. Begitu pula tatkala berangkat ke peperangan Uhud beliau mengenakan dua lapis baju perang (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah). Demikian juga ketika berangkat untuk berhijrah beliau juga memilih orang sebagai penunjuk jalan (HR. Bukhari) dan beliau tidaklah mengucapkan, “Saya mau berangkat berhijrah dan akan bersandar kepada Alloh, tanpa mencari teman untuk menunjukkan jalan bersamaku”. Dan beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam juga menjaga tubuhnya dari sengatan panas dan dinginnya cuaca. Dan tidaklah itu semua mengurangi tawakal yang ada pada diri beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Ada sebuah kisah yang menceritakan bahwa di masa Umar rodhiallohu ‘anhu pernah ada sekelompok orang Yaman yang berangkat haji tanpa membawa perbekalan. Maka mereka pun dipanggil untuk menghadap Umar. Kemudian Umar menanyai mereka. Mereka mengatakan, “Kami adalah orang-orang yang bertawakal kepada Alloh”. Maka Umar menimpali, “Kalian bukan termasuk orang yang bertawakal. Tetapi kalian adalah orang yang pura-pura tawakal”.
Tawakal merupakan setengah dari agama Islam. Oleh sebab itulah kita senantiasa mengucapkan doa di dalam sholat kita, “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin”. Hanya kepada Engkau kami beribadah dan hanya kepada Engkau kami meminta pertolongan. Kita meminta pertolongan kepada Alloh karena kita bersandar kepada-Nya, karena kita yakin hanya Dialah yang mampu membantu kita dalam upaya beribadah kepada-Nya. Alloh ta’ala juga memerintahkan,


“Maka sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya.” (QS Huud: 123)
Alloh juga membawakan perkataan salah seorang Nabi-Nya,


“Hanya kepada-Nya lah aku bertawakal dan kembali taat.” (QS Huud: 88)
Dan tidak mungkin ibadah terwujud tanpa adanya tawakal. Karena apabila seorang manusia dibiarkan untuk mengurusi dirinya sendiri dan ditelantarkan maka sesungguhnya dia telah disandarkan kepada sifat kelemahan dan ketidakmampuan. Sehingga dia tidak akan bisa tegar menjalani ibadah.
Apabila seorang hamba beribadah kepada Alloh dengan disertai perasaan sedang bersandar dan bertawakal kepada Alloh maka sesungguhnya dia akan mendapatkan pahala atas ibadahnya tersebut dan pahala atas tawakalnya. Akan tetapi fenomena yang banyak menimpa kita adalah terlalu lemahnya tawakal. Sehingga apabila beribadah atau menjalani kebiasaan kita tidak merasa sedang bersandar dan bergantung kepada Alloh sehingga perbuatan kita itu bisa terlaksana. Bahkan sebagian besar dari kita biasanya terlalu mengandalkan cara dan sebab lahiriah, dan lupa terhadap apa yang ada dibalik itu semua. Maka hilanglah pahala yang sangat besar dari kita, yaitu pahala bertawakal. Demikian pula halnya tatkala kita tidak mendapatkan taufik untuk bisa meraih keinginan dan menghindar dari sesuatu yang tidak kita inginkan. Baik hal itu terjadi karena adanya penghalang yang membuat keinginan kita itu tidak terwujud sama sekali atau berkurang nilainya. Maka kita pun lupa untuk kembali menyandarkannya kepada Alloh Ta’ala.

Macam-Macam Tawakal
Tawakal itu ada tiga macam:
(1) Tawakal ibadah dan ketundukan.
(2) Bergantung kepada seseorang dalam masalah rezeki dan urusan dunia lainnya.
(3) Menyerahkan urusan kepada seseorang yang dia percayai.
Pertama: Bertawakal yang dinilai ibadah dan ketundukan.
Yaitu bergantung sepenuhnya kepada sesuatu yang disandari. Sehingga di dalam hatinya terdapat keyakinan bahwasanya di tangan sesuatu itulah kekuasaan untuk mendatangkan kemanfaatan dan menolak mudharat. Keyakinan inilah yang mendorongnya untuk bertawakal kepadanya dengan sepenuh hati. Maka tawakal yang seperti ini hanya diperbolehkan ditujukan kepada Alloh ta’ala. Barang siapa yang memalingkannya kepada selain Alloh maka dia adalah musyrik dengan kategori syirik akbar. Sebagaimana yang terjadi pada orang-orang yang bergantung kepada orang-orang shalih yang sudah mati atau yang tidak hadir (tidak bisa berkomunikasi dengannya). Hal semacam ini tidak mungkin terjadi tanpa adanya keyakinan bahwa mereka itu memiliki kemampuan tersembunyi untuk turut campur dalam mengatur perjalanan kejadian di alam semesta, sehingga adanya keyakinan itu membuat mereka bergantung dan bersandar kepada mereka (orang-orang shalih atau wali) demi mencapai manfaat dan menolak bahaya. Kesimpulannya tawakal jenis pertama ini syirik akbar jika ditujukan kepada selain Alloh.

Kedua: Bergantung kepada seseorang dalam masalah rezeki dan urusan dunia lainnya.
Yang semacam ini tergolong perbuatan syirik ashghar (syirik kecil). Ada pula ulama yang mengatakan bahwa ia termasuk jenis syirik khafi (syirik yang samar-samar). Seperti contohnya kebanyakan orang yang terlalu menyandarkan hatinya terhadap mata pencaharian yang digelutinya dalam rangka mendapatkan rezeki. Sehingga anda akan bisa menemukan keadaan orang semacam ini merasa bahwasanya dirinya sangat bersandar dan begitu membutuhkan bos, direktur, majikan atau juragan yang mempekerjakannya dan dia meyakini bahwasanya mereka itu bukan sekedar sebagai sebab datangnya rezeki saja, akan tetapi lebih dari itu. Kesimpulannya tawakal jenis kedua ini adalah syirik ashgar. Dan dosa syirik ashghar itu lebih berat jenisnya daripada dosa maksiat.

Ketiga: Mewakilkan kepada orang lain dalam melaksanakan sesuatu keperluan.
Seperti meminta orang lain untuk membelikan suatu barang, maka yang seperti ini tidak mengapa. Karena pada hakikatnya dia hanya sekedar menyerahkan urusan kepada orang lain dalam keadaan dia berada di posisi yang lebih tinggi dari orang yang dimintai tolong, sehingga ia pun menjadikan orang lain itu sebagai wakil darinya. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tatkala menunjuk Ali bin Abi Thalib rodhiallohu ’anhu untuk menyembelih sisa hewan kurban beliau (HR. Muslim), begitu pula ketika beliau mewakilkan pengurusan sedekah/zakat kepada Abu Hurairah (HR. Bukhari secara mu’allaq) dan contoh yang lainnya. Sehingga kesimpulannya tawakal semacam ini atau disebut juga tindakan mewakilkan adalah perbuatan yang boleh-boleh saja dilakukan.
Di dalam ayat di atas Alloh mewajibkan kita untuk bertawakal hanya kepada-Nya. Yaitu pada tawakal jenis yang pertama dan kedua. Ayat di atas juga menunjukkan bahwasanya tawakal merupakan salah satu konsekuensi atau syarat keimanan. Karena di dalam ayat tersebut Alloh berfirman yang artinya, “…bertawakallah kepada Alloh jika kalian benar-benar beriman.”
Dengan demikian orang yang bertawakal kepada selain Alloh maka dia berada dalam salah satu di antara dua keadaan:
Pertama, kehilangan kesempurnaan iman yang hukumnya wajib ada, karena terjerumus dalam syirik ashghar.
Kedua, atau dia telah kehilangan seluruh keimanan, karena terjerumus dalam syirik akbar. Wallohul musta’aan. (disadur dari Al-Qaulul Mufid, 2/28-30)



Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Cara Bikin Blog Cantik dan Dinamis
@ Kumpulan Tutorial Blog Lengkap
@ Kumpulan Dongeng Anak
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog